
MALANG, CAKRAWARTA.com – Rinai hujan baru saja reda pada Jumat (6/3/2026) sore. Aspal di ruas jalan utama Malang-Kepanjen masih tampak basah ketika belasan siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) BC Kepanjen berdiri berjajar di tepi jalan.
Mereka mengenakan kaus hijau-hitam. Di tangan mereka ada kantong plastik berisi takjil dan nasi kotak untuk berbuka puasa.
Satu per satu bingkisan itu mereka serahkan kepada pengendara sepeda motor yang melintas. Senyum merekah dari wajah para siswa, meski sebagian dari mereka memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi.
Di antara barisan itu berdiri seorang remaja berkopiah. Sesekali ia mengepakkan kedua tangannya seperti sayap, gerakan yang dikenal sebagai flapping, cara sebagian penyandang autisme menenangkan diri.
Remaja itu bernama Daniel Zora, 19 tahun.
Daniel adalah penyandang autisme nonverbal, yang tidak dapat berbicara. Dengan bimbingan seorang guru, ia menyerahkan bingkisan takjil kepada para pengendara.
Bagi Daniel, ini pengalaman pertama.
“Anak saya ikut membagikan takjil dan nasi berbuka untuk pengendara. Saya sebenarnya sempat khawatir, tetapi kegiatan seperti ini memang perlu dibiasakan agar ia berani bertemu orang lain dan terbiasa dengan berbagai aktivitas,” kata Erika, ibunda Daniel.
Daniel saat ini duduk di kelas X SLB BC Kepanjen. Ia juga satu-satunya siswa non muslim di sekolah tersebut.
Namun pada sore itu, Daniel berdiri bersama teman-temannya yang mayoritas beragama Islam untuk membagikan makanan berbuka puasa.
Di tengah perbedaan itulah, sebuah pelajaran sederhana tentang berbagi muncul.
Celengan yang Berubah Makna
Keikutsertaan Daniel dalam kegiatan itu bermula dari sebuah celengan kecil di rumah mereka.
Celengan tersebut diisi dari sisa uang belanja harian yang disisihkan Erika dan dimasukkan Daniel setiap hari. Awalnya, Erika berniat membuka celengan itu beberapa minggu lagi untuk membeli televisi.
“Kami baru tinggal di Malang dua tahun. Kehidupan kami sangat sederhana. Jika ingin membeli sesuatu di luar kebutuhan pokok, kami harus menabung dulu,” ujar Erika.

Di rumah mereka tidak ada televisi. Bahkan dahulu mereka belum memiliki sofa. Kasur dan lemari pakaian pun baru bisa dibeli beberapa bulan lalu.
Keinginan membeli televisi muncul setelah mereka berlibur ke Surabaya pada akhir tahun lalu. Di penginapan yang mereka tempati terdapat televisi, dan Daniel terlihat sangat tertarik.
Ia berdiri lama di depan layar, sesekali mengelus pinggir televisi, lalu duduk menonton dengan penuh perhatian.
“Dari situ saya tahu dia sangat menyukainya,” kata Erika.
Namun rencana membeli televisi itu berubah ketika sekolah mengumumkan program berbagi bertajuk “Disabilitas Peduli.”
Suatu sore, Daniel membawa celengan itu dan meletakkannya di pangkuan ibunya.
“Saya bertanya, celengan ini untuk kegiatan di sekolah? Televisi nanti saja? Dia tersenyum tipis. Saya menganggap itu tanda setuju,” kata Erika.
Celengan pun dibuka. Uangnya disumbangkan untuk kegiatan berbagi takjil yang digelar sekolah.
“Mungkin Tuhan menggerakkan hati anak saya untuk berbagi. Televisi bisa dibeli nanti. Kami bisa menabung lagi,” ujarnya.
Gotong Royong dalam Keberagaman
Kegiatan “Disabilitas Peduli” yang digelar SLB BC Kepanjen bukanlah kegiatan yang dibiayai sekolah semata.
Kepala sekolah Yulia Esti Mulyani mengatakan kegiatan tersebut berlangsung berkat gotong royong berbagai pihak.
Donasi datang dari wali murid, guru, mitra sekolah, Kantor Urusan Agama (KUA) Kepanjen, penyuluh agama Kementerian Agama Kabupaten Malang, serta donatur umum.
Sumbangan diberikan dalam bentuk uang maupun makanan berbuka puasa.
“Pendanaan kegiatan ini sepenuhnya berbasis partisipasi masyarakat. Kami menyebarkan flyer digital melalui media sosial untuk mengajak siapa saja ikut berdonasi,” kata Yulia.
SLB BC Kepanjen sendiri merupakan sekolah kecil yang terletak di Jalan Adi Santoso, tidak jauh dari Pasar Hewan Kepanjen. Sekolah ini memiliki sekitar 100 siswa dan berbasis sosial.
Tidak ada uang gedung yang dipungut. Iuran bulanan hanya berupa infak sebesar Rp 35.000.
Menariknya, para donatur yang terlibat berasal dari berbagai latar belakang agama.
Menurut Yulia, hal ini justru memperkuat pesan utama dari kegiatan tersebut.
“Ini wujud nyata toleransi beragama. Semangat berbagi dan kepedulian sosial melampaui perbedaan keyakinan,” katanya.
Belajar Empati dari Anak-anak
Kegiatan berbagi itu juga disambut antusias oleh para wali murid.
Ernawati, salah satu wali murid, menilai kegiatan tersebut memberikan pelajaran penting bagi banyak orang.

“Ini contoh nyata bagi anak-anak lain. Anak disabilitas saja bisa berbagi, masa kita tidak?” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan seperti ini tidak hanya membuat anak-anak merasakan kegembiraan berbagi, tetapi juga mengajarkan empati sejak dini.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlangsung pada tahun-tahun mendatang.
“Semoga kita semua diberi kesehatan dan rezeki agar bisa terus berdonasi,” katanya.
Di tepi jalan yang masih basah selepas hujan, anak-anak itu terus membagikan takjil dengan penuh semangat.
Sebagian dari mereka mungkin tidak bisa menjelaskan makna kegiatan itu dengan kata-kata.
Namun melalui senyum, gerakan tangan, dan bingkisan kecil yang mereka berikan, tersampaikan pesan yang sederhana sekaligus kuat bahwa kebaikan tidak mengenal batas, tidak oleh keterbatasan, tidak pula oleh perbedaan.(*)
Editor: Tommy dan Abdel Rafi



