
SURABAYA – Mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah masih menjadi salah satu harapan terbesar banyak anak muda. Namun, di tengah perubahan dunia kerja yang berlangsung semakin cepat, ijazah dan gelar akademik tidak selalu cukup untuk membuka pintu kesempatan.
Perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang mampu beradaptasi, sementara dunia usaha menuntut kreativitas, keberanian mengambil risiko, dan kepekaan membaca kebutuhan pasar. Di antara dua tuntutan itu, generasi muda ditantang untuk tidak sekadar menunggu lowongan pekerjaan, tetapi juga belajar mengenali peluang dan menciptakan ruang produktifnya sendiri.
Persoalan tersebut mengemuka dalam perbincangan yang digelar Airlangga Business Community (Airlangga BizCom) pada rangkaian Job Fair Inklusif 2026 di Convention Hall Grand City Surabaya, Kamis (29/10/2026).
Di hadapan mahasiswa, lulusan baru, pencari kerja, dan pelaku usaha, Ketua Airlangga BizCom Dicky Fanani mengingatkan bahwa kemampuan membaca perubahan merupakan salah satu modal penting untuk bertahan sekaligus berkembang di tengah dinamika ekonomi.
Menurut dia, seseorang perlu memiliki kemampuan untuk mengenali peluang, mengambil tindakan, dan mengubah pendekatan ketika cara yang digunakan tidak lagi relevan.
Dalam kajian manajemen strategis, kemampuan tersebut dikenal sebagai dynamic managerial capability, yang mencakup tiga unsur utama: sensing, seizing, dan transforming.
Ketiganya menggambarkan proses yang saling berkaitan. Pertama, kepekaan membaca kebutuhan dan perubahan di sekitar. Kedua, keberanian mengambil peluang melalui tindakan nyata. Ketiga, kemampuan mengevaluasi serta memperbaiki cara kerja agar tetap sesuai dengan perkembangan lingkungan.
Bagi Dicky, kemampuan semacam itu tidak harus menunggu seseorang menduduki posisi manajerial atau memiliki perusahaan sendiri. Mahasiswa bahkan dapat mulai melatihnya ketika masih berada di bangku kuliah.
Caranya dapat dimulai dari hal sederhana: mendengarkan persoalan orang lain, mengenali kebutuhan yang belum terpenuhi, kemudian mencoba menawarkan solusi.
Gagasan tersebut sekaligus menggeser cara pandang tentang kesiapan memasuki dunia kerja. Pengalaman tidak semata-mata diperoleh setelah seseorang diterima di sebuah perusahaan. Pengalaman justru dapat dibangun melalui inisiatif, proyek kecil, kegiatan organisasi, maupun upaya menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitar.
Dicky mendorong peserta untuk tidak berhenti pada gagasan. Mereka diminta mencoba satu solusi sederhana, mengamati hasilnya, lalu melakukan perbaikan.
Ia bahkan menawarkan tantangan selama 30 hari: menemukan satu masalah, menguji satu solusi, dan memperlihatkan hasil dari upaya tersebut.
Pesan itu relevan di tengah situasi ketika persaingan memperoleh pekerjaan semakin menuntut kombinasi antara kompetensi teknis, kemampuan komunikasi, kreativitas, dan kemauan belajar.
Menciptakan Peluang dari Industri Kegiatan
Jika Dicky berbicara tentang kemampuan membaca dan mengelola peluang, Ketua Bidang 4 Airlangga BizCom, Eko Febrianto atau yang akrab disapa Cak Eko, menawarkan gambaran yang lebih konkret mengenai salah satu bidang usaha yang dapat dijajaki generasi muda: jasa penyediaan tenaga kerja untuk kegiatan atau manpower event organizer.
Selama ini, industri penyelenggaraan acara kerap dipandang sebatas urusan panggung, hiburan, dan keramaian. Padahal, di balik sebuah pameran, seminar, konser, maupun kegiatan korporasi, terdapat kebutuhan tenaga kerja dengan beragam keterampilan.
Ada petugas registrasi, penerima tamu, tenaga promosi, kru lapangan, operator audio visual, pembawa acara, hingga moderator. Setiap posisi memiliki tanggung jawab dan membutuhkan kemampuan yang berbeda.
