Studi: Bumi Kian Cepat Memanas

Bayangkan seseorang mengendarai mobil menuju jurang. Mula-mula kecepatannya 60 kilometer per jam. Kemudian 80. Tak lama lagi 120 km. Orang itu masih melihat jalan di depannya, tapi jarak menuju jurang terus menyusut.

Begitulah gambaran terbaru pemanasan global. Bumi terus memanas, dan yang membuat para ilmuwan semakin cemas ialah kecepatan pemanasannya ikut meningkat, setelah mereka memelototi data iklim satu abad.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Geophysical Research Letters memberikan bukti statistik kuat mengenai percepatan tersebut.

Grant Foster, ahli statistik, dan Stefan Rahmstorf, peneliti Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK), Jerman, menemukan bahwa laju pemanasan global meningkat secara signifikan sejak sekitar 2015.

Dalam satu dekade terakhir, suhu rata-rata Bumi meningkat sekitar 0,35 derajat Celsius per dekade. Angka itu hampir dua kali lipat laju rata-rata pemanasan pada periode 1970-2015 yang berada sedikit di bawah 0,2 derajat Celsius per dekade.

Temuan ini memperoleh perhatian luas setelah ScienceDaily mengangkatnya pada 29 Oktober 2026. Namun, penelitian ilmiahnya sendiri sudah terbit pada Maret 2026.

Jadi, ini bukan ramalan seorang aktivis lingkungan yang sedang berkampanye. Para peneliti mengolah catatan pengamatan suhu global selama lebih dari satu abad, kemudian menguji apakah perubahan kecepatannya benar-benar signifikan secara statistik.

Yang membuat penelitian ini menarik ialah cara mereka memisahkan pemanasan akibat aktivitas manusia dari gejolak alamiah yang sesekali mengubah suhu Bumi.

Sebab, suhu global tidak bergerak seperti garis lurus pada penggaris. Kadang naik tajam, kadang sedikit turun, lalu kembali naik. Gejala alam ikut memainkan peran dalam perubahan jangka pendek tersebut.

El Niño, misalnya, melepaskan sebagian panas Samudra Pasifik tropis ke atmosfer sehingga suhu global meningkat sementara.

Letusan gunung berapi dapat menghasilkan partikel yang memantulkan sebagian sinar Matahari ke angkasa dan mendinginkan Bumi.

Aktivitas Matahari juga mengalami perubahan dalam siklus tertentu. Semua faktor itu menghasilkan semacam kebisingan dalam rekaman suhu global.

Foster dan Rahmstorf mengurangi pengaruh tiga faktor alamiah tersebut melalui perhitungan matematis. Mereka kemudian membandingkan lima kumpulan data suhu global dari NASA, NOAA, HadCRUT, Berkeley Earth, dan ERA5.

Kelima lembaga menggunakan pendekatan pengamatan yang berbeda. Namun, hasil analisisnya mengarah pada kesimpulan yang sama: laju pemanasan global memang mengalami percepatan.

Para peneliti menghitung tingkat keyakinan statistiknya melampaui 98 persen. Dalam bahasa sederhana, hasil tersebut memberikan bukti sangat kuat bahwa perubahan laju pemanasan tidak sekadar muncul akibat fluktuasi alamiah biasa.

Mereka juga menggunakan dua pendekatan statistik untuk menguji perubahan itu. Keduanya mendukung kesimpulan yang sama.

Pertanyaan berikutnya tentu: apa yang menyebabkan percepatan itu?

Di sinilah kita perlu berhati-hati membaca hasil penelitian. Foster dan Rahmstorf berhasil membuktikan percepatan pemanasan secara statistik, tetapi penelitian mereka tidak dirancang untuk menentukan secara pasti penyebab fisik percepatan tersebut.

Mereka menegaskan bahwa temuan itu masih konsisten dengan kemampuan model iklim yang sudah digunakan para ilmuwan.

Meski demikian, penyebab utama pemanasan global dalam jangka panjang sudah lama memperoleh landasan ilmiah yang kuat: peningkatan konsentrasi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia.

Pembakaran batu bara, minyak bumi, dan gas alam melepaskan karbon dioksida dalam jumlah besar.

