
“Etnografi berfungsi mengubah pengalaman lapangan(fieldwork) yang kompleks dan dinamis menjadi teks yang terstruktur (textualization). Budaya dalam hal ini tidak sekadar “ditemukan”, melainkan “ditulis” dan “diciptakan” lewat teks.” – James Clifford (81) & George E. Marcuse (80), Writing Culture: The Poetics and Politics of Ethnography (1986).
Sependek pengetahuan saya, istilah menulis kebudayaan(writing culture) nyaris jarang diulas sebagai metode lain dari kritik kebudayaan atau kesusastraan.
Akan tetapi, istilah ini dalam versi lain pula dihadirkan mendiang, sosiolog paling produktif menulis, Dr. Ignaz Kleden (1948-2024), dalam Menulis Politik: Indonesia Sebagai Utopia (2001).
Sementara, untuk menulis kebudayaan atau kesusastraan, Kleden menghimpun seluruh tulisannya tentang kritik sastra dalam Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-Esai Sastra dan Budaya (2004).
Berikut jauh sebelum itu, telah hadir monografi ditulis para antropolog.
Salah satunya, Writing Culture: The Poetics and Politics of Ethnography yang terbit pada tahun 1986 merupakan karya monumental yang menandai titik balik epistemologis dalam ilmu sosial, khususnya antropologi budaya.
Buku ini digagas di University of California, Santa Cruz, yang kemudian difinalisasi melalui sebuah seminar tingkat lanjut (advanced seminar) berskala intensif.
Kelak, diselenggarakan atas kerja sama dengan School of American Research (SAR) di Santa Fe, New Mexico, pada bulan April 1984.
Forum terbatas yang difasilitasi oleh kelompok kajian Santa Cruz ini mengumpulkan para antropolog, sejarawan, dan kritikus sastra untuk membedah serta merevisi draf kertas kerja mereka
Akhirnya dibukukan menjadi Writing Culture sebagai sebuah antologi kritis hasil seminar di Santa Fe yang disunting oleh James Clifford dan George E. Marcus.
Kedua penyunting ini, masing-masing merupakan dua sejarawan dan antropolog kontemporer.
James Clifford, kini berusia 81 tahun. Berstatus sebagai Profesor Emeritus di Department of History of Consciousness, University of California, Santa Cruz (UCSC).
Juga, masih aktif berpartisipasi dalam wacana teori kebudayaan, studi pemikiran pribumi (indigenism), serta kritik museum.
Selain itu, Clifford m aktif sebagai sejarawan kebudayaan dan teoritikus sastra di Universitas California, Santa Cruz, yang berfokus pada kritik wacana kolonial dan sejarah etnografi.
Kini, tetap aktif menulis serta mengembangkan metode etnografi eksperimental dan multi-situs.
Sementara itu, George E. Marcus berusia 80 tahun dan menjabat sebagai Chancellor’s Professor Emeritus di Department of Anthropology, University of California, Irvine (UCI).
Marcus aktif sebagai profesor dan ketua jurusan antropologi di Universitas Rice.
Ia dikenal luas sebagai antropolog kualitatif dan perintis metode etnografi multi-situs.
Kehadiran buku syuntingan keduanya telah memicu gelombang yang dikenal sebagai krisis representasi atau belokan tekstual (textual turn) dalam studi antropologi.
Sebelum publikasi karya ini, laporan etnografi dianggap sebagai catatan objektif dan transparan yang secara polos merekam kebudayaan masyarakat luar Western.
Clifford dan Marcus beserta para kontributornya membongkar asumsi netralitas tersebut dengan menunjukkan bahwa menulis kebudayaan pada hakikatnya adalah tindakan konstruksi sastra dan praktik politik yang terikat oleh relasi kuasa.
Salah satu ulasan kunci paling terkenal dalam buku, di antaranya ditulis James Clifford pada bagian pengantar. Clifford menekankan, bahwa kebenaran etnografis adalah kebenaran yang parsial(partial truths).
Dikutip Clifford menulis bahwa “Tulisan-tulisan etnografis dapat secara tepat disebut sebagai fiksi, dalam pengertian sesuatu yang dibuat atau dibentuk. Ia pun menggarisbawahi bahwa tulisan etnografi bukanlah kebohongan melainkan sebuah hasil rakitan tekstual yang dikonstruksi melalui tropi, retorika, dan penyeleksian perspektif.
Menulis kebudayaan bukan sekadar merekam realitas yang sudah ada di lapangan, melainkan proses translasi yang melibatkan pengeliminasian, penyederhanaan, dan pengguntingan narasi.
Melalui kritik tersebut, buku ini menegaskan bahwa etnografi selalu berada dalam cengkeraman kekuasaan institusional dan sejarah.
Peneliti yang memegang pena memegang kendali atas suara siapa yang ditampilkan dan suara siapa yang dibungkam.
Oleh karena itu, Writing Culture mendorong lahirnya bentuk-bentuk penulisan etnografi baru yang lebih eksperimental, refleksif, dan dialogis.
Terutama, di mana posisi subjek peneliti diakui secara terbuka dan suara subjek penelitian tidak lagi diperlakukan sebagai objek pasif yang bisu.
Pengaruh karya ini terus bergema luas melampaui batas antropologi, menjangkau studi budaya, sosiologi, sejarah, hingga teori sastra.(*)
#coversongs: Lagu “I’ll Write a Song for You” karya Earth, Wind & Fire pertama kali dirilis pada bulan November 1977 di album All ‘N All.
Manado, 26 Oktober 2026
REINER EMYOT OINTOE
Fiksiwan








