Sunday, March 3, 2024
HomeGagasanAnies dan Totalitas Aktivis Otentik (1 dari 2)

Anies dan Totalitas Aktivis Otentik (1 dari 2)

Indra J Piliang cakrawarta

Bagaimana saya memandang sosok Anies Rasyid Baswedan? Saya selalu menganggapnya serius. Kala Anies mencoba bersikap lebih humoris, tetap saja yang tampak wajah serius. Jarak hati dan otaknya agak jauh, di tubuhnya yang jangkung, sehingga pikiran tak selalu berhasil membentuk isi hati. Ia tidak seperti Napoleon Bonaparte yang tubuhnya lebih pendek. Saya ingat perkataan Rektor Universitas Indonesia (UI), dulu, almarhum Profesor Sujudi. Setiap kali ia bicara, pendengarnya dibuat terkekeh-kekeh. Profesor Sujudi memuji orang-orang pendek – tentu termasuk dirinya –: “Orang pendek itu jarak hati dan otaknya dekat, makanya pintar.”

Ah, apa benar Napoleon Bonaparte adalah pribadi yang juga humoris? Dari sejumlah kisah perangnya, terlihat Napoleon seperti “becanda” dengan hidup dan mati. Pun sebelum ia dibuang ke pulau. Yang hadir bukan seperti kisah perang dalam naskah-naskah kuno di Nusantara, seperti penggalan “darah yang menganak sungai.” Begitu juga punakawan Petruk dan Gareng tak kalah lucu dibandingkan dengan Bagong atau Sang Guru: Semar. Barangkali hanya Eddy Sud yang kesulitan membuat para penonton layar hitam putih TVRI cekikikan, sekalipun Jujuk sudah dihadirkan. Mungkin karena sosok Eddy Sud yang juga tinggi.

Anies terlihat rapi, tertata dan tertib. Foto yang terpampang di dinding bus yang membawanya “Turun Tangan” ke se-antero Pulau Jawa bicara banyak. Kemeja putih Anies tidak digulung sampai ke lengan. Setengah-setengah, seperti kebanyakan orang-orang yang bekerja dengan pulpen dan pikiran. Deng Xio Ping dalam revolusi kebudayaan di China malahan menyingkirkan kelas cendekiawan seperti Anies. Mereka yang bergelar profesor ataupun doktor yang berjidat licin, sudah pasti digiring ke area-area pertanian. Pulpen digantikan dengan cangkul. Laboratprium dan pusat-pusat riset ditinggalkan.

Toh cukup banyak kaum kaum cendekiawan dari kalangan seniman yang keluar mainstream. Anies tak hendak menyontoh. Ia persis seperti saat saya awal mula bekerja di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) sebagai staf peneliti bidang politik dan perubahan sosial, yakni tiap pagi menggunakan dasi. Bahkan setelah lumayan lama berjejak di lumpur dan rawa-rawa politik, tetap saja saya bertemu Anies yang menggunakan dasi rapi ala salesman itu. Mana ada kancing baju kemejanya terbuka, seperti sosok Rhoma Irama atau Aburizal Bakrie. Jangan-jangan untuk tertawapun Anies berpikir dulu. Saya sedikit manusia yang beruntung, mengingat lebih sering melihat Anies terkekeh-kekeh dengan kolega-kolega kami.

Guna mendapatkan data yang lebih otoritatif, saya mengacak-acak inbox sejumlah email yang saya punya. Ya, saya lagi mencari email yang pernah dikirimkan Anies kepada saya. Tidak ketemu. Saya hanya bersua emailnya di milis KAHMI PRO. Ya, Anies dulu mengirim email ke indrap…@csis.or.id. Saya resmi mengundurkan diri dari CSIS sejak tanggal 1 Januari 2009, setelah masuk pada tanggal 1 Desember 2000. Saya berkiriman email dengan Anies yang waktu itu kuliah di Northern Illinois University, Amerika Serikat (AS). Ia mau mondok di Indonesia, menyelesaikan disertasinya. Diluar itu, kami berinteraksi di milis KAHMI PRO.

Anies tak lupa mengirimkan sebuah buku kepada saya, lengkap dengan tanda-tangan pribadinya, dari kampusnya yang jauh itu. Buku tentang peran AS dalam globalisasi, kalau tidak salah. Hehehe, Anies sepertinya ingin “menyentil” saya juga tentang dunia di luar sana, di luar Indonesia. Saya memang sudah lama mengambil keputusan: tak hendak berangkat keluar negeri. Saya tak ingin ibu saya gelisah, mengingat luar negeri bagi ibu saya adalah planet yang berbeda. “Kalau ibu rindu, bagaimana?” begitu kata ibu saya.

