
Apa jadinya jika generasi muda kita, yang seharusnya menjadi motor penggerak bangsa, justru terpuruk oleh dua musuh tak kasat mata yaitu krisis energi dan malnutrisi. Di satu sisi, tagihan listrik melonjak dan pasokan bahan bakar fosil menipis, menghambat akses pendidikan digital dan industri kreatif. Di sisi lain, piring anak-anak kita kerap hanya berisi nasi putih tanpa lauk bergizi, memicu tengkes (stunting) dan penurunan daya saing. Krisis ganda ini bukan sekadar dua persoalan terpisah; keduanya saling menguatkan dan mengancam masa depan generasi muda secara nyata.
Krisis energi dan malnutrisi kini berjalan beriringan, saling memperkuat seperti racun lambat yang menggerogoti tulang punggung masa depan. Generasi yang semestinya berenergi tinggi justru terpuruk oleh stunting, anemia, dan keterbatasan akses pendidikan akibat pasokan listrik yang tak stabil. Di tengah target Indonesia Emas 2045, kekurangan kalori bukan hanya ancaman kesehatan, melainkan juga bom waktu ekonomi yang dapat menggerus hingga 2%-3% produk domestik bruto setiap tahun melalui hilangnya produktivitas dan daya saing global. Saatnya kita menyadari bahwa ini bukan dua krisis yang berdiri sendiri, melainkan satu persoalan bersama yang menuntut langkah cerdas dan kolektif agar masa depan bangsa tetap bercahaya, bukan layu sebelum mekar.
Krisis energi dan malnutrisi ibarat dua sisi mata uang yang sama-sama menggerogoti vitalitas generasi muda. Ketergantungan pada energi fosil, seperti batu bara dan minyak, memicu inflasi harga pangan karena biaya produksi, pengolahan, dan distribusi meningkat. Di Indonesia, subsidi energi yang terbatas kerap menyulitkan petani mengoperasikan pompa irigasi atau penyimpanan dingin, sehingga hasil panen mudah rusak dan harga beras dapat melonjak 20%-30% saat musim paceklik. Akibatnya, keluarga berpenghasilan rendah terpaksa memilih makanan murah namun rendah gizi, seperti mi instan atau kerupuk, yang justru memperburuk kondisi malnutrisi.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi stunting pada anak balita di Indonesia masih mencapai 21,6% pada 2024, turun dari 24,4% tahun sebelumnya, tetapi tetap berada di atas target SDGs sebesar 14% untuk 2025. Stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan; ia memengaruhi perkembangan otak, menurunkan kecerdasan hingga 10-15 poin, serta mengurangi produktivitas saat dewasa. Sementara itu, Badan Pusat Statistik mencatat impor energi Indonesia meningkat 15% pada 2025, dengan defisit listrik di pedesaan masih menjangkau sekitar 40% wilayah, menghambat pembelajaran daring dan pelatihan vokasi digital bagi pemuda. Krisis energi juga berdampak langsung pada pertanian yaitu tanpa pasokan listrik yang stabil, proses pengeringan padi terhambat, dan produksi pangan bergizi seperti sayuran organik dapat menurun hingga 25%.
Generasi muda menjadi kelompok paling rentan karena berada pada fase transisi menuju kemandirian. Remaja yang kekurangan akses energi listrik mengalami hambatan dalam belajar, terutama dalam sistem pendidikan yang semakin mengandalkan teknologi. Tanpa asupan gizi memadai, mereka menghadapi anemia, kelelahan kronis, dan gangguan konsentrasi. Studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan malnutrisi berkontribusi terhadap 45% kematian anak di bawah lima tahun secara global. Di Indonesia, Survei Angkatan Kerja Nasional 2025 mencatat sekitar 28% pemuda usia 15-24 tahun mengalami kekurangan gizi, yang berkorelasi dengan tingkat pengangguran usia muda sebesar 13,5%, jauh di atas rata-rata nasional.
Lebih jauh, terbentuk sebuah lingkaran yang sulit diputus. Malnutrisi menurunkan daya tahan tubuh, membuat pemuda rentan sakit dan kurang produktif, bahkan ketika terlibat dalam sektor energi baru yang menuntut stamina tinggi. Sebaliknya, krisis energi menghambat inovasi di bidang pertanian modern, seperti hidroponik berbasis tenaga surya, yang sebenarnya berpotensi meningkatkan produksi pangan bergizi secara signifikan. Jika dibiarkan, krisis ini berpotensi menimbulkan kerugian hingga Rp300 triliun per tahun akibat beban kesehatan dan hilangnya produktivitas, setara sekitar 2% PDB.
Meski demikian, jalan keluar tetap terbuka melalui pendekatan terintegrasi yang cermat dan inklusif. Transisi menuju energi terbarukan perlu dipercepat, misalnya melalui pemanfaatan panel surya untuk desa-desa yang belum terjangkau listrik stabil. Selain menyediakan energi, langkah ini dapat mendukung sistem irigasi modern yang meningkatkan produktivitas pertanian. Pemerintah dapat mengalokasikan sebagian anggaran energi untuk program terpadu yang menghubungkan ketahanan energi dengan perbaikan gizi masyarakat.
Upaya edukasi gizi juga perlu diperluas dengan memanfaatkan teknologi digital yang hemat energi, menjangkau generasi muda melalui pendekatan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta telah menunjukkan hasil, termasuk dalam program pengolahan limbah menjadi energi alternatif yang sekaligus mendukung ketersediaan pangan bergizi. Di sisi lain, kebijakan fiskal yang mendukung pertanian berkelanjutan dapat membuka lapangan kerja baru bagi generasi muda, sekaligus memperkuat fondasi ekonomi hijau.
Pengalaman negara lain menunjukkan bahwa integrasi kebijakan energi dan pangan dapat memberikan dampak signifikan dalam waktu relatif singkat. Indonesia memiliki peluang besar untuk mencapai target penurunan stunting secara lebih cepat apabila kebijakan yang ditempuh mampu menghubungkan kedua sektor ini secara konsisten dan berkelanjutan.
Krisis energi dan malnutrisi bukanlah akhir dari segalanya, melainkan panggilan untuk bertindak bersama. Generasi muda bukan sekadar objek yang terdampak, melainkan subjek yang mampu menghadirkan solusi melalui inovasi dan kreativitas. Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk memastikan bahwa tantangan ini dapat diubah menjadi peluang.
Dengan langkah yang terarah, kita tidak hanya menyelamatkan generasi muda dari ancaman energi yang menipis dan gizi yang terabaikan, tetapi juga membangun bangsa yang lebih tangguh, sehat, dan berdaya saing. Masa depan yang cerah tetap mungkin diraih, selama kita memilih untuk bertindak hari ini. Generasi Z dan Alpha berhak atas masa depan itu.(*)
HERY PURNOBASUKI
Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga dan Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan UNAIR


