
PARIS, CAKRAWARTA.com – Seni Indonesia kembali mengambil bagian dalam percakapan seni kontemporer internasional melalui Asia NOW Paris 2026. Lewat proyek Vessels of Memory, Biennale Jogja membawa gagasan tentang ingatan, tradisi, identitas, dan sejarah ke panggung seni di Prancis. Namun, di balik partisipasi tersebut, muncul kontras yang mengundang perhatian: Yayasan Biennale Yogyakarta, institusi yang selama bertahun-tahun menopang perhelatan Biennale Jogja, mengumumkan keputusan mengakhiri operasionalnya sebagai institusi seni.
Asia NOW Paris 2026 berlangsung pada 20-24 Oktober di Monnaie de Paris, Prancis. Memasuki edisi ke-12, ajang tersebut menghadirkan lebih dari 200 seniman dari berbagai negara melalui sekitar 60 galeri, institusi, dan yayasan swasta.
Di antara para peserta, Biennale Jogja hadir melalui Vessels of Memory, sebuah proyek yang mempertemukan beragam praktik artistik dengan pengalaman budaya dan pengetahuan yang tumbuh di Indonesia. Proyek ini tidak sekadar memperkenalkan karya seni kepada publik Eropa, tetapi juga mengajak pengunjung menelusuri bagaimana ingatan hidup melalui material, tubuh, keterampilan, dan pengalaman masyarakat.
Dikuratori Alia Swastika, pendiri sekaligus direktur Biennale Jogja serta kurator, peneliti, dan penulis seni, Vessels of Memory menempatkan ingatan bukan semata-mata sebagai rekaman masa lalu. Ingatan dipahami sebagai pengetahuan yang terus bergerak, diwariskan, dan memperoleh makna baru melalui praktik artistik.
Ketika Sulaman Minangkabau Menghasilkan Bunyi
Salah satu karya yang menonjol dalam proyek tersebut adalah Pamedangan karya Rani Jambak. Seniman kelahiran Medan berdarah Minangkabau ini dikenal sebagai komposer, produser, vokalis, perancang instrumen, sekaligus seniman bunyi. Praktiknya mengeksplorasi hubungan antara suara, lingkungan, identitas budaya, dan warisan leluhur.
Pada 2022, Rani menerima The Oram Awards di Inggris atas inovasinya dalam bidang bunyi, musik, dan teknologi.
Dalam Pamedangan, Rani mengangkat tradisi sulaman Minangkabau melalui instalasi multimedia interaktif. Dengan bantuan sensor elektronik, gerakan jarum dan benang diterjemahkan menjadi bunyi. Aktivitas menyulam pun berkembang menjadi bagian dari komposisi musikal yang melibatkan partisipasi pengunjung. Karya tersebut turut menampilkan sulaman Uni Essy Hariya.
“Bagi saya, menyulam itu bukan hanya soal benang, jarum, atau motif yang dihasilkan. Ada pengetahuan dan ingatan yang hidup di dalam gerakan tangan, dalam proses belajar dari generasi ke generasi. Melalui Pamedangan, saya ingin membawa pengetahuan itu ke ruang yang berbeda, agar orang tidak hanya melihat sulaman, tetapi juga bisa mendengarkan dan mengalami cerita yang tersimpan di dalamnya,” ujar Rani dalam keterangan yang diterima redaksi, Rabu (28/10/2026) dini hari waktu Indonesia.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi dapat membuka cara baru untuk mengalami tradisi tanpa harus menghilangkan akar budayanya. Pengetahuan yang selama ini diwariskan melalui keterampilan tangan kini dapat dijelajahi melalui bunyi, gerakan, dan interaksi.
Tradisi, dalam konteks ini, tidak berhenti sebagai warisan yang dipertontonkan. Ia menjadi sumber penciptaan yang terus berkembang dan membuka kemungkinan dialog dengan pengalaman masyarakat yang berbeda.
Ingatan, Kekuasaan, dan Sejarah yang Terpinggirkan
Gagasan tentang ingatan dalam Vessels of Memory juga hadir melalui karya seniman lain dengan latar dan pendekatan berbeda.
Dicky Takndare, seniman dari Papua, melalui The Tower of Abandoned Voices menyoroti ingatan tentang kekerasan dan konflik yang kerap terpinggirkan. Sementara itu, Citra Sasmita berangkat dari tradisi lukisan Kamasan Bali untuk menelusuri sejarah, spiritualitas, dan posisi perempuan.
Hashel Al Lamki mempertemukan batik Jawa dengan kain kanga dari tradisi Swahili melalui Clove Series: Bandung 1955. Karya ini membuka kembali hubungan Asia-Afrika dan warisan kolonialisme melalui pertemuan material serta sejarah lintas kawasan.
