Rencana Besar Mati Masal Bangsa Berkat Gizi Gratis

(foto: diunggah dari Youtube Rencana Besar | Official Trailer | Adipati Dolken, Chico Kurniawan, Hanggini Prime Video Indonesia dan @YtCrashFeeds Perhatikan tangannya, makanan terakhir yang dipilih oleh terpidana mati)

“Gizi buruk tetap menjadi penyebab utama kematian yang dapat dicegah di seluruh dunia, terutama pada anak-anak di bawah usia lima tahun.“ — Jahangir Moini, Oyindamola Akinso, dan Raheleh Ahangari dalam Global Malnutrition: Pathology and Complications (2023).

Meski tak punya hubungan dengan “mati ala korupsi badan gizi“, film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang (RBMT) yang tayang perdana di Shanghai International Film Festival 2026, ikut menghadirkan refleksi mendalam tentang kematian sebagai bagian dari seni hidup.

Fakta,menurut rilis jpnn dot com, bahwa tiket penayangannya sold out menunjukkan bahwa publik Shanghai menangkap daya tarik universal dari tema yang diangkat.

Debutnya, bagaimana manusia merencanakan akhir hidupnya dengan tenang, bukan sebagai kehancuran, melainkan sebagai jalan menuju kebebasan jiwa.

Kritik sosial politik versi daring yang muncul di Indonesia, dengan plesetan “Rencana Besar Mati Masal Berkat Gizi Gratis” terkait kasus megakorupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) via Badan Gizi Nasional (BGN), justru memperkuat resonansi filosofis film ini.

Kematian dihadirkan bukan hanya sebagai akhir biologis, tetapi juga sebagai metafora atas runtuhnya moralitas publik dengan kasus megakorupsi masif BGN atas program MBG.

Namun dalam tafsir politik, menurut sejumlah kritik(us), itu metafora “mati demi filsafat elektoral“ menuju 2029.

Untuk merefleksi karya sinema dan kebijakan publik negara, sekedar untuk “mati secara benar”, filsuf Marcus Tullius Cicero yang lahir pada 3 Januari 106 SM di Arpinum dan wafat pada 7 Desember 43 SM di Formia, perlu menulis dalam How to Die: An Ancient Guide to the Art of Dying (2018) bahwa “Berfilsafat berarti belajar bagaimana cara mati“, bukan tenang, tapi benar.

Berfilsafat berarti belajar bagaimana mati secara benar, dan film RBMT seolah menjadi perwujudan kontemporer dari gagasan itu.

Kematian dalam film tidak ditampilkan sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai bagian dari keteraturan kosmos yang harus dihadapi dengan keberanian.

Seperti Cicero menegaskan, “Kematian bukanlah kejahatan; yang jahat adalah ketakutan akan kematian.”

Persisnya, korupsi bukanlah kejahatan; yang jahat adalah tak takut akan korupsi.

Maka, film ini mengajak penonton untuk melihat kematian sebagai pintu menuju kebebasan jiwa, bukan sebagai tragedi yang menghancurkan.

Refleksi atas film RBMT menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan kondisi sosial-politik kita.

Sama seperti Cicero yang mengubah duka atas kematian putrinya Tullia menjadi kekuatan moral, film ini mengingatkan bahwa kehilangan dan penderitaan dapat menjadi sumber kebijaksanaan.

Seni untuk mati dengan tenang adalah bagian dari seni untuk hidup dengan bermartabat.

Dengan demikian, RBMT bukan hanya karya sinema, melainkan juga sebuah konsolasi filosofis yang menegaskan bahwa manusia, bahkan dalam kehancuran, tetap dapat menegaskan kebebasannya.

Terkait malnutrisi, struktural dan prosedural dalam praktek MBG oleh BGN, makin menunjukkan bahwa metafora kematian moralitas bukan masalah teknis institusi.

Itu justru secara fundamental dan sistemik merupakan kebijakan absurditas politik kekuasaan untuk Rencana Besar Hidup Periodik Secara Culas!

Telaah komprehensif atas gizi buruk  -sekedar instrumen- sebagai salah satu penyebab utama kematian yang dapat dicegah di dunia, tentu bisa dirujuk dalam Global Malnutrition: Pathology and Complications.

Para penulis buku ini menguraikan bagaimana malnutrisi sekaligus malpolitis sangat memengaruhi tubuh manusia, mulai dari melemahkan sistem imun, merusak organ vital, hingga menimbulkan komplikasi, yang berujung pada kematian.

Buku ini menekankan bahwa gizi buruk bukan hanya masalah medis, tetapi juga fenomena sosial yang terkait dengan kemiskinan, konflik, dan ketidakadilan distribusi pangan.

Refleksi dari buku ini menunjukkan bahwa gizi buruk adalah bentuk kematian yang lahir dari kelalaian kolektif dan tentu saja „secara politis.“

Sama seperti filsafat kematian Cicero yang menekankan keberanian menghadapi takdir, buku ini mengingatkan bahwa kematian akibat gizi buruk bukanlah takdir alamiah, melainkan akibat dari kegagalan moral dan sosial.

Dengan demikian, Global Malnutrition: Pathology and Complications tidak hanya menjadi teks medis, tetapi juga seruan etis agar masyarakat global, terutama Indonesia di ambang ujian berat bangsa, dapat menegakkan martabat manusia dengan memastikan hak atas gizi terpenuhi.

Dan tak harus dikorup oleh penyelenggara di institusi BGN hingga ke kontrak-kontrak SPPG ratusan yayasan yang dibikin oleh penyelenggara kebijakan negara itu sendiri. Fantastis dan absurd!

#coversongs: Lagu Malnutrition of Child dari Cyrus Ember Dharma, meski tak masuk daftar rilis, sudah sangat kuat secara simbolik. Ia menggemakan tragedi gizi buruk anak sebagai “musik duka” yang menyingkap kematian akibat kelalaian sosial. (*)

 

REINER EMYOT OINTOE 

Fiksiwan