Sejarah yang Belum Selesai

Tokyo, menjelang akhir Oktober. Kota itu menyambut ribuan orang yang datang dengan satu kesibukan yang tampaknya sederhana: menonton film. Tapi di balik layar lebar, lampu yang diredupkan, dan tepuk tangan seusai pemutaran, festival film internasional menyimpan kesibukan lain.

Di situlah produser mencari distributor, sutradara mencari penonton, perusahaan mencari mitra, dan film-film dari berbagai penjuru dunia berebut kesempatan untuk diperhatikan. Di situ karya seni bertemu pasar, gagasan bertemu reputasi, dan idealisme sesekali harus berkenalan dengan kuitansi.

Pada 26 Oktober-4 November 2026, Tokyo International Film Festival (TIFF) kembali menggelar perhelatan tahunannya. Salah satu film yang akan bersaing dalam kompetisi utamanya ialah “Merah Sebelum Fajar” (Red Before Dawn), karya terbaru Garin Nugroho, yang jadi penulis cerita sekaligus sutradara.

Film itu menjalani pemutaran perdana dunia di Tokyo, Jepang, pada 27 Oktober kemarin, sebelum beredar lebih luas di hadapan penonton Indonesia. Jadi, filmnya diputar dulu ke dunia, barulah disajikan ke penonton Tanah Air.

Garin datang membawa film bukan sekadar meramaikan daftar tontonan. Ia membawa sebuah cerita tentang Indonesia pada 1946, ketika kemerdekaan sudah diproklamasikan, tetapi negeri ini belum benar-benar menemukan ketenangan.

Nama Garin tentu bukan nama yang baru belajar mengetuk pintu festival. Selama puluhan tahun, ia membangun reputasi sebagai sutradara yang gemar menyusuri wilayah pertemuan sejarah, budaya, politik, dan eksperimen artistik.

Film-filmnya tidak selalu menawarkan kenyamanan seperti kursi empuk di bioskop. Ia sering mengajak penonton memasuki ruang yang lebih rumit: tempat simbol berbicara, sejarah menyisakan luka, dan manusia tidak selalu mudah dibedakan menjadi pahlawan atau penjahat.

Karena itu, kehadiran film barunya di Tokyo layak mendapat perhatian, meskipun nama besar sutradara tidak otomatis menjamin mutu setiap karya.

Yang membuat kabar ini menarik, “Merah Sebelum Fajar” menjadi salah satu dari 15 film yang terpilih di antara 1.892 karya yang diajukan ikut kompetisi utama TIFF ke-39. Menurut data resmi festival, karya-karya tersebut berasal dari 112 negara dan wilayah.

Angka 1.892 itu menunjukkan betapa padatnya antrean film yang ingin mendapatkan tempat, sedangkan 15 film terpilih memperlihatkan betapa sempitnya pintu kompetisi. Film Garin termasuk di antara sedikit karya yang berhasil melewati proses seleksi tersebut.

Ada satu hal yang perlu diluruskan agar kebanggaan kita tidak tumbuh di atas angka yang keliru. Sejumlah pemberitaan menyebut 1.892 film dari 31 negara. Informasi resmi TIFF membedakan dua hal: festival menerima 1.892 pengajuan dari 112 negara dan wilayah, sedangkan kompetisi utamanya memilih 15 film yang mewakili 31 negara dan wilayah.

Perbedaan itu bukan soal remeh-temeh administrasi. Dalam urusan prestasi, angka harus ikut disiplin. Kita boleh membunyikan gong kebanggaan, tetapi jangan sampai pemukulnya terbuat dari statistik yang salah.

Lolos seleksi tentu bukan perkara mengirim formulir, membayar biaya pendaftaran, lalu menunggu panitia menyebut nama. Kurator festival harus mempertimbangkan mutu artistik, kekuatan penceritaan, kebaruan sudut pandang, dan relevansi karya dalam lanskap sinema dunia.