Deforestasi mengurangi kemampuan hutan menyerap karbon. Kegiatan industri, transportasi, pertanian, dan peternakan turut menyumbang emisi gas rumah kaca.

Gas-gas itu bekerja seperti selimut yang semakin tebal. Atmosfer menahan lebih banyak panas yang seharusnya kembali ke angkasa.

Akibatnya, lautan menyimpan lebih banyak energi, lapisan es mencair, permukaan laut meningkat, dan berbagai sistem alam mengalami tekanan.

Kita sedang menambah ketebalan selimut sambil mengeluhkan mengapa suhu kamar semakin panas. Ambang 1,5 derajat sudah semakin dekat.

Bagian paling mengkhawatirkan dari penelitian ini menyangkut ambang pemanasan 1,5 derajat Celsius dalam Perjanjian Paris 2015.

Negara-negara di dunia bersepakat mengupayakan pembatasan kenaikan suhu global jangka panjang pada angka tersebut dibandingkan tingkat pra industri.

Menurut perhitungan Foster dan Rahmstorf, jika laju pemanasan selama satu dekade terakhir terus berlangsung, Bumi dapat melampaui ambang 1,5 derajat sebelum 2030.

Bahkan, tabel penelitian mereka memperlihatkan perkiraan waktu yang berbeda menurut kumpulan data yang digunakan: NASA dan NOAA menunjuk 2028, Berkeley Earth 2028, HadCRUT 2029, sedangkan ERA5 menghasilkan 2026.

Angka-angka itu perlu kita baca secara cermat. Ambang 1,5 derajat dalam Perjanjian Paris merujuk pada pemanasan jangka panjang, bukan sekadar satu tahun ketika suhu melonjak akibat El Niño atau faktor sementara lainnya.

Melampaui angka tersebut dalam satu tahun kalender tidak otomatis berarti dunia telah melampaui batas Paris secara permanen. Namun, proyeksi penelitian ini menunjukkan bahwa waktu untuk menghindari pelampauan jangka panjang semakin sempit.

Mengapa angka 1,5 derajat begitu penting? Karena setiap tambahan pemanasan meningkatkan risiko kerusakan.

Gelombang panas semakin sering dan intens. Kekeringan mengancam pertanian. Hujan ekstrem meningkatkan risiko banjir. Terumbu karang mengalami pemutihan massal.

Es di kutub dan gletser terus kehilangan volumenya. Ekosistem yang selama ribuan tahun berkembang dalam kondisi iklim relatif stabil harus menghadapi perubahan yang jauh lebih cepat.

Kita juga perlu memahami bahwa kenaikan suhu rata-rata global tidak berarti setiap tempat mengalami kenaikan yang sama.

Sebagian wilayah memanas lebih cepat, sebagian lainnya mengalami perubahan pola hujan dan cuaca yang lebih rumit.

Namun, Indonesia termasuk negara yang menghadapi risiko besar karena bentang kepulauannya, garis pantainya yang panjang, serta ketergantungan jutaan penduduk pada sektor pertanian, perikanan, dan sumber daya alam.

Jangan sampai kita sibuk menghitung kerugian setelah bencana. Coba tengok kehidupan kita sendiri. Petani semakin sulit menentukan kalender tanam ketika hujan datang tidak sesuai perkiraan.

Kini nelayan menghadapi perubahan musim dan kondisi laut yang semakin sulit diprediksi. Kota-kota pesisir menghadapi ancaman kenaikan muka laut, abrasi, dan banjir rob.

Jakarta, Semarang, Demak, dan berbagai kawasan pesisir lainnya sudah mengenal persoalan tersebut.

Ketika hujan ekstrem datang, kita sibuk membicarakan banjir. Ketika kemarau panjang menyerang, kita sibuk mencari air. Ketika kebakaran hutan terjadi, kita membentuk tim pemadam.

Pemerintah sering memperlakukan bencana iklim seperti tamu tak diundang yang harus segera diusir. Padahal, kita perlu membenahi rumahnya agar tidak terus-menerus mengundang masalah yang sama.

Pemerintah perlu mengubah kebijakan pembangunan secara lebih mendasar. Pertama, percepat pengurangan ketergantungan pada batu bara dan bahan bakar fosil.

