NasDem Jateng Buka Ruang “Curcol”, Pekerja Diminta Tak Lagi Jadi Objek Kebijakan

diskusi Rumah Migran dan Care Economy NasDem (RM-CEN) Jawa Tengah yang digelar dalam rangkaian Gemuruh NasDem Jawa Tengah di Semarang, pada Sabtu (19/9/2026). (foto: Nasdem Jateng untuk Cakrawarta)

SEMARANG, CAKRAWARTA.com – Persoalan pekerja tak lagi cukup dibicarakan sebatas upah dan hubungan industrial. Pekerja migran, pekerja rumah tangga, pekerja informal, pekerja platform, pekerja muda hingga care workers juga menjadi bagian dari ekosistem kerja yang membutuhkan perlindungan sekaligus ruang untuk berkembang.

Persoalan tersebut mengemuka dalam diskusi Rumah Migran dan Care Economy NasDem (RM-CEN) Jawa Tengah yang digelar dalam rangkaian Gemuruh NasDem Jawa Tengah di Semarang, pada Sabtu (19/9/2026).

Diskusi tersebut sekaligus menjadi ruang bagi pekerja untuk menyampaikan persoalan dan kebutuhan mereka melalui mekanisme Curcol (Curhat Colongan) yang disiapkan RM-CEN Jateng, baik secara langsung maupun daring.

Ketua Bidang Migran DPP NasDem Eva Sundari mengatakan perubahan dunia kerja menuntut cara pandang yang lebih luas terhadap pekerja. Menurutnya, pekerja tidak hanya identik dengan buruh yang bekerja di sektor industri formal.

Pekerja bukan hanya buruh pabrik. Kita harus melihat seluruh ekosistem pekerja yang menopang kehidupan masyarakat,” kata Eva saat mengawali diskusi.

Eva mengatakan kebijakan ketenagakerjaan juga perlu bergeser dari paradigma worker protection menuju worker development. Perlindungan tetap diperlukan, tetapi pekerja juga harus mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kompetensi, memperoleh sertifikasi, mengembangkan usaha dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Salah satu persoalan yang turut menjadi perhatian adalah care economy, yakni pekerjaan yang berkaitan dengan pengasuhan dan perawatan, seperti pengasuhan anak, perawatan lansia, pendampingan penyandang disabilitas, pekerjaan rumah tangga serta berbagai layanan berbasis komunitas.

Sektor tersebut dinilai memiliki peran penting dalam menopang kehidupan sehari-hari, meski tidak seluruhnya terlihat dalam struktur pekerjaan formal.

Ketua Bidang Migran DPW NasDem Jawa Tengah Nur Amalia mengatakan RM-CEN Jateng menyiapkan mekanisme pengaduan melalui program Curcol bagi pekerja dan pekerja migran asal Jawa Tengah.

Karena Rumah Migran NasDem peduli domestik dan luar negeri maka Curcol darat dan udara akan kita laksanakan secara rutin. Kita akan bersinergi dengan serikat-serikat pekerja formal, informal dan terutama yang bekerja di sektor Care Economy,” kata Nur Amalia.

Menurut Nur Amalia, ruang Curcol tersebut diharapkan dapat menjadi kanal untuk mendengar langsung persoalan pekerja, baik yang bekerja di dalam negeri maupun pekerja migran.

Sementara itu, Novi Kurniasih dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jawa Tengah menyoroti pentingnya dukungan anggaran untuk memperkuat perlindungan pekerja migran.

Ia mengungkapkan, dukungan anggaran di tingkat provinsi maupun kabupaten masih perlu diperkuat. Karena itu, menurut Novi, diperlukan perbaikan kebijakan daerah, termasuk Pergub dan Perbup, guna memastikan dukungan anggaran dalam penanganan kasus-kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Diskusi juga menyoroti perlunya membangun ekosistem yang memungkinkan pekerja tidak hanya terlindungi ketika menghadapi persoalan, tetapi juga memiliki kesempatan meningkatkan kapasitas dan kesejahteraannya.

Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, serikat pekerja, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, partai politik hingga lembaga donor.

Gagasan RM-CEN Jateng tersebut mendapat respons dari Kepala BP3MI Jawa Tengah Dewi Aryani. Ia berharap Rumah Migran NasDem Jateng dapat menjadi mitra penting BP3MI Jawa Tengah, terutama dengan pendekatan yang menghubungkan perlindungan pekerja, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi dan penguatan komunitas.

Di tengah perubahan struktur ekonomi dan dunia kerja, diskusi tersebut menempatkan pekerja bukan sekadar sebagai pihak yang membutuhkan perlindungan, tetapi juga sebagai aktor yang memiliki kapasitas dan kepentingan dalam menentukan arah pembangunan.

Anggota DPR RI Komisi IX Fraksi NasDem Irma Chaniago menegaskan hal tersebut.

Pekerja jangan hanya menjadi objek kebijakan. Pekerja harus menjadi subjek pembangunan dan subjek politik,” kata Irma.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penekanan bahwa kebijakan ketenagakerjaan tidak semestinya hanya hadir ketika terjadi konflik atau persoalan hubungan industrial. Kebijakan juga perlu memberi ruang bagi pekerja untuk meningkatkan keterampilan, memperoleh perlindungan sosial, mengembangkan ekonomi keluarga dan menyampaikan aspirasi.

Melalui ruang Curcol, RM-CEN Jateng mendorong agar persoalan pekerja dapat dihimpun secara lebih langsung. Bagi NasDem Jateng, tantangan ke depan bukan hanya bagaimana melindungi pekerja, tetapi juga bagaimana memastikan pekerja memiliki posisi yang lebih kuat sebagai subjek pembangunan.(*)

Editor: Abdel Rafi