Kita tidak mengetahui secara terperinci alasan para penyeleksi memilih film Garin. Karena itu, kita tidak perlu mengarang pujian seolah-olah duduk di ruang kurasi bersama mereka. Fakta yang dapat kita pegang sudah cukup berarti. Di antara ribuan pengajuan, “Merah Sebelum Fajar” memperoleh tempat di kompetisi utama.

Lantas, untuk apa Garin membawa filmnya ke Tokyo? Apakah ia ingin menjual film, mencari nama, atau sekadar menambah daftar prestasi? Deretan pertanyaan ini terdengar sinis, tetapi sesungguhnya menyentuh kenyataan industri film.

Sebuah film memerlukan penonton, dan penonton tidak selalu datang hanya karena sutradaranya memiliki gagasan yang bagus. Film juga membutuhkan jalur distribusi, mitra produksi, promosi, serta kesempatan menjangkau pasar yang lebih luas. Festival internasional menyediakan ruang bagi semua kepentingan itu untuk bertemu.

TIFF sendiri tidak berdiri semata-mata sebagai panggung penghargaan. Bersamaan dengan festival, Tokyo juga menjadi tempat berlangsungnya TIFFCOM, pasar konten yang mempertemukan pemilik karya, produser, pembeli, distributor, dan calon mitra dari berbagai negara.

Para pelaku industri dapat membicarakan hak distribusi, kerja sama produksi, pembiayaan, hingga peluang adaptasi karya. Dengan demikian, festival dapat menjadi pintu menuju pasar, meskipun keikutsertaan dalam kompetisi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa sebuah film telah terjual atau memperoleh kontrak distribusi.

Maka, mempertentangkan seni dengan jualan justru membuat kita terjebak dalam pilihan palsu. Garin boleh menginginkan pengakuan artistik sekaligus kesempatan komersial. Produser boleh berharap filmnya mendapatkan penghargaan sekaligus kembali modal. Keduanya tidak saling membatalkan.

Bahkan, semakin luas sebuah film menjangkau penonton, semakin besar peluang gagasan di dalamnya menyeberangi batas bahasa dan kebangsaan. Yang patut dipertanyakan bukan apakah pembuat film ingin memperoleh keuntungan, melainkan apakah kepentingan pasar membuatnya kehilangan keberanian untuk bercerita.

Kita juga perlu membedakan reputasi dengan kualitas. Festival dapat memberikan panggung, mempertemukan karya dengan kritikus, dan membuka percakapan internasional. Namun, reputasi tidak bekerja seperti sertifikat yang membuat semua adegan otomatis bermutu.

Penghargaan pun bukan surat sakti yang membebaskan sebuah film dari kritik. Kita tetap perlu menilai bagaimana cerita dibangun, bagaimana tokoh-tokohnya berkembang, bagaimana gambar dan suara bekerja, serta apakah pesan yang hendak disampaikan benar-benar sampai kepada penonton.

Festival membuka pintu; film itu sendiri harus membuktikan apa yang dibawanya. Sampai di sini, kita memasuki wilayah yang lebih menarik: mengapa Garin kembali memilih sejarah? Mengapa bukan kisah keluarga kontemporer, romansa perkotaan, atau drama tentang masyarakat yang bergulat dengan telepon pintar?

Jawabannya mungkin terletak pada keyakinan bahwa masa lalu bukan gudang barang antik yang hanya berguna untuk dipajang saat peringatan hari kemerdekaan. Sejarah adalah laboratorium kehidupan manusia. Di sana kita dapat menyaksikan bagaimana orang mengambil keputusan ketika aturan belum mapan, kekuasaan masih diperebutkan, dan masa depan belum memberikan kepastian.

Pilihan tahun 1946 sangat penting. Proklamasi 17 Agustus 1945 memang menandai kelahiran Republik Indonesia, tetapi pengakuan politik atas kemerdekaan tidak serta-merta menghadirkan keamanan dan persatuan.

