Kekeringan Kepung 60 Desa di Trenggalek, 60 Ribu Liter Air Bersih Dikerahkan

Momen distribusi puluhan ribu liter air bersih di berbagai titik di Trenggalek, Jumat (9/10/2026). (foto: Muh Nurcholis)

TRENGGALEK, CAKRAWARTA.com – Kekeringan yang melanda Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, semakin menjadi perhatian setelah sekitar 60 desa terdampak kesulitan air bersih. Di tengah kemarau panjang yang mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, sebanyak 60.000 liter air bersih disalurkan untuk membantu warga di enam kecamatan, Jumat (9/10/2026).

Bantuan tersebut disalurkan oleh Anggota DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan (Dapil) IX, Dr. H. Suli Da’im, M.M., yang juga menjabat Ketua DPD PAN Trenggalek. Enam kecamatan penerima bantuan meliputi Gandusari, Tugu, Pule, Pogalan, Watulimo, dan Trenggalek.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek per awal Oktober 2026, dampak kekeringan telah meluas hingga sekitar 60 desa. Kondisi tersebut membuat warga menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan air untuk memasak, mandi, mencuci, beribadah, hingga keperluan sehari-hari keluarga.

Bagi Suli Da’im, kondisi tersebut bukan sekadar angka dalam laporan kebencanaan. Di balik puluhan desa yang terdampak, terdapat masyarakat yang harus berjuang mendapatkan air bersih untuk mempertahankan aktivitas sehari-hari.

“Air bersih adalah kebutuhan mendasar. Kita bisa membayangkan betapa beratnya kehidupan warga ketika untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari saja mereka harus berjuang. Karena itu, kami berupaya hadir secara langsung dengan membantu penyediaan 60 ribu liter air bersih bagi masyarakat yang terdampak,” ujar Suli Da’im dalam keterangannya pada media ini, Minggu (11/10/2026) sore.

Menurutnya, masyarakat yang tengah menghadapi kesulitan membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar imbauan. Kehadiran para pemangku kepentingan harus dirasakan langsung, terutama ketika warga menghadapi persoalan mendesak yang menyangkut kebutuhan dasar.

“Bagi saya, yang terpenting adalah bagaimana masyarakat merasakan kehadiran kita ketika mereka sedang mengalami kesulitan. Jangan sampai warga harus menghadapi persoalan ini sendirian. Kami ingin membantu meringankan beban mereka, karena kebutuhan air bersih tidak bisa ditunda,” tegasnya.

Suli Da’im menegaskan bahwa semangat Gerak Cepat Bantu Rakyat, sebagaimana arahan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, harus diwujudkan melalui tindakan konkret. Menurutnya, kepedulian terhadap masyarakat harus terlihat dalam langkah nyata, terutama ketika warga menghadapi krisis kebutuhan dasar.

“Gerak Cepat Bantu Rakyat bukan sekadar slogan. Semangat ini harus menjadi dorongan untuk bergerak ketika masyarakat membutuhkan pertolongan. Ketika warga kesulitan air bersih, kita harus berusaha hadir dan membantu sesuai kemampuan kita. Rakyat membutuhkan kepedulian yang nyata,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dampak kekeringan dapat dirasakan lebih berat oleh keluarga berpenghasilan rendah, lanjut usia, penyandang disabilitas, dan warga yang sedang sakit. Kelompok tersebut membutuhkan perhatian lebih agar keterbatasan akses air bersih tidak semakin memperberat kehidupan mereka.

Karena itu, Suli Da’im mengajak seluruh elemen masyarakat, organisasi sosial, dan dunia usaha untuk bergotong royong membantu warga sesuai kebutuhan di lapangan.

Kekeringan Berulang, Solusi Jangka Panjang Mendesak

Penyaluran bantuan air bersih dinilai penting untuk memenuhi kebutuhan warga dalam situasi darurat. Namun, Suli Da’im menegaskan bahwa persoalan kekeringan di Trenggalek juga membutuhkan penanganan jangka panjang agar masyarakat tidak terus menghadapi masalah serupa setiap musim kemarau.

Meluasnya dampak kekeringan hingga sekitar 60 desa harus menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dan pemerintah provinsi. Penanganan, menurutnya, perlu diarahkan tidak hanya pada distribusi air ketika krisis terjadi, tetapi juga pada penguatan infrastruktur dan ketersediaan sumber air yang berkelanjutan.

Ia mendorong penguatan koordinasi antara BPBD, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan instansi terkait untuk memastikan distribusi air bersih tepat sasaran. Selain itu, ia meminta pemetaan desa rawan kekeringan, pengembangan sumber air baku, pembangunan penampungan air hujan, serta penguatan jaringan distribusi air bersih dengan mempertimbangkan kondisi geografis setiap wilayah.

“Kalau setiap tahun masyarakat menghadapi persoalan kekeringan, kita harus menyiapkan langkah yang lebih permanen. Bantuan air bersih memang penting untuk menjawab kebutuhan saat ini, tetapi pemerintah juga perlu memikirkan bagaimana masyarakat bisa memperoleh akses air yang lebih terjamin pada musim kemarau berikutnya,” katanya.

Sebagai wakil rakyat dari Dapil IX yang meliputi Ponorogo, Ngawi, Magetan, Trenggalek, dan Pacitan, Suli Da’im menyatakan akan membawa persoalan tersebut ke dalam agenda perjuangan kebijakan dan penganggaran di DPRD Jawa Timur.

Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong penanganan kekeringan yang lebih terencana, termasuk memperkuat kesiapsiagaan di desa-desa rawan terdampak sebelum musim kemarau kembali tiba.

Suli Da’im menegaskan bahwa kunjungan langsung ke enam kecamatan bukan sekadar kegiatan seremonial. Baginya, bantuan air bersih merupakan bagian dari upaya meringankan beban masyarakat sekaligus mendorong perhatian lebih luas terhadap persoalan kekeringan.

Ia mengakui bahwa bantuan 60.000 liter air bersih belum tentu menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi warga Trenggalek. Meski demikian, bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak.

“Saya memahami bahwa 60 ribu liter air bersih ini belum tentu menyelesaikan seluruh persoalan kekeringan di Trenggalek. Namun, kami berharap bantuan ini dapat meringankan beban warga dan menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membantu masyarakat,” tuturnya.

Ia pun mengajak semua pihak untuk tidak membiarkan masyarakat menghadapi krisis air bersih sendirian. Selain bantuan darurat, keterlibatan bersama dan kebijakan jangka panjang dinilai penting agar akses air bersih dapat lebih terjamin.

“Jangan biarkan warga merasa sendirian menghadapi kekeringan. Air bersih menyangkut kehidupan, kesehatan, dan martabat manusia. Mari kita bergerak bersama, membantu sesuai kemampuan, dan terus mendorong solusi agar masyarakat tidak terus-menerus menghadapi kesulitan yang sama,” pungkasnya.(*)

Kontributor: Muh Nurcholis

Editor: Abdel Rafi