Proyek tersebut juga melibatkan Ines Katamso, Jumaadi, Amalia Laurent, Timoteus Anggawan Kusno, dan Nathalie Mochamad. Kehadiran para seniman dengan pendekatan artistik yang beragam memperluas pembahasan mengenai hubungan antara ingatan, material, sejarah, dan pengalaman masyarakat.
Melalui karya-karya tersebut, tradisi dan pengetahuan budaya tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang beku. Sebaliknya, keduanya menjadi ruang untuk mempertanyakan sejarah, kekuasaan, gender, konflik, serta pengetahuan yang diwariskan antargenerasi maupun yang tersisih dari narasi dominan.
Partisipasi Biennale Jogja dalam Asia NOW Paris 2026 dengan demikian menjadi lebih dari sekadar kehadiran karya Indonesia di luar negeri. Proyek ini juga menawarkan perspektif yang berangkat dari pengalaman lokal untuk memperkaya percakapan seni kontemporer global.
Mohamad Oemar, Duta Besar Indonesia untuk Prancis, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan para seniman Indonesia.
“Karya-karya seniman kita sangat menarik. Selamat dan sukses untuk para seniman, dan semoga makin dikenal dunia,” ujarnya.
Panggung Global dan Tantangan Keberlanjutan
Namun, kehadiran dalam pameran internasional tidak otomatis menjamin keberlanjutan praktik seni setelah acara berakhir. Perjumpaan di Paris baru memberikan dampak jangka panjang apabila mampu membuka dialog, memperluas jaringan kerja, serta menciptakan kesempatan baru bagi seniman dan komunitas yang terlibat.
Pertanyaan mengenai keberlanjutan itu menjadi semakin relevan ketika melihat perjalanan Biennale Jogja sendiri. Biennale Jogja merupakan perhelatan seni rupa internasional dua tahunan yang telah berlangsung sejak 1988. Sejak 2011, melalui seri Khatulistiwa, perhelatan ini mengembangkan dialog antara seniman Indonesia dan kawasan lain di dunia sekaligus mengajukan perspektif yang berangkat dari posisi Indonesia dalam peta seni global.
Selama bertahun-tahun, penyelenggaraan dan berbagai program Biennale Jogja dikelola oleh Yayasan Biennale Yogyakarta, yang berdiri pada 23 Agustus 2010. Yayasan ini tidak hanya menaungi pameran dua tahunan, tetapi juga membangun ruang pertemuan bagi seniman, kurator, komunitas, dan organisasi kebudayaan.
Akan tetapi, pada 9 Oktober 2026, Biennial Foundation memberitakan keputusan Yayasan Biennale Yogyakarta untuk mengakhiri operasionalnya sebagai institusi seni.
Dalam pernyataan resminya, yayasan mengaitkan keputusan tersebut dengan situasi politik, meningkatnya sensor, serta kekerasan terhadap aktivis dan demonstran. Meski mengakhiri operasionalnya sebagai institusi seni, yayasan berharap pengetahuan, praktik, dan jaringan yang telah dibangun selama ini tetap berkembang melalui komunitas yang terlibat.
Kabar tersebut menghadirkan kontras di tengah upaya membawa seni Indonesia ke panggung internasional. Di satu sisi, karya dan gagasan para seniman terus mencari ruang perjumpaan global. Di sisi lain, institusi yang selama bertahun-tahun membangun jaringan seniman, kurator, dan komunitas menghadapi akhir operasionalnya.
Situasi ini tidak menghapus arti penting partisipasi Biennale Jogja di Paris. Namun, pengalaman tersebut mengingatkan bahwa diplomasi budaya tidak cukup bertumpu pada kehadiran dalam pameran di luar negeri. Ekosistem seni di dalam negeri tetap membutuhkan ruang agar seniman dapat bereksperimen, membangun jaringan, memperoleh dukungan, dan berinteraksi dengan masyarakat.
Di tengah tantangan keberlanjutan tersebut, Vessels of Memory tetap membawa pengetahuan dan pengalaman lokal Indonesia ke dalam percakapan seni kontemporer dunia. Karya-karya yang dipamerkan memperlihatkan bahwa tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber pengetahuan yang terus hidup dan dapat menawarkan perspektif baru bagi dunia.
Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa gagasan yang diperkenalkan di panggung global tidak berhenti sebagai representasi sesaat. Pengetahuan, praktik, dan jaringan yang telah dibangun perlu menemukan ruang untuk terus tumbuh, diperdebatkan, dan diwariskan di Indonesia setelah pameran usai.(*)
Kontributor: Bachtiar dj
Editor: Abdel Rafi








