Kolintang dan Balafon Bertemu di UNESCO Paris, Indonesia Bawa Pesan Perdamaian Lintas Benua

Para seniman terbaik saat memainkan Kolintang dari Indonesia di Markas Besar UNESCO di Paris, Prancis, Kamis (1/10/2026). (foto: Perwakilan Tetap RI di UNESCO untuk Cakrawarta)

PARIS, CAKRAWARTA.com – Alunan Kolintang dari Minahasa, Sulawesi Utara, bertemu dengan Balafon dari Afrika Barat di Markas Besar UNESCO, Paris, Kamis (1/10/2026). Pertemuan dua tradisi musik dari kawasan berbeda tersebut bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi membawa pesan tentang bagaimana warisan budaya dapat menjadi ruang perjumpaan, dialog, dan kerja sama antarbangsa.

Kegiatan bertajuk “Celebrating Kolintang: Resonances of Shared Cultural Heritage” itu diselenggarakan KBRI Paris/Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO di Ségur Hall, UNESCO Headquarters.

Acara dihadiri Direktur Jenderal UNESCO Khaled El-Enany, para Duta Besar dan Delegasi Tetap negara anggota, termasuk perwakilan Mali, Burkina Faso, dan Côte d’Ivoire, bersama seniman dan pemangku tradisi Kolintang dan Balafon.

Alunan musik Kolintang dibawakan oleh Persatuan Insan Kolintang Nasional (PINKAN) Indonesia, sementara para seniman dari Mali, Burkina Faso, dan Côte d’Ivoire menampilkan tradisi Balafon.

Pertemuan dua tradisi tersebut menjadi simbol diplomasi kebudayaan Indonesia di panggung internasional. Kolintang dan Balafon berasal dari sejarah, komunitas, serta lanskap budaya yang berbeda, tetapi keduanya dapat bertemu dalam satu ruang melalui semangat shared cultural heritage.

Duta Besar RI untuk Prancis, Monako dan Andorra sekaligus Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Mohamad Oemar, menegaskan bahwa perayaan Kolintang bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga membawa pesan yang sejalan dengan mandat UNESCO dalam membangun perdamaian melalui kebudayaan.

“Warisan yang menjadi milik bersama tidak menghapuskan kepemilikan atau identitasnya, tetapi karena penghormatan dan apresiasi terhadapnya semakin luas. Di tengah dunia yang sering menjadikan perbedaan sebagai sumber perpecahan, kebudayaan menawarkan kemungkinan lain: perbedaan membuka ruang dialog, dialog membangun kepercayaan, dan kepercayaan membantu kita membangun perdamaian,” ujar Duta Besar Oemar dalam keterangan tertulis dari Paris yang diterima redaksi, Sabtu (3/10/2026).

Warisan Budaya yang Menyatukan Perbedaan

Kolintang merupakan tradisi musik yang hidup turun-temurun masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara. Instrumen yang terbuat dari bilah-bilah kayu tersebut juga membawa pengetahuan mengenai keterampilan pembuatan instrumen, kreativitas, transmisi antargenerasi, serta nilai kebersamaan dan harmoni.

Perjalanan Kolintang di UNESCO memiliki dimensi internasional yang kuat. Pada 2012, praktik budaya dan ekspresi terkait Balafon masyarakat Senufo dari Mali, Burkina Faso, dan Côte d’Ivoire masuk dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity melalui nominasi multinasional ketiga negara.

Dua belas tahun kemudian, pada tahun 2024, Indonesia bergabung melalui perluasan nominasi tersebut dengan memasukkan Kolintang.

Dengan demikian, Kolintang secara resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada 2024, dan elemen tersebut menjadi “Cultural practices and expressions linked to Balafon and Kolintang in Mali, Burkina Faso, Côte d’Ivoire and Indonesia.”

Pengakuan tersebut memperlihatkan bahwa sebuah warisan budaya dapat memiliki identitas yang kuat di komunitas asalnya sekaligus menjadi bagian dari ruang kebudayaan global.

Kolintang tetap merupakan warisan masyarakat Minahasa, sementara Balafon tetap berakar pada komunitas di Afrika Barat. Keduanya tidak kehilangan identitas ketika hadir bersama, tetapi justru menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi dasar untuk membangun dialog.

Assistant Director-General for Culture UNESCO, Nayef Al-Fayez, yang turut memberikan sambutan dalam kegiatan tersebut, menempatkan pentingnya warisan budaya dalam kerangka kerja sama internasional dan peran komunitas dalam menjaga keberlanjutan warisan untuk generasi mendatang.

Pandangan tersebut sejalan dengan pendekatan UNESCO yang menempatkan komunitas sebagai bagian penting dari upaya kolektif pelindungan dan pewarisan kebudayaan.

“Semangat UNESCO bukan tentang siapa memiliki apa. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana komunitas tetap menjadi pusat, bagaimana pengetahuan diwariskan kepada generasi berikutnya, dan bagaimana sebuah warisan tetap hidup”, ujar ADG Al-Fayez dalam keterangan tertulisnya, Sabtu.

Kolaborasi musik Kolintang dan Balafon memperlihatkan bentuk konkret diplomasi kebudayaan yang tidak berhenti pada upaya memperkenalkan budaya nasional.

Diplomasi kebudayaan membuka ruang bagi perbedaan untuk saling mengenal, memahami, dan menghargai, serta mengubah perjumpaan menjadi peluang untuk membangun kerja sama.

Grup PINKAN Kolintang Indonesia dalam acara tersebut membawakan sejumlah repertoar, antara lain O Ina Ni Keke, Si Patokaan, Bengawan Solo, serta karya musik internasional.

Para seniman Balafon dari Mali, Burkina Faso, dan Côte d’Ivoire juga menampilkan tradisi musik masing-masing.

Puncak acara mempertemukan para pemain Kolintang dan Balafon dalam satu panggung melalui penampilan bersama “La Vie en Rose”.

Kolaborasi tersebut menjadi simbol perjumpaan Asia dan Afrika: dua tradisi dengan identitas berbeda yang dapat menciptakan harmoni dalam ruang yang sama.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian Hari Batik Nasional pada 2 Oktober, sekaligus memperkenalkan kekayaan ekspresi budaya Indonesia kepada komunitas internasional di UNESCO.

Melalui Celebrating Kolintang, Indonesia menegaskan bahwa warisan budaya bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi sumber dialog untuk membangun masa depan, serta Kolintang dan Balafon menunjukkan bahwa akar budaya boleh berbeda, tetapi resonansinya dapat bertemu dalam semangat saling menghormati, solidaritas, dan perdamaian.(*)

Editor: Abdel Rafi