Rata-rata Gaji Dosen di Indonesia Rp. 3,36 juta, Apa Akibatnya?

Ini sih sungguh memprihatinkan. Ternyata rata-rata gaji dosen di Indonesia hanya Rp. 3,36 juta per bulan. Angka itu terkuak saat Ketua Umum Asosiasi Dosen Indonesia, Mohammed Ali Berawi saat memberikan keterangan dalam sidang uji materi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen di Mahkamah Konstitusi, Senin (25/5/2026). Bukan hanya nggak cukup, makanya wajar banyak dosen di Indonesia terpaksa mencari pekerjaan tambahan di luar kampus untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Gila ya, gaji dosen di Indonesia rendah banget. Jauh tertinggal dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Sebut saja, Singapura yang gaji dosennya mencapai Rp. 85,5 juta per bulan, Thailand yang Rp. 21,9 juta, atau Filipina yang Rp. 7,6 juta per bulan, sedangkan Indonesia Rp. 3,36 juta per bulan. Serem nggak sih, kondisi dunia pendidikan kayak begini? Memang sih, bila mengacu ke portal Indeed dan Jobstreet, total penghasilan dosen berada di kisaran Rp5,5 juta hingga Rp8,5 juta per bulan. Khusus kampus swasta, tergantung dari jenjang pendidikan si dosen, jabatan akademik, jam mengajar, hingga reputasi perguruan tinggi.

Sesuai pengalaman, saya sendiri yang sudah mengajar lebih dari 30 tahun di kampus swasta di Jakarta nggak membantah soal gaji dosen di angka tersebut. Di balik gelar, penelitian, dan pengabdian untuk masyarakat ternyata gaji dosen memang rendah, tergolong jauh dari penghasilan yang layak. Akibatnya ya apa boleh buat? Rata-rata dosen jadi fokus meneliti karena tekanan ekonomi dan kehabisan energi untuk inovasi secara akademik. Riset tertinggal, inovasi lambat, kampus sulit bersaing global, dan kualitas pengajaran tidak maksimal.

Gaji dosen, tentu bukan sekadar masalah profesi. Ini juga bukan sekadar soal penghasilan.
Tapi soal penghormatan terhadap ilmu pengetahuan. Soal arah pembangunan nasional dan mau di bawa ke mana pendidikan di Indonesia? Katanya, dosen adalah pencetak pemimpin, ilmuwan, profesional, dan masa depan Indonesia. Tapi sayangnya, bekerja sebagai dosen kurang dihargai. Terbukti dari gajinya yang rendah.

Pemerintah sebenarnya sudah lumayan bagus, dengan program sertifikasi dosen (serdos). Sebuah proses penilaian formal oleh pemerintah untuk memberikan pengakuan profesional terhadap dosen di perguruan tinggi. Tujuannya adalah memastikan kelayakan dosen dalam menjalankan tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat) sekaligus meningkatkan kesejahteraannya. Tiap semester dosen harus memenuhi BKD (Beban Kerja Dosen) ntuk mendapatkan “tunjangan fungsional” dari pemerintah. Tapi sekarang, ada lagi tambahan kerjaan dosen. Wajib ikut pelatihan 20JP setahun untuk dapat mencairkan dana serdos. Bila nggak dipenuhi, maka dana serdos tidak bisa cair. Agak repot tapi okelah untuk menigkatkan kualitas dan pengembangan diri dosen. Sah-sah saja sih.

Apa yang saya mau bilang di sini? Di negara-negara maju, ada pinsip yang dipegang dalam pendidikan. Bila negara mau maju maka ekonomi harus tumbuh cepat. Karenanya, pendidikan harus kuat dan mampu mencetak lulusan yang kreatif, inovatif, dan kompetitif. Masalahnya, pendidikan tinggi yang kuat dann lulusan yang kompetitif agak sulit dicapai bila dosennya tidak sejahtera. Gajinya rendah dan fokusnya jadi kemana-mana. Sampai-sampai penelitian pun di-proyek-kan.

Dosen harus Sejahtera adalah keniscayaan. Agar bisa fokus mengajar dan mendidik, riset jadi lebih produktif, inovasi lahir lebih cepat, mahasiswa pun mendapatkan kualitas pendidikan terbaik, industri mendapat sumber daya manusia (SDM) unggul, dan akhirnya negara punya daya saing yang kompetitif. Makanya, kesejahteraan dosen jangan dilihat sebagai beban pengeluaran negara atau kampus. Tapi investasi strategis untuk kemajuan bangsa dan negara. Sungguh, pendidikan tinggi sulit jadi pusat ilmu pengetahuan dan teknoogi bila dosennya masih “dipaksa” bertahan hidup.

Dosen nggak bersyukur? Sudah dari lama para dosen bersyukur, bahkan sabar dan tetap konsisten menjalankan tugasnya sekalipun gajinya kurang. Dan bukan karena saya berprofesi sebagai dosen lantas mengharapkan dosen bergaji tinggi dan sejahtera. Apa iya dosen minta naik gaji 100%, saya kira tidak! Hanya mengingatkan pemangku kebijakan, bila pendidikan ingin maju maka profesi dosen pun harus dihargai dan dibikin lebih layak. Pemikiran ini penting, walau eksekusinya entah kapan terlaksana?

Kata banyak orang, bekerja sebagai dosen enak. Ya, sah-sah saja. Tergantung melihatnya, dari sudut pandang mana? Tapi faktanya, rata-rata gaji dosen di Indonesia hanya Rp. 3,36 juta per bulan. Bahkan banyak dosen swasta, yang masa pensiunnya tidak pasti dan berpotensi mengalami masalah keuangan di hari tua. Karenanya, harus ada komitmen untuk memperjuangkan kesejahteraan dosen dan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat ke depan.

Tesisnya sederhana. Jika dosen bisa hidup layak maka mengajar jadi semangat.
Dosen yang kuat maka kampus akan kuat. Bila kampus kuat maka SDM yang dihasilkan lebih kompetitif. Dan SDM yang kompetitif pasti bikin negara lebih maju. Maka, sudah waktunya kesejahteraan dosen dipandang sebagai agenda nasional, bukan sekadar isu profesi semata. Selamat mendidik para dosen Indonesia!(*)

SYARIFUDIN YUNUS

Dosen Unindra dan Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka