
Mendengar kabar wafatnya Kiai Jejen, Kamis dinihari kemarin, pikiran saya langsung melayang ke Gontor. Sekitar 1970, KH. Imam Zarkasyi yang biasa disapa Pak Zar menawarkan sesuatu ke para santri dan asatidz.
“Siapa di antara kalian yang bersedia mengabdi beberapa tahun untuk membantu Idris Jauhari?” tanya Pak Zar. Tanpa basa-basi, Moh. Zaeni Zaenuddin, yang belakangan akrab disapa Kiai Jejen, menyatakan siap.
Bersama empat orang kawannya, ia bersedia berangkat meninggalkan Gontor untuk membantu adik kelasnya, KH. Muhammad Idris Jauhari, merintis sebuah lembaga pendidikan Islam modern di Prenduan, Sumenep, Madura.
Kiai Jejen ingat betul keberangkatan mereka diiringi seruan takbir membahana. “Allahu Akbar, selamat jalan anak-anakku,” seru Pak Zar di corong masjid. “Allahu Akbar, selamat berjuang anak-anakku.”
Seruan dan doa para kiai itulah yang menjadi bekal batin bagi para santri muda tersebut. Mereka berangkat dengan membawa amanah besar di pundak, dibarengi keyakinan penuh akan keberhasilan.
Setelah enam bulan berada di Prenduan, cerita Kiai Jejen (21/12/2021), Pesantren TMI pun dimulai. Mereka mulai menggunakan rumah kontrakan milik Pak Parto sebagai tempat belajar sekaligus tempat tidur santri.
Pondok Pesantren Tarbiyatul Muallimin al-Islamiyah (TMI) membuka kegiatan pendidikannya pada awal 1971, dengan sekitar 40 murid. Dari ruang-ruang sederhana itulah perjuangan pendidikan mulai mengambil bentuk.
Kiai Jejen dan Kiai Idris telah bersahabat sejak sama-sama menimba ilmu di Ma’had Gontor. Namun, tugas pengabdian yang mempertemukan mereka di Madura berakar pada cita-cita KH. Ahmad Djauhari Chotib.
Kyai Djauhari adalah seorang ulama besar, ayahanda Kiai Idris, pengasuh Pondok Tegal di Prenduan sekaligus mursyid Tarekat Tijaniyah. Ia telah mengasuh pesantren dengan tradisi pendidikan Islam yang kuat.
Namun, ia menginginkan putra-putranya mengembangkan model pendidikan modern sebagaimana Gontor. Karena itulah, ia memondokkan ketiga putranya di sana, untuk menyiapkan kader penerus perjuangannya.
Ketika KH. Muhammad Tijani Djauhari, sang kakak, dan kemudian KH. Muhammad Idris Djauhari kembali dari Gontor, ayahanda mereka langsung memberikan amanah: mendirikan pesantren modern.
Ia telah menyediakan lahan lebih dari tiga hektare, untuk kampus. Cita-cita telah menemukan tempat berpijak. Kini, mereka membutuhkan orang-orang yang bersedia bekerja mewujudkannya.
Maka, tawaran KH. Imam Zarkasyi itu menjadi bagian penting dari ikhtiar tersebut. Lima santri berangkat. Mereka meninggalkan Gontor untuk ikut menanam benih yang kelak tumbuh menjadi TMI Al-Amien Prenduan.
Bayangkan perjalanan mereka sekitar tahun 1970. Gontor di Ponorogo belum memiliki kemegahan seperti yang kita kenal sekarang. Sementara Prenduan terletak jauh di ujung timur Madura.
Mereka harus menempuh perjalanan darat yang panjang, menyeberangi laut, lalu melanjutkan perjalanan menuju tempat pengabdian. Belum ada kemudahan komunikasi seperti sekarang. Segalanya harus diputuskan sendiri.
-000-
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kabar wafatnya KH. Moh. Zaeni Zaenuddin, yang akrab disapa Kiai Jejen, pada Kamis, 29 Oktober 2026, membawa duka bagi keluarga besar pesantren, dan sahabat seperjuangannya.
Seorang ulama telah menuntaskan perjalanan hidupnya. Seorang pejuang pendidikan telah meletakkan senjata pengabdiannya. Namun, medan perjuangan yang ia tinggalkan masih terbentang luas.
Saya mengenang sosok Kiai Jejen melalui gambar-gambar pertemuan terakhir yang beredar. Beliau mengenakan kopiah hitam, jas hitam, dan baju putih. Sebuah selendang bermotif melingkar di lehernya.
