Hari Santri Nasional 2026, SMP Khadijah dan LKKNU Surabaya Dorong Remaja Berani Merancang Masa Depan

Momen siswa/i SMP Khadijah mengikuti kegiatan Bimbingan Santri Usia Sekolah yang digelar di SMP Khadijah Surabaya, Jumat (9/10/2026). (foto: Cak Edy)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com  – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 menjadi momentum bagi SMP Khadijah Surabaya dan Pengurus Cabang Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (PC LKKNU) Kota Surabaya untuk membekali generasi muda dengan kesadaran diri, keberanian merancang masa depan, serta pemahaman tentang pentingnya melindungi diri dari risiko pergaulan.

Melalui kegiatan Bimbingan Santri Usia Sekolah yang digelar di SMP Khadijah Surabaya, Jumat (9/10/2026), sebanyak 350 siswa mendapatkan pembekalan mengenai pengembangan konsep diri, perencanaan cita-cita, pencegahan pernikahan anak, hingga risiko pernikahan siri.

Kepala SMP Khadijah Surabaya, Hj. Umi Muntafiah, S.Pd.I., M.Pd.I., mengatakan masa remaja merupakan fase penting bagi siswa untuk mengenali potensi diri, mengembangkan prestasi, membangun karakter, dan mempersiapkan masa depan.

“Remaja perlu memahami dirinya sendiri, mengembangkan prestasi sesuai usia, serta mempersiapkan masa depan sejak dini. Masa remaja merupakan periode penting untuk belajar, menggali potensi, membangun karakter, dan merancang cita-cita,” ujarnya di Surabaya dalam keterangannya, Sabtu (10/10/2026).

Menurut Umi, pendidikan bagi remaja tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga perlu membangun kesadaran diri dan kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Dengan demikian, siswa diharapkan mampu mengenali kelebihan, memahami tantangan, dan berani menentukan arah hidup sesuai potensi masing-masing.

Ketua PC LKKNU Kota Surabaya, Hj. Ely Rosyidah, M.Pd., yang juga Penyuluh Agama Islam, menegaskan pentingnya membangun harapan dan mempersiapkan cita-cita sejak usia sekolah. Menurut dia, pemahaman mengenai masa depan perlu disertai pengetahuan yang memadai tentang perlindungan diri dan ketentuan hukum yang berlaku.

“Remaja perlu memiliki pengetahuan yang benar agar mampu melindungi diri dan mengambil keputusan secara bijaksana. Melalui kegiatan ini, kami berharap para santri dapat tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, berilmu, berakhlak mulia, memiliki cita-cita yang jelas, serta mampu menjaga diri dari risiko pergaulan yang merugikan masa depan,” kata Ely.

Ia menjelaskan, pembekalan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk memperkuat peran pendidikan, keluarga, dan lingkungan keagamaan dalam membentuk generasi Qurani yang berdaya, bertanggung jawab, dan siap memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Dalam kegiatan itu, tim PC LKKNU Surabaya menyampaikan dua materi utama. Materi pertama tentang konsep diri disampaikan oleh Nur Azizah. Para siswa diajak mengenali potensi, kelebihan, minat, serta tujuan hidup agar memiliki landasan yang kuat dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan.

Pemahaman terhadap diri sendiri dinilai penting agar remaja tidak mudah terpengaruh oleh tekanan lingkungan, mampu mengembangkan kemampuan yang dimiliki, serta mempunyai gambaran lebih jelas mengenai masa depan yang ingin dicapai.

Materi kedua bertajuk “Pencegahan Pernikahan Anak dan Risiko Pernikahan Siri” disampaikan oleh Wahyu Laily. Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh penjelasan mengenai batas usia minimum perkawinan menurut hukum Indonesia, risiko pernikahan pada usia anak, serta pentingnya kesiapan fisik, mental, emosional, pendidikan, sosial, dan ekonomi sebelum memasuki kehidupan berumah tangga.

Para siswa juga diajak memahami berbagai persoalan hukum dan administrasi yang berpotensi muncul apabila perkawinan tidak tercatat secara resmi. Persoalan tersebut dapat berkaitan dengan pembuktian status perkawinan, perlindungan hak perempuan, serta kepastian pemenuhan hak-hak anak.

Melalui materi tersebut, para santri diharapkan semakin memahami bahwa masa remaja merupakan kesempatan penting untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan kehidupan secara matang sebelum mengambil keputusan besar.

Tidak hanya menyampaikan materi secara satu arah, kegiatan ini juga dilengkapi sesi diskusi dengan pendekatan probing atau penggalian pemahaman peserta. Metode tersebut mendorong siswa untuk mengungkapkan pandangan, menggali motivasi, serta merefleksikan tujuan hidup dan tantangan yang mereka hadapi.

Pendekatan ini memberikan ruang bagi para siswa untuk menghubungkan materi dengan pengalaman sehari-hari. Dengan demikian, pemahaman yang diperoleh diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi juga menjadi bekal dalam bersikap dan mengambil keputusan.

Salah seorang siswa SMP Khadijah Surabaya, Nadia Arabela, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari kegiatan tersebut. Ia secara khusus menyoroti pentingnya memahami persoalan pernikahan anak dan menjaga diri dalam pergaulan, termasuk di ruang digital.

“Materi ini banyak memberikan saya wawasan baru, terutama terkait pernikahan anak. Saya juga menjadi lebih sadar pentingnya menjaga diri dalam pergaulan, terutama di ruang digital,” tuturnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya memberikan ruang edukasi kepada remaja untuk memahami berbagai tantangan yang mereka hadapi, baik dalam pergaulan langsung maupun ketika berinteraksi melalui media digital.

Melalui Bimbingan Santri Usia Sekolah, SMP Khadijah dan PC LKKNU Surabaya berharap para siswa semakin percaya diri mengenali potensi, berani merancang cita-cita, serta mampu menjaga diri dari berbagai risiko yang dapat menghambat masa depan.

Peringatan Hari Santri Nasional 2026 pun menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek akademik dan keagamaan, tetapi juga membentuk karakter, kemandirian, tanggung jawab, dan kecakapan hidup generasi muda.

Dengan bekal pengetahuan dan pendampingan yang tepat, para santri diharapkan tumbuh menjadi generasi yang mampu menentukan arah hidupnya secara bijaksana, mengembangkan potensi secara optimal, serta berkontribusi positif bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi