
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Tidak semua gagasan besar lahir dari ruang rapat formal, presentasi bisnis yang rumit, atau pertemuan dengan agenda berlembar-lembar. Terkadang, sebuah gagasan justru tumbuh dari percakapan sederhana, ditemani secangkir kopi, di sebuah tempat usaha milik sahabat sendiri.
Rabu, 4 November 2026, suasana Diskusi Kopi di Surabaya menjadi salah satu ruang perjumpaan semacam itu. Sejumlah pengurus dan anggota Airlangga Business Community (Airlangga Biz Com/ABC), komunitas bisnis alumni Universitas Airlangga (UNAIR), kembali berkumpul dalam agenda rutin yang mereka sebut REBOAN.
Tempat pertemuan itu bukan sekadar kedai kopi biasa. Diskusi Kopi merupakan salah satu bisnis milik Dimas Oky Nugroho, alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR. Pilihan lokasi tersebut sekaligus memperlihatkan filosofi sederhana yang sedang dibangun komunitas ini yaitu bertemu, mengenal, mengunjungi, dan menghidupkan potensi bisnis sesama alumni.
Di tengah kesibukan masing-masing mengelola usaha, membangun karier, dan menjalankan aktivitas profesional, REBOAN menjadi semacam jeda yang justru produktif. Bukan untuk berhenti bekerja, melainkan untuk saling berbagi pengalaman, membaca peluang, dan menemukan kemungkinan kerja sama yang sebelumnya mungkin tidak terpikirkan.
Sebab, dalam dunia bisnis, peluang tidak selalu datang melalui transaksi formal. Ia bisa bermula dari perkenalan, kepercayaan, dan percakapan yang berlangsung secara terbuka.
Dari situlah REBOAN mendapatkan maknanya. Sebuah pertemuan sederhana yang perlahan diarahkan menjadi instrumen untuk membangun kekuatan ekonomi berbasis persaudaraan alumni.
REBOAN merupakan mekanisme pertemuan semi informal yang digagas kepengurusan Airlangga Biz Com periode ini. Sesuai namanya, kegiatan tersebut diselenggarakan setiap bulan pada hari Rabu, dengan lokasi yang berpindah-pindah, terutama di tempat usaha milik alumni UNAIR.
Di bawah kepemimpinan Dicky Fanani, yang memimpin kepengurusan sejak awal 2026, Airlangga Biz Com mencoba mengembangkan pendekatan berbeda dalam mengelola organisasi alumni.
Silaturahmi tidak berhenti pada pertemuan seremonial. Ia perlu diterjemahkan menjadi interaksi yang produktif, pertukaran pengetahuan, pengenalan potensi usaha, dan peluang kolaborasi yang memberikan manfaat bagi anggota.
Karena itu, REBOAN tidak dirancang sebagai forum rapat organisasi yang kaku. Formatnya sengaja dibuat cair agar para pebisnis dari berbagai latar belakang dan generasi alumni dapat berinteraksi tanpa sekat.
Dalam pertemuan-pertemuan tersebut, pengurus dan anggota bisa memperkenalkan perkembangan bisnis masing-masing, menyampaikan tantangan yang sedang dihadapi, berbagi pengalaman, sekaligus membuka kemungkinan kerja sama.
Bahkan, tidak tertutup kemungkinan pertemuan sederhana itu berkembang menjadi coaching dan mentoring bagi pebisnis pemula maupun pelaku UMKM yang membutuhkan pengalaman dari alumni yang telah mengelola bisnis berskala lebih besar, termasuk korporasi.
Di sinilah nilai strategis sebuah komunitas bisnis alumni mulai terlihat. Jaringan bukan lagi sekadar daftar nama dan nomor telepon, melainkan sumber pengetahuan, kepercayaan, dan peluang ekonomi.
REBOAN juga menjadi ruang untuk mempertemukan alumni dari berbagai komisariat fakultas. Kehadiran sejumlah pebisnis dari kalangan alumni Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Hewan (IKA FKH) dan Ikatan Alumni Fakultas Sains dan Teknologi (IKA FST), termasuk beberapa alumni baru dalam pertemuan Oktober kali ini, memperlihatkan potensi kolaborasi lintas disiplin yang dapat terus diperluas.
Sebab, kekuatan sebuah jaringan tidak hanya ditentukan oleh jumlah anggotanya, tetapi juga oleh keragaman kompetensi, pengalaman, dan sumber daya yang dapat saling melengkapi.
Belajar Bisnis dengan Mengunjungi Bisnis
Salah satu hal menarik dari REBOAN adalah kebiasaan menjadikan tempat usaha alumni sebagai ruang belajar bersama.