Wajahnya menyimpan keteguhan seorang lelaki yang telah melewati banyak musim perjuangan. Keriput di wajahnya seperti garis-garis perjalanan panjang, sementara sorot matanya memancarkan ketenangan orang yang telah lama mengukur hidup dengan pengabdian.
Tubuhnya memang telah menua. Tongkat yang menopang langkahnya menjadi tanda bahwa waktu terus bekerja pada setiap manusia, tanpa kecuali. Namun, jangan buru-buru mengira semangatnya ikut merunduk bersama tubuhnya.
Orang-orang yang mengenalnya tahu bahwa suara Kiai Jejen tetap tegar, tegas, dan penuh tenaga. Ketika berbicara, ia bisa menggebu-gebu.
Kalimat-kalimatnya meluncur dengan api keyakinan, seperti seorang komandan yang masih berdiri di garis depan, meskipun rambut zaman telah memutihkan kepalanya.
Kiai Jejen termasuk generasi ulama yang memahami bahwa mendirikan pesantren membutuhkan lebih dari sekadar bangunan, papan nama, dan seremoni peresmian.
Pesantren lahir dari kesediaan seseorang menyerahkan tenaga, waktu, pikiran, dan sebagian besar hidupnya untuk mendidik manusia.
Ia harus tahan menghadapi kekurangan, sanggup bekerja tanpa sorotan, dan tetap percaya ketika hasil perjuangan belum terlihat. Kiai Jejen telah memilih jalan itu sejak muda.
Salah satu jejak penting perjuangannya tercatat dalam sejarah awal perintisan Pondok Pesantren TMI, yang kini berubah nama menjadi Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura.
Kisah ini memperlihatkan betapa sebuah lembaga pendidikan besar dapat bermula dari keputusan sederhana yang menuntut keberanian luar biasa: kesediaan berangkat, mengabdi, dan membangun dari keadaan yang serba terbatas.
Pada masa itu, KH. Imam Zarkasyi mengajak para santrinya untuk membantu Muhammad Idris Jauhari, santrinya, merintis lembaga pendidikan di Prenduan.
Ajakan Pak Zar untuk mengabdi menuntut pengorbanan. Mereka yang bersedia harus meninggalkan lingkungan yang telah akrab, menempuh perjalanan jauh, dan memasuki kehidupan baru yang belum menjanjikan kenyamanan.
Mereka belum tahu betul seberapa panjang jalan yang harus ditempuh. Mereka hanya tahu bahwa seseorang harus bersedia berjalan lebih dahulu agar orang lain kelak mempunyai jalan.
Saat TMI dimulai, tak ada kemewahan yang membanggakan. Yang tersedia ialah ruang kontarakan yang harus disulap menjadi kelas, kehidupan yang harus diatur bersama, dan cita-cita yang menuntut kesetiaan setiap hari.
Di sinilah arti seorang perintis memperoleh bentuk paling nyata. Ia tidak menunggu semua fasilitas lengkap untuk mulai mendidik. Ia memanfaatkan apa yang tersedia, lalu bekerja agar keadaan terus membaik.
Sebuah rumah kontrakan, di luar arena pondok, dapat berubah menjadi ruang pembibitan generasi. Empat puluh murid dapat menjadi awal sebuah komunitas pendidikan.
Dari langkah-langkah kecil yang konsisten, sejarah menemukan jalannya sendiri. Kini, Al-Amien Prenduan telah berkembang menjadi kompleks pendidikan pesantren luas dengan berbagai jenjang mulai dari taman kanak-kanan hingga perguruan tinggi.
Perkembangan itu tentu melibatkan banyak orang, banyak generasi, dan kerja kolektif yang panjang. Namun, setiap pohon besar mempunyai akar yang bekerja dalam gelap.
Nama-nama para perintis patut kita ingat karena mereka menanam ketika orang lain belum dapat berteduh di bawah rindangnya.
Kiai Jejen juga pernah mengenang kedekatannya dengan KH. Muhammad Idris Jauhari, sahabat seperjuangan yang memimpin perintisan TMI.
Dalam kesaksiannya, ia menyoroti karakter Kiai Idris yang turun langsung mengawasi kehidupan santri, memperhatikan bahasa mereka, dan terlibat dalam berbagai urusan pendidikan.
Kiai Jejen mengakui bahwa teladan kepemimpinan seperti itu terus melekat dalam ingatannya.
