Narkoba Mengalir, Penjara Meluap

Di balik setiap pengungkapan narkoba, ada keluarga yang berharap anaknya tidak menjadi korban berikutnya. Ada ibu yang menunggu anak pulang, guru yang melihat murid kehilangan semangat belajar, dan orang tua yang menghabiskan tabungan untuk membiayai pemulihan. Bagi mereka, narkoba bukan sekadar barang sitaan yang dipajang dalam konferensi pers. Ia hadir sebagai kecemasan yang terbawa hingga ke meja makan.

Pengungkapan muatan kapal MT Global 168 di perairan Sumatera Utara kembali memperlihatkan besarnya ancaman itu. Laporan ANTARA pada 23 Oktober 2026 menyebutkan penyitaan 1,16 ton ketamin dan pengamanan delapan awak kapal. Angka tersebut perlu dibedakan dari penyitaan sabu dalam operasi lain agar keberhasilan penindakan diberitakan secara akurat. Namun, pertanyaan terpenting tetap sama yaitu siapa pemodalnya, siapa penerimanya, dan bagaimana jaringan itu bekerja?

Kita patut menghargai keberhasilan petugas. Namun, penangkapan harus menjadi pintu masuk untuk membongkar bisnis kejahatan, bukan penutup cerita setelah barang bukti dimusnahkan.

Sejarah Perang Candu mengingatkan kita bahwa perdagangan zat adiktif dapat berkelindan dengan kepentingan ekonomi dan kekuasaan. Pada abad ke-19, upaya pemerintah Dinasti Qing menghentikan perdagangan candu berbenturan dengan kepentingan dagang Inggris, lalu berkembang menjadi perang yang semakin memperburuk kedudukan Tiongkok.

Tentu, sejarah itu tidak dapat begitu saja disamakan dengan situasi Indonesia saat ini. Tidak setiap penyelundupan merupakan operasi negara asing. Tuduhan semacam itu memerlukan bukti. Pelajaran yang relevan justru lebih dekat bahwa keuntungan besar dapat membuat keselamatan manusia dianggap tidak berharga, terutama ketika pengawasan lemah dan kekuasaan dapat dibeli.

Karena itu, kewaspadaan terhadap jaringan internasional harus berjalan seiring dengan keberanian memeriksa kelemahan di dalam negeri. Perbatasan yang dijaga ketat tidak banyak berarti apabila informasi operasi bocor atau barang bukti kembali beredar.

Ketika Penjaga Menjadi Pelaku

Kasus Teddy Minahasa menyisakan luka kepercayaan yang mendalam. Mantan Kapolda Sumatera Barat itu dijatuhi pidana penjara seumur hidup pada 9 Mei 2023 dalam perkara peredaran sabu. Putusan tersebut kemudian dikuatkan hingga tingkat kasasi. Perkara ini menunjukkan bahwa jabatan tinggi tidak dengan sendirinya menjamin integritas.

Ketika aparat terlibat, kerusakannya berlapis. Narkoba mencelakakan masyarakat, sementara kewenangan negara justru digunakan untuk membantu kejahatan. Rakyat kemudian bertanya, kepada siapa perlindungan harus diminta jika penjaganya ikut mengambil keuntungan?

Jawabannya harus berupa pembenahan yang dapat diuji. Pengelolaan barang bukti memerlukan pencatatan yang tertib, pengujian, pengawasan berlapis, serta pemusnahan yang dapat diaudit. Penelusuran aliran uang harus menjangkau pemodal dan penerima keuntungan. Aparat yang terbukti melindungi jaringan harus diproses tanpa memandang pangkat maupun kedekatan.

Keberanian menangkap kurir harus disertai keberanian menyentuh orang-orang yang membiayai dan melindungi bisnisnya.

Bagi anak muda, penggunaan zat berbahaya dapat mengganggu masa perkembangan yang menentukan. Risiko terhadap kemampuan belajar, pengendalian diri, dan kesehatan jiwa perlu dijelaskan secara tepat. Dampaknya berbeda-beda, bergantung pada jenis zat, pola penggunaan, serta kondisi seseorang. Tidak semua penggunaan otomatis menimbulkan kerusakan otak permanen. Namun, kerentanan pada masa remaja cukup menjadi alasan untuk memperkuat pencegahan sejak dini.