Republik muda menghadapi perjuangan mempertahankan kedaulatan, konflik bersenjata, persoalan diplomasi, serta ketegangan di antara kelompok-kelompok yang berbeda pandangan.

Kemerdekaan telah diumumkan, tetapi bentuk kehidupan bersama yang hendak dibangun masih harus diperjuangkan. Dalam keadaan seperti itu, garis pemisah antara keberanian, ketakutan, kepentingan, dan pengkhianatan tidak selalu tampak jelas.

Film Garin mengambil latar dari masa yang penuh ketidakpastian itu. Menurut keterangan resmi festival, ceritanya mengikuti seorang geolog muda bernama Frans, yang diperankan Nicholas Saputra.

Si geolog menjalankan misi melintasi Sumatra menuju Yogyakarta untuk membawa dokumen penyelidikan. Perjalanan tersebut berlangsung di tengah gejolak pascakemerdekaan.

Keterangan produksi juga memperkenalkan tokoh-tokoh dengan latar sosial dan pandangan yang berbeda, termasuk Kamila, Tirta, Hadi, dan Anis. Mereka tidak hanya menghadapi kesulitan perjalanan, tetapi juga harus berhadapan dengan perbedaan keyakinan dan kecurigaan.

Di sinilah sejarah berpotensi menjadi lebih dari dekorasi. Sebuah dokumen rahasia dapat menggerakkan cerita, tetapi makna yang lebih besar justru mungkin muncul dari orang-orang yang harus membawanya.

Di situ muncul pertanyaan, apa arti perjuangan jika setiap orang mempunyai definisi berbeda tentang cara menyelamatkan negeri? Bagaimana seseorang menentukan kesetiaan ketika orang yang berdiri di sampingnya memiliki kepentingan yang tidak ia pahami? Dan bagaimana sebuah bangsa membangun kepercayaan ketika ancaman datang dari luar sekaligus tumbuh di antara mereka sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat latar 1946 terasa dekat dengan persoalan manusia pada zaman apa pun. Kita tidak harus menyamakan situasi Indonesia hari ini dengan keadaan republik yang baru lahir. Konteks sejarahnya berbeda, begitu pula tantangan politik dan sosialnya.

Namun, persoalan tentang kepercayaan, pertentangan kepentingan, dan kesulitan membangun tujuan bersama tetap dapat mengundang percakapan lintas zaman. Sejarah menjadi relevan bukan karena masa lalu persis berulang, melainkan karena ia membantu kita mengenali pola perilaku manusia yang terus muncul dalam bentuk baru.

-000-

Namun, kita harus berhati-hati sebelum menyimpulkan pesan akhir film ini. “Merah Sebelum Fajar” belum menjalani pemutaran perdananya di Tanah Air ketika tulisan ini disusun. Kita baru mengetahui sinopsis, latar sejarah, karakter, dan keterangan pembuatnya.

Karena itu, menyebutnya sebagai mahakarya, kegagalan, atau film yang berhasil membongkar watak bangsa akan menjadi penilaian prematur. Kritik film yang sehat tidak boleh mengganti adegan yang belum ditonton dengan imajinasi kritikus sendiri.

Kita dapat membaca arah gagasannya, menguji relevansi temanya, dan menunggu bagaimana Garin menerjemahkan semua itu ke dalam bahasa sinema. Justru karena film ini belum diputar, ada baiknya kita menaruh perhatian pada tantangan yang menunggu Garin.

Film sejarah harus mampu menghidupkan masa lampau tanpa menjadikannya kuliah sejarah yang kebetulan memiliki gambar bergerak. Penonton datang ke bioskop boleh menghafal tahun, nama tokoh, atau urutan peristiwa. Mereka datang untuk mengalami sebuah cerita. Fakta sejarah memberikan fondasi, sedangkan tokoh, konflik, dialog, ritme, dan pilihan visual mengubah fondasi itu menjadi pengalaman manusiawi.

