
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menggagas “Gerakan NUConomic” sebagai upaya memperkuat kemandirian ekonomi warga Nahdlatul Ulama (NU). Gagasan ini bertumpu pada tiga pilar pemberdayaan ekonomi yang terinspirasi dari semangat “Nahdlatut Tujjar”, dan akan dibawa ke forum Konferensi Besar/Musyawarah Nasional NU pada akhir April 2026.
Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, Hakim Jayli, di Surabaya, Selasa (14/4/2026), menuturkan bahwa gerakan tersebut merupakan refleksi atas warisan para pendiri NU dalam membangun basis ekonomi umat. “Jika pada abad pertama NU berkembang gerakan Nahdlatut Tujjar yang dirintis para muassis, maka pada abad kedua ini semangat itu perlu dihidupkan kembali dalam bentuk yang relevan dengan tantangan zaman,” ujarnya.
Menurut Hakim, Komisi Ekonomi dalam Musyawarah Kerja Wilayah PWNU Jatim di Tuban pada 11-12 April 2026 telah menyepakati “NUConomic” sebagai kerangka gerakan ekonomi warga. Program ini diharapkan dapat diarusutamakan menjadi gerakan nasional melalui Konbes/Munas NU, hingga berlanjut pada Muktamar NU awal Agustus 2026.
Ia menjelaskan, konsep “NUConomic” dibangun di atas tiga pilar utama. Pertama, pendampingan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kedua, penguatan sektor riil melalui pendampingan petani, nelayan, dan peternak, termasuk pengembangan industri hilir. Ketiga, optimalisasi filantropi Islam mulai dari zakat, infak, sedekah, hingga wakaf, sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi warga.
Sebagai langkah awal, PWNU Jatim menyiapkan proyek percontohan perhutanan sosial di tiga wilayah, yakni PCNU Blitar, Kabupaten Malang, dan Situbondo. Sejumlah program pendukung juga mulai dijalankan, seperti sertifikasi halal bagi UMKM, permodalan melalui skema zakat produktif, serta pendampingan kemasan dan fotografi produk.
Di sektor hilirisasi, inisiatif juga datang dari kalangan kader muda NU. Salah satunya inovasi kolagen berbahan dasar sisik ikan lemuru (Sardinella lemuru) asal Banyuwangi yang dikembangkan alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Astutik MT, dengan kualitas yang diklaim berstandar internasional.
Senada dengan hal tersebut, Ketua PWNU Jawa Timur, KH. Abdul Hakim Mahfudz, dalam forum Muskerwil tersebut menekankan besarnya potensi ekonomi warga NU. Potensi itu, menurut dia, tidak hanya penting bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagi penguatan sosial, peningkatan kesejahteraan umat, dan kemandirian organisasi.
“PBNU telah mencanangkan pembentukan holding PT Bulan Cahaya Lillah (BCL) yang dapat menjadi embrio kebangkitan Nahdlatut Tujjar pada abad kedua NU,” ujarnya.
Selain agenda ekonomi, PWNU Jatim juga mengusulkan pelembagaan Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah) Center sebagai lembaga khusus. Usulan ini akan dibahas dalam Konbes/Munas NU sebagai bagian dari persiapan menuju Muktamar Ke-35 NU pada Agustus 2026 mendatang.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi


