Rais Aam Menjadi Sasaran Bully, Warga NU Minta Klarifikasi Isu Mahar Muktamar

Wakil Ketua Umum DPP Barikade Gus Dur, Sudarsono Rahman saat ditemui tim Cakrawarta di Surabaya beberapa waktu lalu. (foto: Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Berakhirnya Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang masih menyisakan keprihatinan.

Rais Aam terpilih, KH. Miftachul Achyar, kini menjadi sasaran perundungan (bullying) di media sosial, berbagai tuduhan dialamatkan kepada kiai sepuh tersebut.

Sebagaimana diketahui, Rais Aam adalah pemimpin tertinggi di Nahdlatul Ulama. Ia yang mengendalikan arah Jam’iyah dan membuat segala bentuk kebijakan, bahkan pernyataan Rais Aam dianggap sebagai titah bagi warga NU.

Di media sosial, beredar isu miring yang menyebutkan bahwa terpilihnya Rais Aam dalam Muktamar tersebut diwarnai praktik mahar politik atau membeli suara muktamirin dan anggota ahlul halli wal aqdi atau AHWA, bahkan beredar kabar bahwa ada beberapa anggota AHWA telah mengembalikan pemberian tersebut, itu sudah membuktikan bahwa untuk memilih KH. Miftahul Achyar sebagai Rais Am dengan cara membeli suara anggota AHWA.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Umum DPP Barikade Gus Dur, Sudarsono Rahman, menyampaikan keprihatinan mendalam.

“Saya sedih dan miris. Rais Aam itu kompas moral, kalau sejak awal sudah diterpa isu seperti ini, bagaimana warga NU akan menjadikannya panutan?” ujarnya, Sabtu (3/10/1026).

Ia meminta agar semua pihak melakukan tabayyun dan klarifikasi terbuka demi menjaga Marwah NU. Menurutnya, warga NU bisa menggunakan kiai-kiai sepuh yang tidak terkontaminasi dengan praktik jual beli suara di Muktamar kemarin untuk melakukannya.

“Jika isu itu benar adanya, sebaiknya anggota AHWA yang lain serta Rais Syuriah PWNU dan PCNU yang merasa menerima, segera ikut mengembalikan. Karena ini menyangkut kredibilitas kiai sebagai kompas moral,” tegasnya.

Pria yang akrab disapa Cak Dar itu berharap, Muktamar Tambakberas tetap dikenang sebagai Forum Khidmah yang bersih dan berintegritas, bukan sebagai ajang transaksional.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi