Kritik Marx Atas Runtuhnya Legitimasi Budaya Program MBG

(foto dibuat oleh penulis dengan bantuan AI tentang Karl Marx mendatangi sebuah sekolah yang menyajikan makanan bergizi gratis)

“Tidak ada yang memiliki nilai tanpa menjadi objek utilitas.“ — Karl Marx(1818-1883), Das Kapital.

Ingin melihat Marx ngamen filsafat kritis, datanglah ke Cina. Bukan dengan fakta. Tapi, fiksi.

Fiksinya, simak dari protagonis otentik yaitu Shen Te. Sementara yang identik adalah Shui Ta.

Kedua protagonis ini dipakai Bertolt Brecht sebagai metafora konflik antara sosialis dan kapitalis.

Shen Te, sosialis dan Shui Ta, kapitalis dalam dramanya yaitu Der Gute Mensch von Setzuan.

Pada 1976, drama ini dipentaskan Teater Populer. Disutradarai Slamet Rahardjo. Naskah terjemahannya berjudul Tuti Indra Malaon: Perempuan Pilihan Dewa.

Meski Karl Marx tak punya teori budaya secara resmi, kritik filsafat materialisme kulturalnya bisa disimak, di antaranya lewat Georg Lukacs, Chernyshevsky, Alain Badiou maupun Pierre Bourdie.

Dengan Brecht, pandangilah pesona Shen Te dan kejinya, Shui Ta yang dalam tafsir Marx sebagai dasar teori modalitas budaya untuk memahami sejarah dan politik versi neokolim, nasakom, sosialisme baru dari versi literasi Paradoks Indonesia.

Tafsir ini, membaca kritik kebudayaan Marx dengan moda produksi teater Brecht, menunjukkan bahwa memahami secara kritis sebuah teks atau praktik budaya, ajukan pleidoi historisitas dalam kaitannya dengan kondisi ekonomi politik.

Fakfiksasinya di Indonesia misalnya Danantara, Kopdes, Hematisasi, Hilirisasi, Bank Emas, Rewrite Historiografi, Neomiliterisme, Haji Isamisme hingga yang paling mengguncang adalah Program MBG.

Prediksi penulis yang akan menyusul seperti MBG ini adalah Kopdes dan Danantara.

Ketika tampil sebagai tokoh sosialis, Shen Te otentik sebagai pelacur. Jika jadi Shui Ta, ia lelaki yang mengurus bisnis kekuarga dan sangat galak.

Shen Te dan Shui Ta, representasi dari ekonomi politik: dikotomis, kontraproduktif sekaligus paradoks dari iklim fakfiksisasi di atas.

Suatu ketika Marx mendengar ocehan gurunya, “Hegel pernah mengatakan di suatu tempat bahwa semua fakta dan tokoh sejarah dunia yang hebat muncul, bisa dikatakan, dua kali. Ia pun lupa menambahkan, ” Pertama kali sebagai tragedi. Kedua kali sebagai komedi.“

Kelak Marx menafsir ocehan sang guru itu, Fichte atau mungkin Schelling, antara tragedi dan komedi, setiap periode penting dalam sejarah dibangun di sekitar ‘cara produksi’ tertentu sebagai kulturalisme.

Dengan pikiran ini, cara masyarakat diorganisasikan, misalnya perbudakan, PMI, feodalis, kapitalis, sosialis, oligarki dan lainnya, ditujukan untuk menghasilkan ketergantungan atas kebutuhan material kehidupan. Bukan spiritual, tentunya.

Bajak, pacul, sekop, rumah, gedung kantor, pabrik, traktor, kafe, konsumsi, parfum, mobil, tisu toilet hingga, terutama gizi gratis, sebagai hasil alat produksi dan buruh, akan berkembang dari cara reproduksi budaya materialisme bekerja.

Tiap cara produksi menghasilkan secara khusus untuk memperoleh kebutuhan hidup, relasi sosial antara pekerja dan mereka yang mengendalikan cara produksi baik proletar dan kapitalis, merupakan reproduksi kelembagaan budaya. Cultural field, kata Bourdieu.

Inti dari analisis kecik ini diklaim sebagai cara masyarakat menghasilkan sarana penghidupan mereka. Fasos, fasum, publik maupun privat.

Selanjutnya, determinasi penguasaan alat-alat produksi ini sangat menentukan bentuk politik, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat dalam prediksi perkembangannya di masa depan.

Tesis Marx adalah “Cara produksi kehidupan material mengkondisikan proses kehidupan sosial, politik, dan intelektual secara umum.” Klaim tesis ini didasarkan pada asumsi tertentu tentang hubungan antara struktur dasar dan atas.

Pada hubungan inilah yakni struktur dasar dan atas; modal dan alat, penjelasan Marx tentang teori budayanya bertumpu. Karena itu, ia menulis, “Semakin sedikit Anda makan, minum, membeli buku, pergi ke teater atau ke pesta dansa, atau ke pub, dan semakin sedikit Anda berpikir, mencintai, berteori, bernyanyi, melukis, berdebat, dll.; semakin banyak yang dapat Anda tabung dan semakin besar harta Anda yang tidak akan dirusak oleh ngengat maupun karat -modal Anda. Semakin sedikit, semakin sedikit Anda mengekspresikan hidup Anda, semakin banyak yang Anda miliki, semakin besar kehidupan Anda yang terasing dan semakin besar pula penyelamatan bagi keberadaan Anda yang terasing.“ (Lihat: Economic & Philosophic Manuscript 1844).