Kolonialisme

Sejak ke Jakarta tahun 1991, saya menulis catatan harian. Beberapa bulan saya tulis dalam bahasa Inggris. Namun, sejak terprovokasi senior di Universitas Indonesia bahwa bahasa Inggris itu adalah bahasa kolonial, saya mulai menulis catatan harian dalam bahasa Indonesia. Ya, inilah satu “kesalahan” saya dalam hidup yang saya tidak sesali. Sekalipun pernah juara dalam lomba bahasa Inggris kala SMA, saya tak juga ingin menulis dalam bahasa Inggris yang rapi guna menjangkau dunia.

Demi kata “kolonialisme” itu, saya dengan berani menolak tawaran beasiswa ke AS. Ada kawan saya berkebangsaan AS yang mengurus, sampai dokumen-dokumennya. Mahasiswi AS ini saya bantu ketika melakukan penelitian di Indonesia. Balasannya, dia urus kuliah saya di AS. Ketika dokumen itu saya bawa ke ayah dan ibu saya, satu hal langsung muncul: “Ya ya, kamu anak pertama dan satu-satunya yang kuliah. Kalau kamu kuliah lagi, bagaimana adik-adik kamu?” Ya, sudah, saya paling gentar menghadapi tangis ayah dan ibu saya. Tapi kata “kolonialisme” itulah yang lebih menguatkan penolakan saya atas beasiswa itu.

Dengan perspektif “kolonial” itu saya melihat kiprah lulusan-lulusan luar negeri, terutama asal AS. Saya bersikap kritis, bahkan sinis, terhadap mereka. Apa yang mereka tahu tentang Indonesia, ketika rata-rata lima tahun mereka habiskan di luar negeri? Sementara masalah-masalah di Indonesia datang setiap hari. Dalam jangka lima tahun terjadi perubahan demi perubahan. Kalau hanya soal literatur, di Indonesia juga dengan mudah didapatkan buku-buku karangan ilmuwan asing, baik lewat karya terjemahan atau yang diangkut oleh orang Indonesia sendiri dari pelbagai kampus dan perpustakaan di dunia.

Dalam konteks ini juga saya memandang Anies. Saya bandingkan dengan Andi Alifian Mallarangeng, Denny JA, Rizal Mallarangeng dan Saiful Mujani. Tentu banyak yang lain, tetapi mereka berempat adalah sosok yang menyandang gelar PhD, masuk ke lingkungan dan lingkaran (diskusi) politik di Indonesia, baik di layar televisi, seminar, riset, maupun media cetak dan elektronik lainnya. Anies masuk dalam radar “pengamatan” saya tentang apa yang ia perbuat di bumi Nusantara ini. Saya selalu ingin tahu apa yang mereka katakan, pikirkan dan lakukan, apakah sama atau berbeda dengan saya. Soalnya, sejak jadi aktivis mahasiswa di UI, saya sering berkeliling Indonesia, masuk ke pelbagai kampus dan daerah dalam acara-acara akademik dan non akademik.

Andi kita tahu, pernah rajin menulis di VivaNews dari balik jeruji penjara. Denny JA “ditasbihkan” sebagai satu dari 33 sastrawan Indonesia paling berpengaruh sejak awal abad ke 20. Saiful mendirikan lembaga konsultan politik. Rizal pernah jadi atasan saya di DPP Partai Golkar, walau jarang bertemu, akibat kesibukan masing-masing. Lalu, kini, muncul Anies, salah seorang yang ada di layar utama sosok intelektual kampus lulusan luar negeri. Berbeda dengan saya dan Anas Urbaningrum yang hanya lulusan kampus dalam negeri.

Dibanding empat nama tadi, saya mengenal Anies secara pribadi lebih dahulu. Tepatnya tahun 1993 di kampus Universitas Brawijaya (Unibraw), Malang. Saya datang bersama Bagus Hendraning (sekarang diplomat), Feri Samad (sekarang lawyer) dan Fadli Zon (sekarang Wakil Ketua Umum Partai Gerindra dan Wakil Ketua DPR RI). Kami menginap di asrama mahasiswa Unibraw, bertemu dengan Elan Satriawan (kini profesor di UGM), Andi Soebijakto (kini pengurus PPI dan Partai Hanura), dan lain-lain. Kami makan jagung di Batu, kawasan yang dingin, malam-malam. Tahun 1993 itu masih banyak diskusi soal organisasi mahasiswa intra kampus. Sejak dicabutnya Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK), mahasiswa lebih aktif berorganisasi. UI, IPB, Unibraw dan UGM termasuk yang menerima format Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT), ketimbang ITB yang menolaknya.

(bersambung)

INDRA J PILIANG

Direktur Sang Gerilya Institute

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular