
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) kian memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi wisata religi yang menarik perhatian wisatawan mancanegara. Tidak hanya menawarkan keindahan arsitektur, masjid kebanggaan masyarakat Jawa Timur ini juga menghadirkan pengalaman wisata yang memadukan nilai keagamaan, edukasi, budaya, dan keramahan terhadap keberagaman.
Data Badan Pelaksana Pengelola (BPP) Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya mencatat sebanyak 3.499 wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung selama Januari-September 2026. Angka tersebut setara dengan rata-rata sekitar 388 wisatawan asing setiap bulannya.
Sementara itu, kunjungan wisatawan domestik juga tercatat mencapai 30.560 orang dalam periode yang dilaporkan.
“Rata-rata kunjungan wisman ke Masjid Al-Akbar memang di kisaran 300-400 orang per-bulan, karena itu kami memiliki ‘Al-Akbar Tourism Center’/ATC (pusat turis) yang diresmikan Gubernur Jatim Ibu Khofifah Indar Parawansa pada 30 April 2025 untuk melayani mereka,” kata Ketua BPP MAS, Dr. KHM Sudjak, di Surabaya, Minggu (1/11/2026).
Menjelang peringatan 26 tahun Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya yang diresmikan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 10 November 2000, Sudjak menjelaskan bahwa perkembangan kunjungan wisatawan asing tersebut menunjukkan semakin luasnya daya tarik masjid sebagai destinasi wisata religi.
Berdasarkan data yang dihimpun Anas Choiri, Kepala Urusan Wisata Religi MAS di Al-Akbar Tourism Center (ATC), jumlah kunjungan wisman selama sembilan bulan pertama 2026 mencapai 3.499 orang.
Wisatawan tersebut mayoritas berasal dari China dan Taiwan. Namun, wisatawan dari kawasan Eropa, Amerika, dan Australia juga cukup banyak berkunjung, khususnya ketika memasuki musim liburan di negara masing-masing.
“Kalau data wisdom di ATC tercatat 30.560 orang atau rata-rata 1.868 wisdom per-bulan selama 2026. Untuk wisman itu mayoritas dari China dan Taiwan, tapi wisman Eropa, Amerika, dan Australia juga tidak sedikit, khususnya saat musim libur di negara mereka. Kalau wisman dari Asia itu datang tanpa mengenal liburan,” katanya.
Secara bulanan, data kunjungan wisman menunjukkan tren peningkatan yang cukup menarik. Pada Januari tercatat 373 wisatawan, Februari 401, Maret 189, April 191, Mei 357, Juni 357, Juli 472, Agustus 505, dan September mencapai 654 wisatawan.
September menjadi bulan dengan jumlah kunjungan wisman tertinggi selama periode tersebut. Capaian ini memperlihatkan meningkatnya ketertarikan wisatawan asing untuk mengenal lebih dekat Masjid Al-Akbar Surabaya.
Lantas, apa yang membuat Masjid Al-Akbar menarik bagi wisatawan mancanegara?
Sudjak menjelaskan, setidaknya terdapat dua faktor utama, yakni daya tarik fisik berupa arsitektur bangunan dan faktor nonfisik berupa konsep keramahan serta keterbukaan masjid terhadap seluruh lapisan masyarakat.
Dari sisi arsitektur, keberadaan lima kubah besar dan enam kubah kecil menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Keunikan lainnya adalah konstruksi kubah yang menghadirkan ruang luas tanpa ditopang banyak tiang atau pilar.
“Secara fisik, para wisman itu tertarik dengan masjid yang memiliki banyak kubah, tapi justru tidak banyak pilar, sehingga teknologi arsitekturnya cukup baik. Tidak hanya fisik, Masjid Al-Akbar secara non-fisik juga sangat ramah dengan semua, mulai anak-anak, remaja, pemuda, dewasa, lanjut usia, hingga difabel, yang difasilitasi dengan taman,” katanya.
Menurut Sudjak, keramahan tersebut menjadi bagian penting dari identitas Masjid Al-Akbar. Masjid tidak hanya dirancang sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang publik yang dapat dinikmati berbagai kelompok masyarakat.
Bahkan, keterbukaan itu juga diwujudkan melalui keramahan terhadap pengunjung non-Muslim.
“Adanya apresiasi yang membanggakan dari masyarakat mancanegara itu menguatkan kesan bahwa Islam di Indonesia itu toleran. Konsepnya tetap di seputar peran masjid sebagai ‘rahmatan lil alamin’ (multi dimensi),” katanya.