Pada 7 Oktober 2026, misalnya, pertemuan bulanan berlangsung di Pagi Pagi Coffee, National Eye Center (NEC), Jalan Dharmahusada Indah Utara, Surabaya.
Selain berdiskusi, memperbarui informasi organisasi, dan mengevaluasi perkembangan program kerja, peserta juga berkesempatan melakukan visitasi ke laboratorium dan klinik mata NEC.

Kegiatan tersebut memberikan pengalaman berbeda dibandingkan diskusi bisnis yang hanya berlangsung di dalam ruangan.
Para peserta dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah bisnis di sektor kesehatan dikembangkan, bagaimana layanan profesional dijalankan, serta bagaimana sebuah institusi membangun dan mengembangkan ekosistem usahanya.
Keterlibatan alumni yang berkiprah dalam pengelolaan bisnis kesehatan seperti Dian Heri alumnus FST UNAIR, termasuk jajaran Eyelink Group yang membawahi NEC, memperkaya ruang pertukaran pengetahuan tersebut.
Model pertemuan semacam ini memiliki nilai tersendiri. Alumni tidak hanya mendengar cerita tentang perkembangan sebuah usaha, tetapi juga berkesempatan menyaksikan langsung proses dan lingkungan bisnisnya.
Dengan demikian, REBOAN menjadi lebih dari sekadar forum silaturahmi. Ia berkembang menjadi ruang pembelajaran antarpelaku usaha atau peer-to-peer learning.
Ruang belajar yang tidak selalu membutuhkan seminar besar, pembicara terkenal, atau biaya penyelenggaraan yang mahal. Cukup dengan kemauan untuk saling membuka pengalaman dan berbagi pengetahuan.
Ke depan, pendekatan tersebut juga diarahkan melalui program company visit. Gagasan ini telah dibicarakan dalam pertemuan perdana REBOAN pada September 2026, dengan tujuan memberikan kesempatan kepada anggota untuk mempelajari proses produksi, manajemen, dan pengelolaan perusahaan secara langsung.

Sejumlah perusahaan di Surabaya dan sekitarnya sempat diidentifikasi sebagai calon lokasi kunjungan, antara lain Kokola, Laboratorium Parahita, Campina, Kapal Api, serta perusahaan-perusahaan di kawasan industri Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER).
Perusahaan yang dikunjungi tidak harus dimiliki alumni. Namun, perusahaan milik alumni yang bersedia membuka ruang pembelajaran akan menjadi prioritas.
Gagasan ini menunjukkan bahwa Airlangga Biz Com ingin menjadikan pengalaman nyata di dunia usaha sebagai sumber pembelajaran bersama.
Gagasan membangun komunitas bisnis yang produktif sebenarnya telah dibicarakan sejak pertemuan REBOAN perdana pada Rabu, 9 September 2026, di Food Court Plaza Airlangga, Kampus C UNAIR.
Dalam pertemuan yang dihadiri sejumlah pengurus, antara lain Dicky Fanani, Myrna Sawitri, Eko Febrianto, Awan Tjatur, Dian Nurhani, Silviana Puspitarini, dan Juliandika Lospha, berbagai agenda pengembangan organisasi mulai dirumuskan.
Selain company visit, terdapat gagasan penyelenggaraan webinar bisnis secara rutin setiap bulan yang melibatkan mahasiswa, alumni, dan masyarakat umum. Narasumber direncanakan berasal dari kalangan alumni berbagai komisariat fakultas, dengan tema seputar dunia bisnis dan kewirausahaan.
Airlangga Biz Com juga berpartisipasi dalam kegiatan Job Fair yang diselenggarakan IKA UNAIR bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja Jawa Timur. Partisipasi tersebut dirancang melalui booth dan sesi talkshow.

Dalam pelaksanaannya pada 28-29 Oktober 2026 di Convention Hall Grand City Mall Surabaya, keterlibatan Airlangga Biz Com diwujudkan melalui partisipasi sebagai pengisi sesi talkshow.
Sementara itu, gagasan pengabdian masyarakat melalui program Makan Siang Gratis (MSG) menjadi salah satu agenda yang telah direalisasikan.
Program ini menyasar pekerja informal, seperti pengemudi ojek daring, kuli bangunan, dan kelompok pekerja lain yang sehari-hari menggantungkan penghasilan dari pekerjaan sektor informal.
Konsepnya relatif sederhana. Setiap bulan, kegiatan direncanakan berlangsung di outlet, warung, atau restoran yang berbeda. Para pekerja dapat menikmati makanan di tempat dengan menggunakan kupon yang mekanismenya diinformasikan sebelumnya.
Untuk mendukung keberlanjutan program, Airlangga Biz Com juga membuka peluang donasi dari anggota maupun pihak lain yang ingin berpartisipasi.
Ada pesan menarik di balik program tersebut. Ekosistem bisnis tidak semestinya hanya berbicara tentang keuntungan dan pertumbuhan usaha. Ia juga perlu memiliki kepekaan sosial terhadap kelompok masyarakat yang bekerja keras di sektor informal.

Ketika pelaku usaha bersedia berbagi sebagian sumber dayanya, komunitas bisnis dapat menjadi jembatan antara kekuatan ekonomi dan kepedulian sosial.
Di sisi lain, perjalanan program kerja tersebut juga memperlihatkan bahwa tidak semua rencana dapat langsung direalisasikan. Sejumlah agenda masih membutuhkan tindak lanjut dan penyesuaian. Hal ini menjadi bagian dari proses pembelajaran organisasi dalam menentukan prioritas, mengelola sumber daya, dan menjaga konsistensi pelaksanaan program.
Sebuah organisasi tidak dinilai hanya dari panjangnya daftar program kerja, melainkan dari kemampuannya mengubah gagasan menjadi kegiatan yang benar-benar memberikan manfaat.
Menyiapkan 2027: Memperluas Jaringan, Mempertemukan Potensi
Pertemuan REBOAN pada Oktober dan November menjadi momentum untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus menyiapkan program kerja 2027.
Salah satu arah yang mengemuka adalah memperluas silaturahmi dan melakukan visitasi kepada alumni UNAIR yang bergerak di berbagai bidang bisnis, terutama melalui jaringan IKA komisariat, cabang, maupun wilayah.
Langkah ini penting karena potensi bisnis alumni tidak hanya berada di lingkungan pengurus atau anggota Airlangga Biz Com yang selama ini aktif.
Ada banyak alumni yang telah membangun usaha, mengelola perusahaan, mengembangkan layanan profesional, atau merintis bisnis di berbagai sektor, tetapi belum tentu mengetahui keberadaan komunitas ini.
Visitasi menjadi salah satu cara untuk mempertemukan mereka.
Di sisi lain, pengenalan organisasi juga membuka peluang agar lebih banyak alumni memahami bahwa Airlangga Biz Com bukan sekadar komunitas berkumpulnya para pengusaha. Ada ruang untuk berbagi, belajar, membangun kemitraan, dan mengembangkan usaha bersama.
Perluasan jejaring tersebut diharapkan dapat meningkatkan eksistensi dan kontribusi Airlangga Biz Com di lingkungan alumni UNAIR, sekaligus membuka peluang sinergi dengan berbagai elemen almamater.
Dengan demikian, komunitas ini tidak hanya tumbuh dari dalam, tetapi juga semakin terhubung dengan jaringan alumni yang lebih luas.
Ada satu dimensi lain yang mulai mendapat perhatian dalam pengembangan Airlangga Biz Com, yakni membangun eksistensi organisasi melalui publikasi dan komunikasi publik.
Sebab, sekuat apa pun jejaring bisnis yang dibangun, sebesar apa pun potensi yang dimiliki para alumni, semuanya membutuhkan ruang agar dikenal, dipahami, dan terhubung dengan masyarakat yang lebih luas.
Di sinilah media memiliki peran strategis. Bukan semata-mata sebagai saluran promosi organisasi, melainkan sebagai ruang untuk memperkenalkan gagasan, membagikan pengalaman bisnis, menyebarluaskan pengetahuan, serta menunjukkan kontribusi nyata komunitas alumni bagi lingkungan sosial dan ekonomi.
Airlangga Biz Com mulai membidik kolaborasi dengan berbagai platform media, baik cetak, elektronik, maupun online. Pendekatan ini diharapkan membuka ruang komunikasi yang lebih luas sekaligus memperkuat posisi organisasi sebagai komunitas bisnis alumni yang aktif, produktif, dan memiliki kontribusi nyata.
Salah satu peluang kolaborasi yang diarahkan adalah dengan Radio Suara Muslim melalui program Dimensi dan Jelita. Melalui kedua program tersebut, direncanakan kehadiran narasumber dari Airlangga Biz Com secara rutin satu bulan sekali.
Forum siaran ini dapat menjadi ruang berbagi pengalaman bisnis, membicarakan dinamika dunia usaha, memperkenalkan profil pengusaha alumni, sekaligus mengangkat gagasan yang relevan bagi masyarakat.
Kolaborasi dengan KLik FM juga menjadi bagian dari arah pengembangan komunikasi publik tersebut. Melalui program-program siaran yang tersedia, Airlangga Biz Com berpeluang memperkenalkan eksistensi organisasi, aktivitas, program kerja, serta kontribusi para alumni kepada pendengar yang lebih luas.