Bahaya lain mengintai ketika film sejarah terlalu sibuk membagi manusia ke dalam dua kotak: patriot dan pengkhianat, pejuang dan pengecut, orang benar dan orang sesat. Pembagian semacam itu memang mudah dipahami, tetapi kehidupan manusia jarang sesederhana papan catur.

Orang yang menginginkan kemerdekaan dapat berbeda pendapat mengenai jalan yang harus ditempuh. Seorang diplomat mungkin memilih kompromi karena menghitung risiko perang, sedangkan seorang pejuang menolak kompromi karena melihatnya sebagai ancaman terhadap kedaulatan.

Keduanya dapat mengaku mencintai negeri, tetapi memiliki penilaian yang berbeda mengenai harga yang layak dibayar. Perbedaan semacam itu bukan alasan untuk menghapus pertanggungjawaban moral. Memahami alasan seseorang bertindak tidak berarti membenarkan tindakannya.

Namun, film yang berani memberi ruang bagi pertentangan motif akan membuat sejarah terasa lebih hidup daripada cerita yang hanya membagi tokoh menjadi malaikat dan setan. Penonton pun mendapat kesempatan untuk berpikir, bukan sekadar menerima instruksi tentang siapa yang harus dikagumi dan siapa yang harus dibenci.

Jika Garin mampu memanfaatkan kerumitan tersebut, “Merah Sebelum Fajar” berpeluang menghadirkan sesuatu yang lebih berharga daripada nostalgia perjuangan. Ia dapat mengajak kita memandang kemerdekaan sebagai pekerjaan yang tidak selesai ketika bendera berkibar dan lagu kebangsaan berkumandang.

Kemerdekaan juga menuntut kemampuan hidup bersama, menyelesaikan perbedaan, membangun kepercayaan, dan menjaga agar kepentingan kelompok tidak terus-menerus menyamar sebagai kepentingan bangsa.

Bayangkan sebuah rumah yang baru selesai dibangun setelah bertahun-tahun penghuninya bertarung untuk merebut tanahnya. Dindingnya berdiri, atapnya terpasang, dan pintunya sudah diberi nomor. Namun, para penghuni masih saling mencurigai, berebut kamar, dan menuduh tetangga akan mencuri kunci. Rumah itu memang sudah merdeka dari pemilik lama, tetapi belum tentu menjadi tempat tinggal yang tenteram.

Metafora ini tentu bukan ringkasan film Garin, melainkan salah satu cara membaca persoalan yang mungkin dipantulkannya: memenangkan kemerdekaan tidak otomatis membuat manusia pandai mengelola kebebasan.

-000-

Di titik itulah judul “Merah Sebelum Fajar” mengundang tafsir. Merah dapat mengingatkan kita pada bendera, keberanian, darah, atau harga yang harus dibayar untuk mempertahankan kemerdekaan. Fajar dapat menandai harapan akan masa depan.

Tapi jarak di antara keduanya menyimpan ketegangan: apa yang harus dilalui sebuah bangsa sebelum benar-benar melihat cahaya? Kita tidak perlu menetapkan satu makna sebagai jawaban resmi. Judul yang baik justru menyediakan ruang bagi penonton untuk menemukan pertanyaan mereka sendiri.

Pilihan Garin membawa cerita ini ke Tokyo juga membuka kesempatan bagi sejarah Indonesia untuk dibaca dari luar negeri. Penonton Jepang dan negara lain tidak harus memiliki pengetahuan mendalam tentang Revolusi Indonesia untuk memahami ketakutan, ambisi, pengorbanan, atau kecurigaan para tokohnya.

Di sinilah sinema dapat bekerja sebagai penerjemah pengalaman manusia. Film tidak perlu mengubah Indonesia menjadi sesuatu yang eksotis demi memikat penonton asing. Ia justru perlu menyampaikan pengalaman lokal secara jujur, rinci, dan kuat sehingga orang yang tidak mengenal latarnya tetap dapat merasakan persoalan manusianya.