Pesan tersebut menjadi salah satu nilai yang ingin dihadirkan Masjid Al-Akbar kepada masyarakat luas, bahwa masjid dapat menjalankan fungsi keagamaan sekaligus menjadi ruang edukasi, interaksi sosial, dan penguatan nilai kemanusiaan.
Dari Wisata Religi hingga Inovasi Ramah Lingkungan
Pengembangan Masjid Al-Akbar sebagai destinasi wisata religi sebenarnya bukan proses yang berlangsung secara instan.
Sejak 2010, pengelola MAS mulai mengembangkan konsep yang memadukan tiga dimensi utama, yakni keyakinan atau religi, pengetahuan atau edukasi, serta budaya, kultural, dan lingkungan.
Konsep tersebut terangkum dalam semangat Where Faith, Knowledge, and Culture Meet atau tempat bertemunya iman, pengetahuan, dan budaya.
Implementasinya diwujudkan melalui berbagai fasilitas dan layanan, mulai dari Studio Dakwah Digital, Interior Tour yang memperkenalkan ukiran, kaligrafi, dan tata lampu masjid, perpustakaan, Pojok Baca Digital (POCADI), hingga layanan virtual tour yang memungkinkan wisatawan mengenal Masjid Al-Akbar secara daring.
Inovasi kemudian terus dikembangkan melalui program yang dikenal sebagai “POHON INOVASI” sejak 2019.
Sejumlah fasilitas yang dibangun antara lain Taman Edupark pada 2019, Taman Urban Farming dan Taman Asmaul Husna pada 2020, serta Menara 99 meter yang juga dikembangkan pada tahun yang sama.
Pada 2021, pengelola menghadirkan Green Toilet dengan 539 kran wudu. Konsep ramah lingkungan diterapkan melalui pemanfaatan kembali air bekas wudu untuk menyirami tanaman di sejumlah taman yang ada di lingkungan masjid.
Pengembangan berlanjut pada 2022 dengan menghadirkan air mancur di pintu sisi timur yang menjadi salah satu lokasi favorit pengunjung untuk berfoto, Ballroom untuk kegiatan publik dan eksternal, serta Green House atau Taman Melon.
Pada 2023, inovasi diperluas melalui Taman Peradaban yang menghadirkan ikon provinsi serta pembentukan Badan Usaha Milik Masjid (BUMM) untuk mendukung pengembangan UMKM halal.
Sementara pada 2026, pengelola menghadirkan Toilet VIP Difabel sebagai bagian dari upaya memperkuat aksesibilitas dan kenyamanan pengunjung.
Tidak berhenti pada pengembangan fasilitas fisik, Masjid Al-Akbar juga berupaya menjangkau generasi muda melalui berbagai program yang menyasar Generasi Z atau GenZI.
Sejumlah program yang dikembangkan di antaranya Majelis Subuh GenZI (MSG) pada 2023, Taman GenZI pada tahun yang sama, serta penguatan Remaja Masjid (Remas) dan GenZI MAS pada 18 Mei 2024.
Pengelola juga menghadirkan Al-Akbar Muallaf Center pada 2024 sebagai bagian dari pelayanan dan pendampingan keagamaan.
Pada 2025, pengembangan semakin beragam dengan diresmikannya Al-Akbar Tourism Center (ATC) pada 30 April dan Al-Akbar Sport Center (ASC) pada 28 Juni.
Bahkan, pendekatan dakwah juga dikembangkan melalui kegiatan Al-Akbar Ngaji Soccer pada 20 Juli 2025, yang memadukan olahraga dan aktivitas keagamaan.
Memasuki 2026, Masjid Al-Akbar kembali memperkaya aktivitas keagamaannya melalui Majelis Sholawat Al-Akbar.
Berbagai inovasi tersebut memperlihatkan upaya pengelola dalam memperluas fungsi masjid agar semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Mulai dari wisata religi, pendidikan, lingkungan, pemberdayaan ekonomi, pelayanan sosial, hingga aktivitas generasi muda.
Dengan pendekatan tersebut, Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya tidak hanya menjadi ikon arsitektur dan pusat kegiatan keagamaan di Jawa Timur, tetapi juga berupaya memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang terbuka, inklusif, dan menjunjung tinggi nilai rahmatan lil alamin kepada masyarakat dunia.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








