Pemprov Jatim Puji Tradisi Kritik IPNU, Singgung Aksi Anarkis Pembakaran Grahadi

Momen foto bersama dalam pembukaan Rapimwil IPNU se-Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (31/10/2026) malam. (foto: IPNU Jatim untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengapresiasi tradisi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur dalam menyampaikan kritik secara santun dan berlandaskan akhlak. Sikap tersebut dinilai penting untuk menjaga tradisi intelektual sekaligus membangun budaya demokrasi yang sehat di tengah kehidupan masyarakat.

Apresiasi itu disampaikan Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan Pemprov Jatim, Dr. Akhmad Jazuli, saat mewakili Gubernur Jawa Timur membuka Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) IPNU se-Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (31/10/2026) malam.

“Selama ini, IPNU menyampaikan kritik dengan akhlak, baik secara lisan saat audiensi maupun secara tertulis,” kata Jazuli.

Dalam kegiatan yang dihadiri anggota DPD RI Lia Istifhama, perwakilan Polda Jatim, PWNU Jatim, serta puluhan kader IPNU dari berbagai daerah tersebut, Jazuli mengingatkan bahwa kader Nahdlatul Ulama (NU) harus memiliki kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan.

Menurut dia, kritik merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, penyampaiannya harus tetap mengedepankan etika dan tidak berujung pada tindakan anarkis.

“Jangan anarkhis seperti demonstrasi yang membakar Grahadi (gedung negara) pada tahun lalu, saya yakin kader NU itu selalu pakai akhlak, karena hal penting adalah kritik itu bisa sampai dan diterima,” ujarnya.

Jazuli juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan pembentukan karakter. Menurut dia, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga akhlak.

“Semakin tinggi pendidikan justru akhlak itu semakin penting, karena pendidikan setinggi apapun tidak akan ada manfaatnya tanpa akhlak,” katanya.

Aswaja dan Karakter Rahmatan lil Alamin

Sementara itu, Ketua PW IPNU Jawa Timur, M. Rafli Rifki Reza, menegaskan bahwa kader NU harus senantiasa menjaga karakter Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang menempatkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin).

Karakter tersebut, menurut dia, harus tercermin dalam sikap dan perilaku kader NU di tengah masyarakat, tanpa membedakan latar belakang agama maupun golongan.

“Karakter NU itu dari generasi ke generasi adalah rahmatan lil alamin, karena itu kader NU dimanapun selalu menjadi rahmat bagi pihak lain, termasuk non-Muslim,” katanya.

Dalam pembukaan Rapimwil yang juga dihadiri Ketua IPPNU Jatim Aprilia Nur Azizah itu, Rafli berharap kader IPNU tetap konsisten menjaga karakter Aswaja. Terlebih, kader-kader IPNU Jawa Timur selama ini turut memberikan warna dalam proses kaderisasi di tingkat nasional.

Ia menilai, menjadi bagian dari generasi muda yang mengabdikan diri kepada NU merupakan sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab untuk meneruskan nilai-nilai perjuangan para ulama.

“Menjadi anak muda yang berkhidmah kepada NU adalah hal yang istimewa, karena berkhidmah kepada NU itu merupakan anak muda pilihan. Dan, khidmah kepada NU yang penting itu adalah dengan menjaga karakter Aswaja yang diwariskan para ulama kepada kita,” ujarnya.

Rafli juga berharap Rapimwil IPNU Jatim mampu menghasilkan rumusan program konkret terkait penguatan karakter Aswaja. Rumusan tersebut nantinya diharapkan menjadi salah satu rekomendasi yang dibawa ke Kongres IPNU di Kendal, Jawa Tengah, pada akhir November 2026.

Lebih jauh, Rafli mengingatkan bahwa perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan tersendiri bagi pembentukan karakter generasi muda. Kehadiran artificial intelligence atau akal imitasi (AI), media sosial, serta kemudahan akses informasi melalui Google telah menjadikan ruang digital sebagai panggung baru bagi kecerdasan manusia.

Namun, menurut dia, kemajuan teknologi dan kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk menjawab kebutuhan manusia. Generasi muda juga harus memiliki kepekaan hati, moralitas, dan akhlak dalam memanfaatkan perkembangan teknologi.

“Tantangan kita sekarang adalah panggung digital yang merupakan panggung kecerdasan seperti AI, medsos, Google (kecepatan digital), padahal kebutuhan manusia itu bukan cuma otak tapi juga hati. Bukankah Nabi sendiri turun ke bumi untuk hati/akhlak, ya?!,” katanya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa penguatan karakter Aswaja tidak cukup berhenti pada pemahaman keagamaan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku, cara berkomunikasi, serta kontribusi nyata kader NU di tengah masyarakat, termasuk dalam menghadapi dinamika ruang digital.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi