
“Penemuan ilmiah tidak terletak pada pengumpulan pengetahuan yang pasti, melainkan pada pencarian kebenaran yang tekun, kritis, dan berani.” — Karl Raimund Popper (1902-1994), Logik der Forschung (1934).
Ketika dua tahun terakhir ini, Nobel Sastra 2024 dan 2026 dianugerahkan pada dua perempuan yaitu Han Kang asal Korea Selatan dan Anna Carson asal Toronto Canada, World’s Top 2 % Scientist dari Universitas Standford bersama Elsevier memberi lagi anugerah ilmuwan kelas dunia pada Prof. Dr. Triana Ekawati Tallei.
Alumni S1 Biologi di Institut Teknologi Bandung (ITB) ini — selain S2 University of Melbourne, Australia dan S3 Program Doktor di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Manado, satu-satunya profesor perempuan paling gigih dalam riset.
Lahir dari lingkungan intelektual yang mengakar kuat — akrab disapa Prof. Tinna Tallei — dan tumbuh dalam asuhan seorang ayah, Prof. Dr. Tallei, akademisi terkemuka di bidang linguistik dan analisis wacana di FKSS IKIP Negeri Manado, kini Unima(Universitas Manado) di Tondano.
Dari sang ayah, Prof. Dr. Tallei, ahli linguistik dan analisis wacana ini, Prof. Tinna mewarisi disiplin berpikir, ketelitian metodologis, dan kecintaan pada dunia akademis yang kemudian ia arahkan ke ranah sains eksakta.
Saat ini, ia mengabdikan dirinya sebagai Guru Besar di Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam(FMIPA) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado.
Meski Unsrat pada dua dekade lebih terus dirundung krisis kepemimpinan, tampaknya tak menyurutkan kiprah kemajuan akademik dari seorang profesornya.
Bidang kepakaran utama yang digeluti Prof. Tinna, ntara lain, biologi molekuler, bioteknologi, bioinformatika, dan teknologi komputasional.
Dalam kiprah riset-risetnya, ia berfokus pada pemanfaatan teknologi omics, disrupsi digital dalam sains, serta eksplorasi senyawa bahan alam melalui pendekatan komputasional.
Produktivitas dan kedalaman analisisnya tercermin dalam berbagai karya ilmiah berskala internasional yang diterbitkan di jurnal bereputasi global.
Di antara karya-karya ilmiah pentingnya yang menjadi rujukan luas meliputi studi mengenai potensi senyawa bioaktif dalam tinjauan farmakologis.
Di antaranya, “Bromelain a potential bioactive compound: a comprehensive overview from a pharmacological perspective” yang dipublikasikan dalam jurnal Life.
Selain itu, aktif meneliti pemanfaatan senyawa bahan alam untuk penanganan penyakit global, termasuk melalui publikasi bertajuk: Potential of Plant Bioactive Compounds as SARS-CoV-2 Main Protease (Mpro) and Spike (S) Glycoprotein Inhibitors: A Molecular Docking Study di jurnal Scientifica.
Berikut, “A comprehensive review of the potential use of green tea polyphenols in the management of COVID-19” di Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine.
Selain itu, kontribusinya dalam bidang bioteknologi pangan dan enzim tercermin lewat riset “Antibacterial and antioxidant activity of ecoenzyme solution prepared from papaya, pineapple, and kasturi orange fruits: experimental and molecular docking studies.”
Karya ini pun telah terpublifikasi dalam Journal of Food Processing and Preservation.
Konsistensi dan ketajaman metodologi dalam karya-karya ilmiah tersebut mengantarkannya pada pengakuan akademik tingkat dunia.
Prof. Tinna tercatat konsisten masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists yang dirilis oleh Stanford University bersama Elsevier.
World’s Top 2% Scientists yang dirilis oleh Stanford University bersama Elsevier telah menjadi tolok ukur global yang objektif dalam memetakan dampak kepakaran ilmuwan di berbagai belahan dunia.
Pemeringkatan yang mengombinasikan berbagai metrik sitasi terstandarisasi ini tidak hanya menyoroti dominasi riset dari institusi-institusi terkemuka di negara maju.
Akan tetapi, juga memberi panggung bagi para periset berdedikasi dari negara berkembang, termasuk Indonesia, yang karya-karyanya terbukti memberi kontribusi signifikan bagi sains internasional.
Di ranah domestik, daftar ini secara konsisten mencatat deretan nama peneliti terkemuka dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset nasional.
Dari lingkungan Universitas Sam Ratulangi, Prof. Dr. Trina Ekawati Tallei menorehkan prestasinya melalui produktivitas riset di bidang biologi molekuler dan bioinformatika.
Sementara itu, dari jajaran universitas ternama lain seperti Universitas Gadjah Mada, muncul nama-nama seperti Prof. Dr. Abdul Rohman di bidang analisis farmasi serta Prof. Dr. Eng.
Kuwat Triyana di bidang fisika material dan sensor molekuler.
Kiprah riset mereka diperkuat pula oleh kehadiran para peneliti lintas disiplin dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Di antaranya, Dr. Danny Hilman Natawidjaja di bidang kebumian (geologi) serta Dr. Ahmad Najib Burhani di bidang studi budaya, yang semakin memperluas jangkauan kontribusi akademik Indonesia di kancah dunia.
Fenomena masuknya para periset Indonesia ke dalam daftar bereputasi tinggi ini menegaskan bahwa ketajaman metodologi dan relevansi isu riset mampu melampaui keterbatasan geografis maupun sarana.
Lebih dari sekadar pencapaian personal, pengakuan dari Stanford dan Elsevier ini menjadi bukti nyata bahwa ekosistem sains Indonesia terus berkembang dan mampu memberi warna serta arah bagi perkembangan ilmu pengetahuan global secara berkelanjutan.
—
Sumber: Video [9 Peneliti BRIN Masuk Top 2% World Ranking Scientist](https://www.youtube.com/watch?v=AiLfCVLAuXE) memberikan gambaran lebih lanjut mengenai pengakuan internasional terhadap para periset Indonesia yang berhasil menembus daftar *World’s Top 2% Scientists* versi Stanford University dan Elsevier.
Sementara, di tingkat nasional, ia memegang skor SINTA tertinggi di bidang biologi serta pernah didapuk untuk menyampaikan orasi ilmiah bergengsi dalam Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Melalui perpaduan warisan tradisi intelektual keluarga dan produktivitas riset kelas dunia, Prof. Tinna terus membuktikan bahwa ilmuwan dari perguruan tinggi daerah mampu memberikan kontribusi transformatif bagi kemajuan sains nasional maupun global.
Jakarta, 10 Oktober 2026
REINER EMYOT OINTOE
Fiksiwan