Setidaknya, dua teori Marx atas budaya menghasilkan yaitu reifikasi (Verdichlung) dan alienasi (Verfremdung).

Untuk alienasi, Brecht satu-satunya yang paling getol memakai fondasi kultur paradoks dalam hampir seluruh drama dan teaternya. Di antaranya adalah Dreigroschenoper, Der Gute Mensch von Setzuan, Mutter Courage und Ihre Kinder dan Yasager und Neinsager.

Basis teori reproduksi materialisme budaya versi Marx bersumber dari gabungan dan akumulasi ‘kekuatan produksi’ dan ‘hubungan produksi’. Kekuatan produksi mengacu pada bahan mentah, peralatan, teknologi, pekerja dan keterampilan mereka, dan banyak lagi.

Sementara hubungan produksi mengacu pada hubungan kelas dari mereka yang terlibat dalam produksi.

Tesisnya bahwa buruh ditambah produsen sama dengan konsumen (baca: korban). Artinya, setiap cara produksi, selain berbeda, katakanlah, dalam hal basisnya dalam produksi agraria atau industri, juga berbeda dalam hal menghasilkan hubungan produksi fundamental tertentu. Konklusi awal bisa dicermati dari bagaimana moda produksi MBG dikalkulasi dengan nominal di antara fondasi individuasi dan institusi tanpa satupun elemen historisitas.

Dan kritik historisitas materialisme budaya, yang dari perkembangan lainnya, berikut ini penjelasannya:

1. Cara perbudakan menghasilkan hubungan tuan/budak);

2. Cara feodal menghasilkan hubungan tuan/hamba);

3. Cara kapitalis menghasilkan hubungan borjuis/proletariat.

Dan terkini:
4. Cara pemerintah menghasilkan relasi eksploitatif oligarki/publik. Produknya adalah MBG dan Dadan Hindayana dkk.

Dalam arti lain, posisi kelas seseorang ditentukan oleh relasinya dengan cara produksi.

Sekali lagi, Bourdieu menyebut itu, “reproduksi arena budaya.“ Tesisnya mengatakan bahwa modal ditambah habitus sama dengan modus (pangkat dua: oligarki/oligopoli [negara]).

Selama hidupnya di Inggris, Marx menyaksikan munculnya dua bentuk budaya populer baru yang utama, melodrama panggung dan gedung pertunjukan musik.

Analisis lugas tentang melodrama panggung yang merupakan salah satu industri budaya pertama, harus menyatukan fokus pada perubahan dalam cara produksi yang memungkinkan penonton melodrama panggung dan tradisi teater ikut merekayasa bentuknya.

Untuk memahami jenis teater baru ini, kita harus menganggap serius tekstualitasnya. Pada saat yang sama mengakui bahwa bentuk spesifiknya pada dasarnya terkait dengan penonton baru. Tanpa perubahan dramatis (personae) dalam cara produksi, penonton baru ini tidak akan ada. Meski mereduksi teks atau praktik budaya menjadi refleksi sederhana dari cara produksi, kita tetap harus melihatnya secara aktual dan faktual historis.

Dengan kata lain, cara produksi menyediakan fondasi bagi produksi budaya.

Untuk memahami apa yang diklaim Marx dalam metafora arsitektural dan basis superstruktural, perlu dipahami batas-batas dari apa yang dikondisikan. Dalam semua ulasan, khusus Das Kapital, filsafat kebudayaan Marx, bukan melulu kritik filsafat holistik atas kapitalisme.

Namun, modalitas kebudayaan seperti program MBG bisa terjerat pada produk salah kaprah antara niche (bahan) dan pastiche (adonan). Akan tetapi, di antara penganut teori ini, Georg Lukacs, dengan mengulik analisisnya dalam History and Class Consciousness (1932) -khusus perdebatan estetika Ernst Bloch dan Bertolt Brecht- pembacaan atas filsafat modalitas budaya Marx harus mempertimbangan relevansi pemikirannya yang berkelanjutan.

Karena peristiwa politik, dari dan sampai kapan pun, terus mengungkap keretakan dan kerentanan (vulnerability) dalam kapitalisme akhir sebagai sistem global.

Hal ini, setidaknya, bisa diacu dari Fredric Jameson dalam Postmodernism, or, the Cultural Logic of Late Capitalism (1989) atau Legitimationsprobleme im Spätkapitalismus (1975) dari Jürgen Habermas.

Karena itulah, untuk pertanyaan lanjut, apakah konsep totalitas, reifikasi, alienasi, dan metode dialektika Lukacs dari pengaruh Max, memiliki sesuatu untuk ditawarkan dalam memahami dan bertindak atas politik masa kini dan masa depan modalitas budaya? Indikasinya jelas yaitu runtuhnya legitimasi kultural program proletariat MBG.(*)

#coverlagu: Armand Maulana merilis lagu “Makan Bergizi Gratis (MBG)” pada 4 Februari 2026, diproduksi dan ditulis sendiri olehnya. Lagu ini tersedia di platform digital seperti YouTube dan layanan musik resmi.

 

REINER EMYOT OINTOE

Fiksiwan