
TUBAN, CAKRAWARTA.com – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menegaskan pentingnya peran santri dalam menghadapi perkembangan teknologi digital. Santri dinilai dibutuhkan untuk memadukan kemajuan teknologi dengan moral dan akhlak agar perkembangan teknologi tidak justru menjadi ancaman bagi masyarakat.
Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur KH Firjaun Barlaman, yang akrab disapa Gus Firjaun, menegaskan bahwa kontribusi santri bagi Indonesia tidak hanya tercatat dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, tetapi juga dibutuhkan untuk menjawab tantangan zaman.
“Tanpa diminta, santri itu selalu berperan untuk Indonesia. Tanpa santri takkan ada kemerdekaan Indonesia. Sekarang pun, teknologi di era teknologi tanpa moral itu akan menjadi bencana, karena itu peran santri sangat dibutuhkan,” katanya dalam kick-off Hari Santri Nasional (HSN) 2026 PWNU Jawa Timur di Pesantren Sunan Bejagung, Tuban, Minggu (11/10/2026).
Gus Firjaun menyampaikan hal itu dalam kegiatan yang turut dihadiri Rais Aam Syuriah PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.
Menurut Gus Firjaun, peringatan HSN tidak semestinya berhenti sebagai kegiatan seremonial. Momentum tersebut harus menjadi pengingat bahwa pesantren dan santri memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan masa depan bangsa, termasuk melalui penguatan pendidikan tinggi.
Lima Peran Strategis Santri
Gus Firjaun mengapresiasi pelaksanaan kick-off HSN 2026 yang dirangkaikan dengan peluncuran Institut Kiai Haji Abdul Matin (Inkama) serta wisuda kedua Ma’had Aly Sunan Bejagung. Kedua lembaga pendidikan tinggi di lingkungan Pesantren Sunan Bejagung itu dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat kontribusi santri di tengah masyarakat.
“Kedua lembaga pendidikan tinggi di lingkungan Pesantren Sunan Bejagung, Tuban itu membuat kick off HSN 2026 yang diadakan PWNU Jatim itu menjadi bukan hanya acara seremonial, namun justru menunjukkan bahwa santri itu harapan ke depan, terutama santri yang diwisuda dari Ma’had dan Inkama akan bisa lebih berperan di masyarakat,” katanya.
Lebih lanjut, Gus Firjaun memaparkan lima peran strategis santri yang diharapkan menjadi kontribusi pesantren dan NU bagi bangsa dan negara. Kelima peran tersebut meliputi santri spiritual, santri intelektual, santri entrepreneur, santri leader, dan santri global.
Santri spiritual, menurut dia, berperan memperkuat fondasi iman dan akhlak di tengah perkembangan teknologi digital. Sementara itu, santri intelektual diharapkan berkontribusi dalam berbagai bidang keilmuan, mulai dari kesehatan hingga inovasi dan literasi digital.
“Santri Spiritual itu peran santri memberi pondasi iman dan akhlak untuk era teknologi digital saat ini, karena teknologi tanpa moral akan menjadi bencana, sedangkan Santri Intelektual itu peran santri dalam berbagai bidang keilmuan, baik kesehatan maupun inovasi dan literasi digital agar masyarakat tidak hanya konsumen teknologi buatan atau AI,” katanya.
Adapun santri entrepreneur diharapkan mampu membangun usaha secara mandiri dan tidak semata-mata bergantung pada ketersediaan lapangan pekerjaan. Santri juga didorong menjadi pemimpin yang memiliki integritas, visi, dan moralitas.
“Untuk Santri Entrepreneur itu peran santri dalam membangun usaha secara mandiri tanpa bergantung pada pekerjaan dari masyarakat, sedangkan Santri Leader itu peran santri dalam menjadi pemimpin yang tidak hanya pandai bicara tapi punya integritas dan moralitas yang dibutuhkan Indonesia, bukan hanya mengejar jabatan tanpa visi. Untuk Santri Global itu peran santri yang melampaui kawasan regional dan nasional, menuju ke internasional.”
Melalui lima peran tersebut, PWNU Jawa Timur berharap santri tidak hanya menjadi penjaga nilai-nilai keagamaan, tetapi juga tampil sebagai pelaku perubahan dalam bidang pendidikan, ekonomi, kepemimpinan, teknologi, dan hubungan internasional.
Gelar 14 Agenda Hari Santri
Untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam kegiatan nyata, PWNU Jawa Timur menyiapkan 14 agenda HSN 2026 sepanjang Oktober-November. Rangkaian kegiatan diawali dengan kick-off di Pesantren Sunan Bejagung, Tuban, pada 11 Oktober.
Agenda berikutnya meliputi Ziarah Muassis di Jombang pada 18 Oktober dan Ziarah Muharrik di sembilan kabupaten/kota pada 20 Oktober. PWNU Jatim juga menjadwalkan Apel Hari Santri di Gedung PWNU Jawa Timur pada 22 Oktober.
Pada 27-31 Oktober, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan HSN Soccer League 2026 yang diikuti 32 tim dari lembaga dan badan otonom PWNU Jawa Timur.
Memasuki November, sejumlah agenda yang disiapkan antara lain Mujahadah Kubro di Gedung HBNO/PCNU Surabaya pada 9 November, Halaqoh Pesantren oleh RMI Jawa Timur di PWNU Jatim pada 14 November, serta Jelajah Santri di Probolinggo yang diselenggarakan LP Ma’arif pada 14-15 November.
Selanjutnya, Apel Kader NU di Bondowoso yang digelar IPNU-IPPNU dan LP Ma’arif dijadwalkan pada 21 November. Agenda NUConomic oleh LPNU menyusul pada 22 November, sedangkan Bahtsul Masail oleh RMI akan berlangsung di Blitar pada 28-29 November.
“Tiga agenda lain yang belum terjadwal waktu/tanggal adalah Lomba Kinerja Antar-PR IPNU-IPPNU se-Jatim, Rembuk Media (LTNU Jatim), dan Podcast Pendidikan Serentak PTNU se-Jatim (LPTNU Jatim),” kata Gus Firjaun.
Selain rangkaian tersebut, kegiatan kick-off HSN 2026 juga dirangkai dengan peresmian bantuan Lazisnu PWNU Jawa Timur kepada PWNU Aceh berupa tujuh bangunan untuk Aceh pascabencana alam.
Acara itu turut dihadiri Asisten Pemerintah Provinsi Jawa Timur Dr HM Jazuli, perwakilan Kodam dan Polda Jawa Timur, serta jajaran PCNU dari berbagai daerah di Jawa Timur.
PBNU Tekankan Persatuan dan Penguatan Ilmu
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin kembali menekankan pentingnya menjadikan Qanun Asasi sebagai pedoman bagi pengurus NU.

Menurut dia, pedoman yang diwariskan para muassis NU tersebut menunjukkan bahwa persatuan dan ukhuwah untuk kepentingan bangsa merupakan modal penting bagi kemajuan negara.
Sementara itu, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dalam taujihad-nya menekankan pentingnya ilmu, termasuk ilmu agama, di tengah ketidakpastian zaman yang ditandai perkembangan teknologi digital.
Ia menilai kehadiran Inkama dan Ma’had Aly menjadi penting untuk memperkuat tradisi keilmuan di lingkungan pesantren. Terlebih, era yang disebut sebagai Al-Harj tersebut diwarnai berbagai persoalan, mulai dari perundungan (bullying), pembentukan opini atau framing, hingga penyebaran berita bohong (hoaks).
Situasi itu, menurut penekanannya, dapat membuat seseorang yang keliru justru merasa dirinya benar. Karena itu, penguatan ilmu dan tradisi pendidikan menjadi bagian penting dalam membekali santri menghadapi tantangan masyarakat digital.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