Kesaksian tersebut mengungkap sesuatu yang penting tentang dunia pesantren. Pendidikan tidak selesai ketika seorang guru berdiri di depan kelas, menyampaikan pelajaran, lalu pulang.
Pendidikan berlangsung ketika pengasuh memperhatikan kebiasaan santri, mengawasi disiplin, membimbing perilaku, dan menunjukkan contoh melalui tindakannya sendiri.
Ilmu mengisi pikiran, sedangkan keteladanan membentuk watak. Keduanya membutuhkan kehadiran seorang pendidik yang sungguh-sungguh.
Barangkali pengalaman itulah yang turut membentuk jalan pengabdian Kiai Jejen setelah masa perintisan di Madura.
Ia kemudian dikenal sebagai pimpinan Pondok Pesantren Daaruttaqwa dan pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al-Madinah di Melati, Bogor.
Di lingkungan pendidikan yang berbeda, semangat membina generasi terus menemukan rumahnya.
Saya membayangkan betapa panjang daftar urusan yang harus ia hadapi selama puluhan tahun mengasuh pesantren.
Ia harus memikirkan santri, guru, kurikulum, kedisiplinan, pembiayaan, fasilitas, dan masa depan lembaga.
Di balik sebuah pesantren yang tampak tenang dari luar, selalu ada banyak persoalan yang menuntut keputusan.
Pengasuh yang baik memikul semuanya sambil berusaha menjaga agar cita-cita pendidikan tidak tenggelam oleh urusan sehari-hari.
Kiai Jejen menjalani pengabdian itu hingga usia 83 tahun. Pada usia ketika banyak orang mulai mengurangi kegiatan dan menikmati hasil kerja masa lalu, ia masih tampil di tengah masyarakat pesantren.
Kopiah hitamnya menjadi bagian dari sosok yang mudah dikenali. Suaranya yang tegas dan gaya bicaranya yang berapi-api memberi kesan bahwa urusan pendidikan selalu mempunyai tempat khusus di dalam dirinya.
Kini, suara itu telah berhenti. Kita tidak lagi dapat menunggu nasihatnya keluar dari mulutnya, menyaksikan gerak tangannya ketika menjelaskan sesuatu, atau merasakan langsung energi yang mengiringi perkataannya.
Foto-foto yang tersisa akan menjadi jendela kenangan. Kita melihat seorang kiai berdiri di antara sahabat dan keluarga, ditopang tongkat, tetapi tetap hadir dengan martabatnya.
Kematian memang memutus percakapan langsung, tetapi manusia masih dapat meneruskan percakapan melalui karya.
Para santri yang telah belajar darinya dapat membawa nilai-nilai pendidikan ke tempat masing-masing. Para guru dapat melanjutkan tradisi keteladanan.
Para pengelola pesantren dapat menjaga lembaga dengan integritas. Generasi muda dapat mempelajari kembali kisah para perintis agar mereka memahami bahwa kemajuan tidak tumbuh dari gedung megah saja.
Di sinilah amanah terbesar setelah kepergian seorang ulama pejuang.
Kita perlu menjaga pesantren sebagai tempat pembentukan manusia, bukan sekadar lembaga yang sibuk mengejar angka penerimaan santri, luas bangunan, atau banyaknya program.
Semua itu berguna, tetapi tujuan pendidikan jauh melampauinya. Pesantren harus melahirkan manusia berilmu, berakhlak, mandiri, dan sanggup memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kiai Jejen telah memberikan bagian hidupnya untuk cita-cita tersebut.
Kita mungkin tidak mengetahui seluruh pengorbanannya. Kita juga tidak mampu menghitung berapa banyak murid yang kelak meneruskan kebaikan melalui ilmu yang mereka terima.
Namun, justru di situlah keindahan pengabdian seorang pendidik: hasil terbaiknya sering tumbuh jauh dari pandangannya, bahkan setelah ia sendiri tiada.
Selamat jalan, Kiai Jejen. Perjuangan Anda di dunia telah mencapai batasnya, tetapi jejak pengabdian Anda masih berjalan bersama para santri, guru, dan keluarga besar pesantren yang Anda cintai.
Semoga Allah menerima segala amal saleh, mengampuni segala kekhilafan, melapangkan alam kubur, dan menempatkan almarhum di tempat yang mulia di sisi-Nya.
Amin ya Rabbal ‘alamin.(*)
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 30 Oktober 2026
AHMADIE THAHA (Cak AT)
Wartawan Senior dan Alumnus Prenduan Sumenep angkatan kedua