Tetapkan jadwal penghentian pembangkit batu bara secara bertahap, dengan memperhitungkan keandalan pasokan listrik dan perlindungan pekerja. Perluas energi surya, panas bumi, angin, dan sumber energi rendah karbon lainnya.

Kedua, hentikan kerusakan hutan dan gambut. Pemerintah harus memperkuat pengawasan terhadap pembukaan lahan, menindak pembakaran hutan, serta memulihkan kawasan gambut dan mangrove.

Hutan tropis Indonesia memiliki fungsi penting sebagai penyimpan karbon sekaligus penyangga kehidupan masyarakat.

Ketiga, bangun sistem adaptasi iklim yang langsung menyentuh kehidupan rakyat.

Pemerintah daerah perlu memperbaiki drainase, memperkuat perlindungan pesisir, mengembangkan peringatan dini bencana, serta menyediakan informasi musim yang akurat bagi petani dan nelayan.

Sekolah, pesantren, rumah sakit, dan fasilitas umum juga perlu menyiapkan prosedur menghadapi gelombang panas, banjir, dan kekeringan.

Keempat, ukur keberhasilan pembangunan dengan memperhitungkan jejak karbon dan ketahanan lingkungan.

Setiap proyek besar harus menjelaskan berapa banyak emisi yang dihasilkan, bagaimana dampaknya terhadap ekosistem, serta bagaimana pemerintah mengurangi risikonya.

Jangan sampai sebuah proyek menghasilkan pertumbuhan ekonomi hari ini, tetapi meninggalkan tagihan bencana bagi anak cucu.

-000-

Penelitian Foster dan Rahmstorf memberikan pesan yang jauh lebih serius dari sekadar kabar bahwa suhu Bumi meningkat.

Selama beberapa dekade, manusia merasa masih mempunyai banyak waktu untuk mengatasi pemanasan global. Kini, data menunjukkan bahwa laju pemanasan semakin cepat. Waktu yang tersedia semakin sedikit.

Kita memang tidak boleh menafsirkan angka 98% sebagai kepastian bahwa seluruh ramalan bencana akan terjadi persis seperti yang dibayangkan.

Sains bekerja dengan pengukuran, model, probabilitas, dan pembaruan bukti. Namun, kita juga tidak pantas menggunakan ketidakpastian ilmiah sebagai alasan untuk menunda tindakan.

Dunia membutuhkan pengurangan emisi karbon dioksida dari bahan bakar fosil secara cepat hingga mencapai nol bersih, dengan pemangkasan emisi secepat mungkin.

Rahmstorf mengingatkan bahwa masa depan suhu Bumi pada akhirnya sangat bergantung pada seberapa cepat manusia menghentikan emisi CO2 dari sumber energi fosil.

Di sinilah persoalan iklim berubah menjadi persoalan politik, ekonomi, moral, dan peradaban.

Pemerintah harus berani mengambil keputusan yang mungkin tidak populer bagi kepentingan bisnis jangka pendek.

Perusahaan harus berhenti memperlakukan alam sebagai gudang bahan baku tanpa batas. Masyarakat perlu mengubah pola konsumsi dan penggunaan energi.

Al-Qur’an mengingatkan manusia tentang kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan tangan manusia (QS. Ar-Rum: 41).

Ayat ini mengajak kita merenungkan hubungan antara perilaku manusia dan kerusakan lingkungan.

Alam memiliki keseimbangan yang harus kita jaga. Ketika manusia terus mengambil tanpa memulihkan, keseimbangan itu terganggu.

Bumi tidak mempunyai tombol darurat yang dapat kita tekan ketika suhu sudah terlalu tinggi. Kita juga tidak bisa memanggil petugas pemadam untuk mendinginkan atmosfer.

Satu-satunya jalan ialah mengurangi sumber pemanasan dan memulihkan daya dukung alam.

Jangan menunggu Bumi berubah menjadi tungku raksasa sebelum kita sadar bahwa rumah ini sedang terbakar.

Sebab, ketika api sudah menjalar ke seluruh ruangan, penyesalan hanya menjadi asap yang ikut naik ke atmosfer.(*)

Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 1 November 2026

AHMADIE THAHA (Cak AT)

Wartawan Senior