Tentu, kesempatan itu datang bersama risiko. Agar mudah diterima pasar internasional, pembuat film kadang tergoda menyederhanakan konteks lokal atau mengemas sejarah menjadi sesuatu yang sudah akrab bagi penonton asing.

Sebaliknya, film yang terlalu mengandalkan pengetahuan lokal dapat membuat penonton luar kesulitan mengikuti cerita. Tantangannya bukan memilih antara Indonesia dan dunia, melainkan menemukan bahasa sinema yang berakar pada pengalaman Indonesia sekaligus mampu berkomunikasi melampaui batas negara.

Bagi perfilman Indonesia, keberhasilan memasuki kompetisi utama TIFF patut kita sambut sebagai kabar baik. Namun, dukungan yang dewasa tidak berhenti pada penyebaran poster, penghitungan prestise, atau kebanggaan bahwa film kita berdiri sejajar dengan film dari negara lain.

Kita perlu membangun ekosistem yang memungkinkan karya-karya semacam ini tumbuh: pendidikan perfilman yang baik, dukungan produksi, pengarsipan sejarah, kritik yang serius, distribusi yang sehat, dan ruang tayang yang memberi kesempatan kepada film dengan beragam pendekatan artistik.

Kita juga perlu memperluas cara memandang prestasi sinema. Film yang menang penghargaan tidak otomatis menjadi tontonan terbaik bagi setiap orang. Film yang gagal membawa pulang piala tidak otomatis kehilangan nilainya.

Begitu pula, satu film yang berhasil menembus festival tidak berarti seluruh industri nasional telah maju. Prestasi individual patut dihargai, tetapi kemajuan industri membutuhkan kerja panjang yang melibatkan sutradara, penulis skenario, aktor, kru, produser, sekolah film, bioskop, distributor, dan penonton.

Yang jelas, Tokyo akan menjadi tempat pertemuan antara sebuah film Indonesia dan dunia yang lebih luas. Garin membawa sejarah ke layar, tetapi penontonlah yang kelak menguji daya hidup ceritanya.

Apakah perjalanan Frans dan kawan-kawannya mampu mengubah angka tahun 1946 menjadi pengalaman yang terasa dekat? Apakah konflik mereka membuka pemahaman baru tentang kemerdekaan? Apakah bahasa visual Garin memperkaya cerita atau justru membuatnya berjarak? Jawabannya menunggu pemutaran film, bukan sekadar pengumuman seleksi.

Kita boleh bangga bahwa “Merah Sebelum Fajar” berhasil melewati seleksi ketat festival bergengsi. Kita juga boleh berharap film itu menemukan distributor, penonton, dan percakapan baru di berbagai negara.

Tetapi kebanggaan paling sehat ialah kebanggaan yang tidak menutup mata terhadap kritik. Sebab, sejarah tidak membutuhkan pemujaan yang berlebihan, sebagaimana sinema tidak membutuhkan penonton yang menyerahkan penilaiannya kepada reputasi sutradara.

Kemerdekaan adalah cerita panjang yang tidak selesai ketika fajar pertama tiba. Dan film sejarah yang baik semestinya tidak sekadar menunjukkan betapa gagahnya orang-orang yang memperjuangkannya, tetapi juga mengajak kita memikirkan apa yang mereka perjuangkan, mengapa mereka berbeda pendapat, serta bagaimana generasi sesudahnya meneruskan pekerjaan itu.

Kita menunggu “Merah Sebelum Fajar” menjawab tantangan tersebut. Garin sudah memiliki nama besar, sementara sejarah bangsa ini masih menyimpan begitu banyak pertanyaan yang layak dibawa ke layar lebar.(*)

Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 28 Oktober 2026

AHMADIE THAHA (Cak AT)

Wartawan SeniorĀ