Kritik Pembangunan Dalam Antropologi Korban

(foto: dibuat dengan kreator AI)

“Pembangunan membutuhkan penghapusan sumber-sumber utama ketidakbebasan: kemiskinan serta tirani, peluang ekonomi yang buruk serta penindasan sosial yang sistematis.” — Amartya Sen (92), Peraih Nobel Ekonomi 1998, dalam Development as Freedom (1999)

Antropologi pembangunan di Indonesia sejak era Jokowi hingga Prabowo memperlihatkan paradoks antara ambisi modernisasi, kerentanan ekologis dan korban manusia.

Proyek-proyek besar seperti Ibu Kota Nusantara (IKN), pembangunan bendungan masif, dan program tol laut hingga MBG, Koperasi Desa maupun korporasi kapitalis negara Danantara yang diproyeksikan sebagai simbol kemajuan baru.

Namun, di balik narasi pembangunan itu terdapat kerusakan lingkungan, penggusuran masyarakat adat, dan korban sosial masif lainnya.

IKN, misalnya, dibangun di kawasan hutan Kalimantan Timur yang merupakan habitat orangutan dan ekosistem tropis yang rapuh.

Antropologi pembangunan di sini gagal membaca relasi manusia-lingkungan, karena masyarakat lokal kehilangan ruang hidup sementara ekologi hutan ditekan oleh logika beton dan aspal.

Bendungan besar di Jawa dan Sulawesi juga menimbulkan masalah serupa yakni relokasi paksa, hilangnya lahan pertanian, dan kerusakan ekosistem sungai.

Program tol laut, yang dimaksudkan untuk integrasi ekonomi, justru memperlihatkan ketimpangan distribusi dan eksploitasi sumber daya laut yang berlebihan.

Kritik ini menemukan resonansi lewat karya Jared Diamond, Collapse, yang menulis, “masyarakat memilih untuk gagal atau bertahan hidup tergantung pada bagaimana mereka memperlakukan lingkungannya.”

Dengan demikian, pilihan politik pembangunan yang mengabaikan ekologi adalah jalan menuju keruntuhan.

Indonesia, dengan proyek-proyek raksasa yang menyingkirkan rakyat kecil, sedang menapaki jalur yang Diamond sebut sebagai “societal suicide.”

Demikian pula, fakta film dokumenter Pesta Babi yang memperlihatkan dimensi lain yakni bagaimana masyarakat lokal merespons proyek modernisasi dengan ritual, resistensi, dan simbol budaya.

Pembangunan bukan sekadar soal infrastruktur, tetapi juga relasi kuasa dan identitas.

Kritik semakin tajam ketika menyoroti program pembangunan berbasis komunitas seperti MBG (Makan Bergizi Gratis), Koperasi Desa (Kopdes) maupun korporasi kapitalis negara, Danantara.

Secara teoritis, program ini dimaksudkan untuk memperkuat ekonomi rakyat melalui partisipasi kolektif.

Namun dalam praktik, banyak program MBG maupun koperasi desa hanya menjadi perpanjangan tangan birokrasi yang dibekap militer dan polisi, tidak mandiri, dan tampak gagal menjadi wadah ekonomi kerakyatan.

Antropologi pembangunan yang dimaksud di sini menunjukkan bagaimana konsep partisipasi sering kali hanya retorika, sementara struktur kuasa tetap dikendalikan dari atas.

Lebih jauh, gagasan efisiensi pembangunan melalui korporasi kapitalisme negara seperti Danantara seolah memperlihatkan wajah baru pengelolaan prinsip-prinsip “new developmentalism.“

Kini, seluruh kebijakan negara untuk rakyat, selain dibekap militer dan polisi, berperan sebagai korporasi yang mengelola sumber daya dengan logika profit, bukan demi keberlanjutan dan kesejahteraan rakyat.

Alih-alih memperkuat masyarakat desa, model ini justru menyingkirkan mereka dari akses tanah dan sumber daya.

Dengan demikian, proyek infrastruktur dari Jokowi hingga Prabowo, ditambah program MBG, Koperasi Desa, dan korporasi kapitalis negara seperti Danantara, dapat dibaca sebagai cermin dilema antropologi pembangunan.

Tema utamanya adalah ambisi modernisasi “new developmentalism” yang justru merusak ekologi secara brutal dan menggusur rakyatnya sendiri sebagai korban utama.