Sementara itu, media online seperti Cakrawarta.com dan jejaring media digital lainnya dapat menjadi mitra strategis untuk mengembangkan publikasi yang lebih berkelanjutan.
Berbagai aktivitas, profil pengusaha alumni, kisah perjalanan membangun usaha, gagasan bisnis, hingga program pengabdian masyarakat dapat diolah menjadi produk jurnalistik yang informatif dan inspiratif.
Jika dikembangkan secara konsisten, pendekatan ini bukan hanya memperluas jangkauan informasi organisasi, tetapi juga membuka peluang baru bagi para anggota. Pengusaha alumni dapat memperoleh ruang untuk memperkenalkan produk dan layanan, membangun reputasi, memperluas jaringan, serta menemukan calon mitra bisnis melalui eksposur media.
Lebih jauh, publikasi juga dapat menjadi sarana dokumentasi perjalanan organisasi. Setiap program yang dijalankan, setiap kolaborasi yang terbentuk, dan setiap kontribusi yang dihasilkan dapat menjadi rekam jejak yang memperlihatkan bagaimana sebuah komunitas alumni bertumbuh dan memberikan manfaat.
Dengan demikian, komunikasi publik tidak lagi ditempatkan sebagai pelengkap kegiatan organisasi. Ia menjadi bagian dari strategi membangun ekosistem bisnis alumni.
Sebab, dalam dunia yang semakin terkoneksi seperti saat ini, potensi yang tidak dikomunikasikan berisiko tidak diketahui. Sebaliknya, gagasan dan aktivitas yang dikemas melalui publikasi berkualitas dapat menjangkau lebih banyak orang, menginspirasi pelaku usaha lain, sekaligus mempertemukan peluang yang sebelumnya tidak terlihat.
Airlangga Biz Com terlihat sedang mencoba memperluas ruang geraknya, dari meja pertemuan ke ruang-ruang bisnis, dari jejaring internal alumni ke masyarakat luas, dan dari percakapan di kedai kopi menuju ruang publik melalui media.
IMPACT: Ukuran Keberhasilan Sebuah Komunitas
Last but not least, REBOAN menyimpan gagasan yang lebih besar daripada sekadar agenda rutin setiap hari Rabu.
Ia merupakan upaya membangun kebiasaan organisasi yang hidup melalui interaksi, bukan hanya melalui struktur kepengurusan. Sebuah komunitas yang bertumbuh karena anggotanya saling mengenal, saling percaya, dan bersedia membuka peluang bagi sesama.
Dalam konteks alumni perguruan tinggi, kekuatan semacam ini sesungguhnya merupakan modal sosial yang sangat berharga. Gelar akademik, pengalaman profesional, jejaring, dan kemampuan mengelola usaha adalah aset yang dapat memberikan nilai tambah ketika dipertemukan dalam ruang kolaborasi.
Namun, semua itu membutuhkan konsistensi. Pertemuan bulanan perlu terus dijaga, program kerja harus dievaluasi, dan setiap gagasan perlu memiliki tindak lanjut yang jelas.
Sebab, ukuran keberhasilan organisasi bukanlah seberapa sering anggotanya berkumpul, melainkan seberapa banyak manfaat yang dapat dihasilkan dari pertemuan tersebut.
Tagline IMPACT yang diusung Airlangga Biz Com menemukan relevansinya di sini yakni bagaimana keberadaan komunitas memberikan dampak bagi alumni, almamater, dunia usaha, dan masyarakat.
Dari Diskusi Kopi, Pagi Pagi Coffee, hingga berbagai tempat usaha alumni lainnya, REBOAN sedang mencoba membangun tradisi baru. Tradisi yang menjadikan silaturahmi sebagai pintu masuk kolaborasi, bisnis sebagai ruang pembelajaran, publikasi sebagai jembatan komunikasi, dan kepedulian sosial sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.
Mungkin memang tidak semua kesepakatan bisnis lahir dalam satu kali pertemuan. Tidak semua gagasan langsung menjadi program, dan tidak setiap program segera menghasilkan dampak besar.
Tetapi, sebuah ekosistem tidak dibangun dalam sehari.
Ia tumbuh dari perjumpaan yang berulang, percakapan yang terbuka, kepercayaan yang dirawat, dan kemauan untuk bergerak bersama.
Dan menutup tulisan sederhana ini, di sinilah makna REBOAN Airlangga Biz Com menemukan relevansinya, dari secangkir kopi, merawat persaudaraan, mempertemukan potensi, menggerakkan ekonomi alumni, dan perlahan menghadirkan dampak yang lebih luas bagi almamater serta masyarakat. Semoga.(*)
Kontributor: Myrna Savitri dan Abdel Rafi
Editor: Umar Faruq







