
SEOUL, CAKRAWARTA.com – Drama medis Korea Selatan Doctor X: Mafia in White yang dibintangi Kim Ji Won tengah menjadi sorotan. Di tengah pencapaian rating tertinggi sejak penayangannya, serial SBS tersebut justru menghadapi gelombang kritik setelah mengangkat tragedi sejarah Gerakan Demokratisasi Gwangju pada 18 Mei 1980.
Kontroversi ini bahkan berujung pada pengajuan petisi yang meminta penayangan drama tersebut dihentikan. Ironisnya, polemik itu muncul ketika popularitas Doctor X sedang menanjak dan episode terbarunya berhasil mencetak rekor rating nasional sebesar 19,5%.
Mengutip laporan media Korea Selatan OSEN, sebuah petisi terkait penghentian penayangan Doctor X: Mafia in White diajukan melalui sistem petisi elektronik Majelis Nasional Korea Selatan pada 24 Oktober 2026.
Setelah memperoleh sedikitnya 100 dukungan yang dipersyaratkan, petisi tersebut memasuki tahap peninjauan untuk dipublikasikan kepada masyarakat.
Pemohon meminta agar proses produksi drama itu diselidiki. Salah satu keberatan yang disampaikan adalah penggunaan materi sejarah yang dinilai tidak berkaitan langsung dengan alur utama cerita drama medis tersebut.
Pusat kontroversi bermula dari sebuah episode yang mengungkap kisah seorang pasien yang selama 46 tahun hidup dengan serpihan peluru di dalam otaknya. Dalam alur cerita, pasien tersebut ternyata merupakan korban peristiwa Gerakan Demokratisasi Gwangju pada 1980.
Penggambaran tragedi tersebut memunculkan respons beragam dari penonton.
Sebagian pemirsa mengapresiasi pendekatan emosional yang digunakan drama itu untuk menggambarkan penderitaan korban. Kisah tersebut juga dinilai memperkuat pesan mengenai tanggung jawab seorang dokter dalam menyelamatkan kehidupan manusia, tanpa mengabaikan latar belakang dan pengalaman pasiennya.
Namun, sebagian penonton lainnya mempertanyakan relevansi pengangkatan isu sejarah dan politik dalam sebuah drama yang berpusat pada dunia medis. Mereka menilai pesan tersebut terlalu dominan dan berpotensi menggeser fokus cerita dari konflik utama serial.
Perbedaan pandangan inilah yang membuat Doctor X tidak hanya menjadi bahan pembicaraan karena jalan ceritanya, tetapi juga karena cara sebuah drama populer merepresentasikan peristiwa sejarah yang sensitif.
Di tengah perdebatan tersebut, performa penonton Doctor X: Mafia in White justru menunjukkan hasil yang mengesankan.
Episode keenam drama ini mencatat rating rumah tangga nasional sebesar 19,5%. Angka tersebut menjadi pencapaian tertinggi serial itu sejauh penayangannya, memperlihatkan bahwa kontroversi yang berkembang tidak serta-merta menghentikan daya tariknya bagi pemirsa.
Meski demikian, tingginya rating tidak otomatis berarti seluruh penonton mendukung penggambaran sejarah yang menjadi sumber polemik. Respons publik terhadap serial ini tetap terbelah antara apresiasi atas pesan kemanusiaan dan kritik terhadap penyisipan isu sejarah dalam cerita medis.
Situasi tersebut menempatkan Doctor X dalam posisi yang menarik sekaligus rumit: semakin banyak ditonton, semakin luas pula perdebatan mengenai pesan yang dibawanya.
Tulisan “No Fear” di Poster Ikut Jadi Sorotan
Perhatian publik semakin tertuju pada drama ini setelah Lee Ok-gyu, kepala produser Studio S, menambahkan frasa “no fear” pada poster utama Doctor X setelah episode yang memicu kontroversi tersebut ditayangkan.
Penambahan tulisan itu memunculkan spekulasi di kalangan penonton mengenai kemungkinan kaitannya dengan kritik yang sedang dihadapi tim produksi.
Namun, tanpa penjelasan resmi yang secara langsung menghubungkan perubahan poster tersebut dengan polemik yang berkembang, makna di balik frasa “no fear” belum dapat dipastikan.
Apakah tulisan tersebut merupakan bagian dari strategi promosi, penegasan identitas drama, atau respons terhadap kritik penonton? Pertanyaan itu masih menjadi bahan perbincangan.
Kontroversi Doctor X: Mafia in White memperlihatkan tantangan yang dihadapi industri hiburan ketika cerita fiksi bersinggungan dengan peristiwa sejarah yang memiliki arti penting bagi masyarakat.
Di satu sisi, drama televisi dapat menjadi medium untuk memperkenalkan kembali tragedi masa lalu kepada generasi baru melalui kisah personal yang menyentuh emosi. Di sisi lain, penggunaan peristiwa bersejarah dalam karya fiksi dapat memunculkan pertanyaan mengenai relevansi, ketepatan penggambaran, serta batas antara kebutuhan naratif dan sensitivitas publik.
Dalam kasus Doctor X, perdebatan itu berlangsung bersamaan dengan pencapaian komersial yang kuat. Rekor rating 19,5% menjadi bukti bahwa serial tersebut tetap menarik perhatian penonton, sementara petisi dan kritik menunjukkan bahwa popularitas tidak selalu berjalan seiring dengan penerimaan publik terhadap seluruh aspek cerita.
Untuk saat ini, dua hal menjadi pusat perhatian: bagaimana tim produksi menyikapi kontroversi tersebut dan apakah perdebatan mengenai penggambaran tragedi Gwangju akan memengaruhi perjalanan Doctor X pada episode-episode berikutnya.
Drama Kim Ji Won itu kini bukan sekadar perbincangan tentang dunia medis dan konflik antar karakter. Serial tersebut juga berada di tengah diskusi yang lebih luas mengenai hubungan antara hiburan, kebebasan bercerita, dan ingatan sejarah.(*)
Kontributor: Rika
Editor: Rafel