Kritik semi akademik ini hendak menekankan bahwa tanpa koreksi paradigma yang adil dan komprehensif, legasi pembangunan akan tercatat bukan sebagai pencapaian, melainkan sebagai bagian dari proses “collapse” yang sudah diperingatkan Diamond sebagai ekosida sekaligus genosida.

Untuk itu, kritik antropologi pembangunan bisa ditelisik dalam piramida antropologi korban dari para antropolog berikut.

Korban, kata dengan banyak sinonim dalam bahasa dan budaya hingga teologi.

Dari kata ini, muncul tragos (bahasa Yunani), korban sesembahan domba hitam yang jadi cikal bakal kata tragedi.

Dalam kata Latin, sacraficium secara antropologis bisa berarti korban ritual suci.

Istilah ini pun kelak menjadi cikal bakal kata sacrifice yang digunakan sosio-antropolog, Peter L. Berger, sebagai kritik antropologi pembangunan yang menggusur masyarakat adat dalam Pyramids of Sacrifice: Political Ethics and Social Change (1974).

Dalam agama etnis non Kristen, sinonim kata ini, korban, beragam seperti yajna (India), thusia (Yunani), blōtan (Jerman kuno), qorban (Semit dan Arab) dan zertwa (Slavia).

Dengan kata lain, konsep korban merupakan fenomena universal yang ditemukan dalam berbagai budaya dan masyarakat di dunia.

Selain itu, korban sebagai sesembahan, le don(gift) menurut antropolog Perancis, Marcel Mauss (1872-1950), merupakan sejarah ritus pemberian (gift) dari dua saudara, Kain dan Habel.

Karena pemberian Habel lebih bermutu dan diterima “tudung suci“, muncul iri hati Kain yang punyanya kurang bermutu dan tertolak.

Sejak itu, awal petaka korban berlangsung memenuhi sejarah planet bumi yang berdarah.

Merunut kajian antropologi, studi tentang korban telah menjadi topik yang menarik bagi para antropolog, klasik maupun kontemporer.

Dua, di antara antropolog kontemporer, Marvin Harris asal Amerika dan René Girard asal Perancis, pantas diacu untuk mengisi celah kecil yang mungkin kurang ditelisik lebih jauh dari buku, Hewan dan Ritus Agama (CBI, 2025).

Ihwal perspektif antropologi korban, bisa dirujuk dari dua tokoh antropolog, Harris dan Girard yang menelaah relasi korban dan masyarakatnya dalam konteks budaya.

Marvin Harris (1927-2001), seorang antropolog Amerika, membahas korban sebagai strategi adaptasi yang digunakan oleh masyarakat untuk mempertahankan keseimbangan ekosistem dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam Cows, Pigs, Wars, and Witches (1974), Harris berpandangan korban hewan dalam beberapa budaya dapat dipahami sebagai cara untuk mengatur populasi hewan dan meningkatkan efisiensi produksi pangan.

Ihwal pelarangan hewan korban sapi di India, menurut Harris, punya relasi suci dalam kebudayaan mereka.

Meski demikian, menurutnya, secara antropologi kesehatan gizi justru sangat merugikan secara ekonomi kesehatan.

Bahkan dengan resiko menanggung kelaparan, masyarakat India tak pernah rela mengorbankan sapi seperti diulas dalam bab Sapi Suci.

Harris mengungkapkan hal tersebut dengan menulis, “sapi itu lebih berharga hidup daripada mati.”

Pandangan Harris menekankan bahwa korban dapat berfungsi sebagai mekanisme untuk mempertahankan keseimbangan sosial dan politik dalam masyarakat.

Dalam beberapa kasus, korban dapat digunakan sebagai cara untuk memperkuat ikatan sosial dan meningkatkan solidaritas masyarakat.

Kritik atas pandangan Harris bagi antropologi korban mengandung perspektif sekuler yang cacat.

Karena pertimbangan rasionalitas sakral korban tak memenuhi syarat ritus suci.

Dengan kata lain. gagasan di atas dapat dibandingkan dengan Victor Turner, dalam The Ritual Process: Structure and Anti-Structure (1969).

Mengutip Turner, “pengorbanan adalah proses ritual yang mengubah korban menjadi wahana komunikasi antara manusia dan ilahi.”

