Gebyar Shalawat Meriahkan Puncak Hari Santri di Jombang, KH Hamdi Sholeh Ajak Isi Kemerdekaan dengan Hal Ini

Gebyar Shalawat dan Pengajian Akbar puncak peringatan Hari Santri di Diwek Jombang, Sabtu (24/10/2026) malam. (foto: Mukani)

JOMBANG, CAKRAWARTA.com – Ribuan warga Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, memadati kawasan depan Pondok Al-Muhsinin, Desa Cukir, Sabtu (24/10/2026) malam. Mereka mengikuti puncak peringatan Hari Santri Nasional yang dikemas dalam gebyar shalawat, doa bersama, dan pesan kebangsaan untuk meneruskan perjuangan para pahlawan serta ulama.

Kegiatan yang digelar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Diwek bersama Pemerintah Desa Cukir tersebut berlangsung di sepanjang jalan depan Pondok Al-Muhsinin. Selain menjadi momentum memperingati Hari Santri, acara ini juga menegaskan pentingnya menjaga kerukunan masyarakat dalam mengisi kemerdekaan.

Sejumlah tokoh dan unsur pemerintah setempat hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Camat Diwek, Danramil, Kapolsek, serta KH Nurul Fuad dan Ustadz Abdul Malik dari PCNU Kabupaten Jombang. Hadir pula pengurus badan otonom, lembaga, dan ranting NU dari seluruh desa di Kecamatan Diwek.

Rangkaian acara diawali dengan zikir dan doa bersama untuk para pahlawan, dilanjutkan pembacaan shalawat oleh Jamiyah Shalawat Nahdlatul Ulama (JASNU) yang dipimpin Gus Hilmi Muhammad. Sebelumnya, para peserta juga disuguhi atraksi pencak silat dari pendekar Pagar Nusa.

Kepala Desa Cukir, H. Sugito, menyampaikan rasa senangnya karena desanya dipercaya menjadi tuan rumah peringatan Hari Santri tingkat Kecamatan Diwek.

“Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan ke Desa Cukir untuk menggelar acara ini, terima kasih kerja sama dari semua pihak yang mendukung,” katanya.

Sementara itu, Ketua MWCNU Diwek, KH Hamdi Sholeh, menekankan pentingnya kebersamaan dalam melanjutkan perjuangan para pahlawan dan ulama. Menurut dia, semangat perjuangan yang dahulu diwujudkan melalui Resolusi Jihad harus terus dihidupkan dalam upaya mengisi kemerdekaan.

“Kalau dulu Resolusi Jihad melawan penjajah Belanda, sekarang Hari Santri untuk merestorasi semangat dalam mewujudkan cita-cita para pahlawan,” ujarnya.

Dia mengajak masyarakat mengisi kemerdekaan dengan kegiatan positif yang membawa manfaat bagi sesama. Salah satunya melalui pembacaan shalawat dan doa bersama yang tidak hanya ditujukan bagi masyarakat Diwek, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia.

“Seperti pembacaan shalawat dan doa bersama malam ini, tidak hanya untuk warga Diwek, tapi juga buat semua rakyat Indonesia,” tambahnya.

Santri Harus Berilmu dan Berkhidmat kepada Ulama

Pesan tentang pentingnya ilmu, pengabdian, dan perjuangan kebangsaan juga disampaikan KH Nur Hadi atau yang akrab disapa Mbah Bolong saat memberikan mauizah hasanah.

Mustasyar PCNU Jombang tersebut menegaskan bahwa santri memiliki dua kelebihan yang perlu terus dikembangkan, yakni dirosah atau kegiatan menuntut ilmu dan wirosah yang menggambarkan berbagai keutamaan.

“Santri tidak hanya menuntut ilmu di sekolah yang disebut dirosah, tapi juga memiliki berbagai keutamaan yang disebut wirosah,” ujarnya.

Pengasuh Pesantren Falahul Muhibbin Watugaluh itu juga mendorong para hadirin agar tekun menuntut ilmu sekaligus menjaga pengabdian kepada ulama. Menurut dia, kedua hal tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan santri yang penuh keberkahan.

“Jangan lupa khidmat kepada ulama, karena itu semua akan menjadikan kehidupan santri makin barokah,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, kiai yang dikenal dengan sapaan Mbah Bolong itu turut mengisahkan perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dia mengingatkan bahwa perjuangan mereka tidak sebatas pada aktivitas keagamaan, tetapi juga mencakup kepedulian terhadap masa depan bangsa.

“Mereka tidak hanya memikirkan kitab kuning dan tasbihnya, tapi juga memikirkan nasib bangsanya,” jelasnya.

Menutup mauizah hasanah, Mbah Bolong berpesan agar kerukunan di tengah masyarakat senantiasa dijaga. Menurut dia, kebersamaan menjadi modal penting untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

“Karena dengan rukun, pekerjaan berat akan menjadi mudah dan ringan,” pungkasnya.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan khidmat. Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin langsung oleh KH Hamdi Sholeh, Minggu (25/10/2026) dini hari.

Peringatan Hari Santri di Kecamatan Diwek tersebut menjadi pengingat bahwa semangat perjuangan para ulama dan santri perlu diteruskan melalui penguatan ilmu, pengabdian, kepedulian terhadap bangsa, serta kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.(*)

Kontributor: Mukani

Editor: Abdel Rafi