Ragam kebutuhan tersebut membuka ruang bagi mahasiswa dan lulusan baru untuk memperoleh pengalaman sekaligus mengembangkan usaha jasa.
Bagi mereka yang belum memiliki modal besar untuk membangun bisnis, bidang ini dapat menjadi salah satu pintu masuk. Modal awalnya tidak selalu berupa kantor atau peralatan mahal, melainkan kemampuan mengorganisasi orang, membangun jejaring, menjaga komunikasi, dan memastikan pekerjaan berjalan sesuai kesepakatan.
Namun, Cak Eko mengingatkan bahwa bisnis jasa tidak cukup dibangun dengan kemampuan mencari klien. Kepercayaan justru menjadi fondasi yang menentukan keberlanjutan usaha.
Penyedia jasa harus mampu menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan, memberikan pengarahan sebelum kegiatan, menjaga kedisiplinan, serta memastikan pembagian tugas dan pembayaran disepakati secara jelas.
Di sektor yang sangat bergantung pada reputasi tersebut, satu pengalaman buruk dapat memengaruhi kepercayaan pelanggan. Sebaliknya, pelayanan yang konsisten dapat membuka peluang kerja sama berikutnya.
Media sosial juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang memperkenalkan layanan dan membangun portofolio. Dokumentasi kegiatan, pengalaman menangani acara, serta testimoni pelanggan dapat menjadi bukti profesionalitas yang membantu calon klien mengenali kualitas layanan.
Dengan demikian, kegiatan yang semula hanya menjadi pekerjaan sementara dapat berkembang menjadi pengalaman profesional, bahkan menjadi embrio usaha yang lebih serius.
Dari Job Seeker Jadi Job Creator
Dua gagasan yang disampaikan dalam forum tersebut memperlihatkan satu benang merah bahwasanya masa depan generasi muda tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan lapangan pekerjaan, tetapi juga oleh kemampuan mereka merespons perubahan dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
Meski demikian, mendorong anak muda menjadi kreatif dan adaptif bukan berarti seluruh tanggung jawab atas persoalan ketenagakerjaan harus dibebankan kepada individu.
Ketersediaan lapangan kerja yang layak, akses terhadap pelatihan, kesesuaian pendidikan dengan kebutuhan industri, serta perlindungan bagi pekerja tetap menjadi bagian penting dari ekosistem ketenagakerjaan yang harus dibangun bersama.
Kreativitas dan kewirausahaan memang dapat membuka alternatif, tetapi keduanya tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan persoalan struktural yang membuat sebagian anak muda kesulitan memperoleh pekerjaan.
Di sinilah pentingnya mempertemukan dunia pendidikan, komunitas bisnis, pelaku industri, dan pemerintah. Kolaborasi diperlukan agar kemampuan generasi muda tidak berhenti sebagai potensi, tetapi memperoleh ruang untuk tumbuh dan menghasilkan nilai ekonomi maupun sosial.
Airlangga BizCom, sebagai komunitas bisnis dalam jejaring alumni Universitas Airlangga, berupaya mengambil bagian dalam proses tersebut melalui pengembangan kapasitas, perluasan jejaring, dan kolaborasi antaranggota maupun masyarakat.
Partisipasi komunitas itu dalam Job Fair Inklusif 2026 menjadi salah satu upaya memperkenalkan perspektif bahwa dunia kerja dan dunia usaha tidak harus dipandang sebagai dua pilihan yang saling berlawanan.
Seseorang dapat memulai perjalanan profesional dengan bekerja, mengembangkan keterampilan, membangun jejaring, kemudian merintis usaha. Sebaliknya, pengalaman berwirausaha juga dapat menjadi bekal untuk memasuki dunia kerja dengan pemahaman yang lebih luas mengenai kebutuhan industri.
Last but not least, tantangan generasi muda bukan sekadar bagaimana mendapatkan pekerjaan pertama. Lebih dari itu, bagaimana membangun kemampuan agar tetap relevan, produktif, dan mampu menciptakan kesempatan di tengah perubahan.(*)
Kontributor: Dicky F
Editor: Abdel Rafi