Sementara, René Girard (1923-2015), seorang filsuf dan antropolog Prancis, menekankan perspektif korban sebagai mekanisme pengendalian kekerasan dalam masyarakat.

Dalam Violence and the Sacred, Girard mengedepankan fungsi korban sebagai cara untuk melepaskan ketegangan dan kekerasan dalam masyarakat.

Katanya, “kekerasan adalah kekuatan ilahi yang setiap orang mencoba untuk menggunakan untuk tujuannya sendiri dan berakhir dengan menggunakan setiap orang untuk kepentingannya sendiri: Dionysus dari Bacchae.“

Bagi Girard korban sebagai wujud “scapegoat”, dalam The Scapegoat (1982), atau kambing hitam yang menerima hukuman dan pengorbanan atas kesalahan masyarakat.

Untuk rincinya, rujuk dan bandingkan Sindhunata, dalam Kambing Hitam: Teori René Girard (2006).

Dalam prosesi ini, korban dapat berfungsi sebagai cara untuk mempertahankan keseimbangan sosial dan politik dalam masyarakat dengan mengalihkan ketegangan dan kekerasan ke arah korban.

Dalam hal ini, untuk mensyaratkan korban sebagai kompensasi ritual, relasi korban dan masyarakatnya harus menanggung kesengsaraan bersama (commun bonum).

Lebih jauh, Girard dalam Job, the Victim of His People (1985), menelisik kasus Ayub (Job) sebagai korban dari hasrat ganda, material maupun immaterial, dari masyarakatnya.

Meskipun Harris dan Girard memiliki pandangan yang berbeda tentang korban, keduanya sepakat bahwa korban memiliki fungsi ritus sakral maupun profan.

Karena itu, berangkat dari tradisi religi-spiritual, syarat utama korban harus melewati tiga fase yang selalu dikandung oleh semua ritus agama.

Menurut ritus suci, tiga fase ini, yang dikutip dari Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam (1975),  dialami tidak secara komunalistik. Tapi, bersumber dari ikhtiar para pengusung korban.

Fase pertama, via iluminativa, sebagai terowongan pencerahan jiwa korban dan pengorban.

Kedua, via comtemplativa, sebagai perenungan terowongan jiwa kedua makhluk.

Ketiga, via purgativa, sebagai puncak pencapaian kesemestaan jiwa kemahlukan (nafs-al-muthmainah) ke arasy sumber kekekalan sejati.

Kembali ke Harris, korban sebagai strategi adaptasi sekuler digunakan oleh masyarakat untuk mempertahankan keseimbangan ekosistem dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sementara bagi Girard, korban sebagai mekanisme pengendalian kekerasan dalam masyarakat guna memperkecil dorongan besar hasrat nekrofilia.

Perbedaan pandangan antara Harris dan Girard dapat dipahami dalam konteks perbedaan pendekatan mereka untuk memahami korban sebagai fenomena sosial belaka.

Jika Harris menggunakan pendekatan materialistis yang menekankan pada aspek ekonomi dan ekologi dalam memahami masyarakat, Girard malah memakai pendekatan simbolis untuk menekankan aspek simbolis dalam ritual masyarakat.

Pembahasan pandangan Marvin Harris dan René Girard tentang korban dalam antropologi, memiliki perbedaan tafsir sekuler dikotomis.

Namun demikian, korban hewan dalam ritus agama tetap memiliki fungsi penting, baik sakral maupun profan, demi tanggungan bersama martabat dan kesengsaraan pada antropologi korban.

Terlepas dari antropologi korban versi Harris dan Girard, konteks perbedaan pendekatan mereka dapat dipahami dalam ritual korban sebagai fenomena sosial, ekonomi dan politik yang paradoks sekaligus dikotomis.

Namun, dalam “teologi kesengsaraan“ yang dianut secara berbeda oleh pelbagai agama, semua proses ritus hanya mensyaratkan satu tujuan dan tindakan yaitu purgatori! Lainnya, sekedar fasilitas.(*)

#coversongs: Elton John (79) merilis lagu Sacrifice pada 23 Oktober 1989 dalam album Sleeping with the Past. Lagu ini menjadi hit besar setelah re-rilis tahun 1990, dan maknanya menyoroti rapuhnya kesetiaan dalam pernikahan serta mempertanyakan apakah cinta sejati memang harus dianggap sebagai “pengorbanan“?

 

REINER EMYOT OINTOE 

Fiksiwan