Kerugian sering bermula dari perubahan kecil: sekolah terbengkalai, hubungan keluarga memburuk, kebutuhan uang meningkat, dan pergaulan menyempit. Ketika pertolongan terlambat diberikan, persoalan menjadi semakin rumit.

Pencegahan karena itu membutuhkan lebih dari sekadar spanduk dan ceramah. Sekolah perlu menyediakan konseling yang dipercaya murid. Orang tua membutuhkan pengetahuan untuk mengenali masalah tanpa langsung menghakimi. Puskesmas dan layanan pemulihan harus mudah dijangkau. Anak muda juga memerlukan ruang olahraga, kesenian, keterampilan, serta kesempatan bekerja.

Seorang remaja yang berani meminta pertolongan seharusnya menemukan tangan yang siap membantu.

Di sinilah persoalan narkoba bertemu dengan penjara yang sesak. Kelebihan kapasitas merupakan salah satu persoalan hilir yang terus diperberat oleh perkara narkotika. Meski bukan satu-satunya penyebab, persoalan ini tidak akan tuntas apabila respons negara terus bertumpu pada pemenjaraan.

Penambahan bangunan dapat membantu mengurangi kepadatan. Namun, selama pasokan terus berlangsung, perekrutan berlanjut, dan ketergantungan terlambat ditangani, ruang baru akan kembali terisi. Petugas pemasyarakatan akhirnya menanggung beban persoalan yang tumbuh jauh sebelum seseorang masuk tahanan.

Kita perlu membedakan peran dan kebutuhan setiap orang. Bandar pengendali, kurir, pengguna, serta orang dengan ketergantungan tidak dapat ditangani dengan pendekatan seragam. Pemeriksaan perkara dan asesmen harus dilakukan secara cermat agar penegakan hukum dan pemulihan ditempatkan secara tepat.

Pembedaan itu menentukan apakah kebijakan benar-benar memutus jaringan atau sekadar menambah penghuni penjara.

Pemasyarakatan Harus Membuka Jalan Pulang

Di dalam lapas, pengamanan wajib mencegah jaringan narkoba melanjutkan kendalinya. Pengawasan komunikasi, pemeriksaan, dan penindakan terhadap petugas yang terlibat harus berjalan konsisten. Pada saat yang sama, warga binaan membutuhkan pembinaan sesuai dengan risiko dan kebutuhannya.

Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan perlu memperkuat pemulihan ketergantungan, pembinaan rohani dan karakter, pendidikan, serta keterampilan kerja. Pelatihan harus terkait dengan kebutuhan pasar. Sertifikat akan kehilangan arti apabila setelah bebas seseorang tetap tidak memiliki jalan untuk memperoleh penghasilan.

Karena itu, kerja sama dengan perusahaan, koperasi, UMKM, dan lembaga pelatihan harus membuka kesempatan nyata. Bapas, keluarga, pemerintah daerah, serta layanan kesehatan perlu menyiapkan pendampingan sejak sebelum pembebasan.

Kita tidak boleh meminta seseorang meninggalkan jaringan lama tanpa membantunya membangun kehidupan baru.

Pemerintah memerlukan ukuran keberhasilan yang melampaui tonase sitaan seperti jaringan pendanaan yang terbongkar, kebocoran barang bukti yang dicegah, akses pemulihan yang membaik, serta berkurangnya pengulangan tindak pidana.

Komunikasi pemerintah juga harus jujur. Jelaskan pencapaian, akui celah pengawasan, dan sampaikan tindak lanjutnya. Kepercayaan tumbuh ketika masyarakat melihat upaya yang berlanjut setelah konferensi pers selesai.

Fakta penjara yang meluap mengingatkan kita bahwa terlalu banyak persoalan baru ditangani ketika semuanya sudah terlambat. Negara harus hadir lebih awal, sebelum anak putus sekolah, sebelum keluarga kehilangan harapan, dan sebelum seseorang direkrut menjadi kurir. Karena, kita ingin kapal penyelundup dihentikan. Kita juga ingin anak-anak tetap bersekolah, keluarga mendapat pertolongan, dan warga binaan pulang dengan kesempatan hidup yang lebih baik. Di situlah pemberantasan narkoba menemukan tujuan terpentingnya yakni menyelamatkan manusia. Semoga.(*)

ABDULLAH RASYID

Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan sekaligus Pendiri GREAT Institute