
Rak pemanis rendah kalori di supermarket kian ramai. Ada berbagai merek rendah kalori, hingga campuran berbagai pemanis dalam kemasan berlabel “nol kalori”. Pertumbuhan itu bukan kebetulan. Menurut Federasi Diabetes Internasional, sekitar 1 dari 9 orang dewasa di dunia hidup dengan diabetes pada 2025. Bagi mereka dan keluarganya, pemanis pengganti gula bukan gaya hidup, melainkan ikhtiar sehari-hari. Seiring meningkatnya kesadaran mengurangi gula, kebutuhan akan pemanis pengganti hampir pasti terus tumbuh.
Ikhtiar itu bertumpu pada satu hal yaitu kepercayaan pada label. Polemik sebuah produk stevia belakangan ini menunjukkan betapa fatalnya peran keterbukaan. Kemasannya hanya mencantumkan glikosida steviol dan air, sementara hasil uji yang beredar di media sosial menyebut adanya sukralosa dan neotam. Produsen menghentikan sementara penjualan untuk verifikasi, tanpa membenarkan ataupun membantah.
Terlepas dari bagaimana kasus itu berakhir, pertanyaannya jauh lebih besar daripada satu merek. Seberapa jujur sebenarnya label pemanis yang beredar? Dan siapa yang memastikan kejujuran itu sebelum konsumen menjadi penguji pertamanya?
Aman Tidak Berarti Boleh Disembunyikan
Perdebatan soal pemanis kerap terjebak pada satu pertanyaan yaitu berbahaya atau tidak. Padahal, sebagian besar pemanis yang beredar telah melewati kajian keamanan internasional. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menetapkan batas asupan harian yang dapat diterima 15 miligram per kilogram berat badan untuk sukralosa, 2 miligram untuk neotam, dan 4 miligram untuk glikosida steviol. Pada pemakaian wajar, batas itu sulit terlampaui. Pemanis-pemanis tersebut juga tidak menaikkan gula darah secara bermakna.
Bukan berarti tanpa catatan. Sejumlah penelitian masih memperdebatkan efek jangka panjang pemanis non gula terhadap mikrobiota usus dan pengaturan rasa lapar. Badan kesehatan dunia atau World Heatlh Organization (WHO) pada 2023 bahkan tidak menyarankan pemanis non gula sebagai alat menurunkan berat badan. Namun, catatan itu berlaku bagi semua jenis, baik yang sintetis maupun yang berasal dari tanaman.
Label “alami” dan “nol kalori” juga kerap menimbulkan efek halo. Konsumen cenderung merasa aman menambah asupan makanan manis lain karena minumannya sudah memakai pemanis pengganti. Karena itu, kejujuran label pemanis adalah urusan kesehatan masyarakat, bukan sekadar urusan dagang.
Justru karena sebagian besar pemanis legal dan relatif aman, tidak ada alasan untuk menyembunyikannya. Di sinilah persoalan kejujuran muncul. Pasar pemanis memiliki hierarki harga dan citra. Stevia dipasarkan sebagai pilihan alami dan dijual lebih mahal. Sementara itu, neotam ribuan kali lebih manis daripada gula, sehingga sedikit saja dapat menggantikan banyak bahan yang lebih mahal. Selisih harga dan citra inilah yang membuka ruang bagi ketidakjujuran bermotif ekonomi.
Konsumen yang memilih stevia akan menghindari pemanis sintetis, dengan berbagai alasan kesehatan, keyakinan, atau preferensi. Undang-Undang Perlindungan Konsumen melarang pelaku usaha memperdagangkan barang yang komposisinya tidak sesuai dengan label. Ketika isi berbeda dari janji, yang dirampas bukan sekadar uang, melainkan hak untuk memilih secara sadar.
Label yang Bisa Diuji
Kejujuran label juga bergantung pada kemampuan publik membacanya. Polemik serupa kerap diwarnai salah tafsir. Dalam kasus stevia misalnya, unggahan yang beredar menyoal energi 188,84 kkal per 100 gram dan karbohidrat 47,21%. Angka itu tampak membantah klaim “nol kalori”. Namun juga perlu kita ketahui 47,21 dikalikan 4 menghasilkan tepat 188,84, dan hasil didapatkan dari uji proksimat/perhitungan. Sehingga tetap perlu menunggu klarifikasi dari BPOM.
Kecocokan tersebut menunjukkan bahwa energinya dihitung, bukan diukur. Dalam analisis proksimat, karbohidrat lazim ditentukan sebagai sisa setelah air, protein, lemak, dan abu dikurangkan. Senyawa pemanis yang nyaris tidak menyumbang energi pun ikut terhitung sebagai karbohidrat. Di sisi lain, BPOM membolehkan klaim bebas energi pada pemanis meja selama kandungannya tidak lebih dari 1 kkal per sajian. Klaim “nol kalori” dan angka ratusan kalori per 100 gram, dengan demikian, bisa sama-sama benar.
Masalahnya, penjelasan teknis semacam itu tidak sampai ke konsumen. Label dibuat sesuai aturan, tetapi tidak dirancang untuk dipahami sedemikian detailnya. Kekosongan informasi itu kemudian diisi tangkapan layar dan tafsir bebas di media sosial.
Celah berikutnya bersifat struktural. Banyak merek pangan kini berproduksi melalui pabrik mitra atau maklon. Pemilik merek menguasai pemasaran, sedangkan pabrik mengurus isi. Ketika muncul dugaan ketidaksesuaian, rantai tanggung jawab menjadi kabur, dan keduanya saling menunggu hasil verifikasi. Akibatnya, tidak jelas siapa yang wajib menjawab pertanyaan publik. Pengawasan post-market pun cenderung reaktif, baru bergerak setelah kegaduhan di media sosial.
Padahal, teknologi untuk mengonfirmasi kebenaran sudah tersedia. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk memberikan informasi yang jujur dan sanksi tegas bagi pelanggar. Kode QR pada kemasan yang terhubung ke hasil uji, misalnya, bukan teknologi mahal. Produsen yang jujur semestinya tidak keberatan, transparansi justru menjadi keunggulan bersaing mereka. Bagi konsumen, kewaspadaan tetap diperlukan. Laporkan kejanggalan, dan ingat bahwa pemanis hanya mengganti gula, bukan ramuan ajaib penghilang gula darah. Pengendalian diabetes tetap bertumpu pada pola makan menyeluruh dan pengobatan yang teratur.
Penting diperhatikan bahwa kejujuran adalah modal paling berharga bagi produsen. Sekali kepercayaan masyarakat dikhianati, tidak mudah untuk mendapatkannya kembali. Karena itu, jagalah kepercayaan konsumen dengan menjunjung tinggi kejujuran dan integritas dalam setiap produk. Semoga.(*)
MAHMUD ADITYA RIFQI
Ahli Gizi dan Dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM UNAIR)








