
Satu pengalaman yang mengesankan bagi penulis sebagai seorang warga Jakarta yang daerahnya itu merupakan daerah yang sangat strategik. Wilayah yang sejak zaman dahulu menjadi tempat berlabuhnya berbagai perahu bahkan kapal besar antar benua yang bersengaja datang untuk keperluan yang sangat strategis. Keperluan itu tentu sangat terkait erat dengan satu tujuan yang yang mengarah pada suatu keputusan atas suatu kebijakan yang menyangkut berbagai kepentingan di berbagai bidang kehidupan. Baik itu kepentingan sosial, ekonomi, perdagangan, ilmu pengetahuan, kemaritiman, politik maupun keamanan dan kedaulatan atau kewilayahan.
Pengalaman itu terukir ketika penulis pribadi diundang untuk menghadiri suatu program lintas matra, darat, laut dan udara. Apa itu programnya, yakni sebuah program bertajuk Dari Batavia ke Baitullah. Sebuah tema perjalanan yang membawa kita bertanya apa yang ada dibalik tujuan perjalanan itu. Nampaknya perjalanan ini merupakan pintu untuk mengenal perkembangan dunia lintas sektor yang berdampak pada penyesuaian kebijakan di berbagai bidang, baik itu bidang sosial, ekonomi, perdagangan, bahkan sejarah dan wisata serta transportasi lintas matra suatu bangsa.
Mengapa demikian, sebelum penulis memenuhi undangan di atas, penulis telah mendengar dan menyaksikan berbagai tayangan di media cetak maupun media elektronik tentang perkembangan pembangunan kota Jakarta yang akan lebih terintegrasi moda transportasinya, tidak hanya darat dan udara bahkan laut sekalipun. Penulis termasuk warga yang sangat merasakan kemanfaatan moda transportasi di Jakarta ini hmpir 50 tahun. Penulis sangat mengapresiasi dan menyadari betapa mulianya seorang pemimpin dengan pemangku kepentingan terkait lainnya berbenah secara mendalam mengenai pentingnya pelayanan transportasi umum bagi warga Jakarta. Tahun depan, kota Jakarta yang akan memasuki usia yang ke-500 ini (Juli 2027). Kota Jakarta telah berevolusi dari kota pelabuhan kecil berkembang menjadi kota Megapolitan yang menjadi tempat persinggahan berbagai pihak baik nasional maupun internasional.
Moda transportasi udara, darat dan laut Jakarta berupaya menghubungkan satu titik ke titik lainnya. Moda transportasi ini pun sangat memperhatikan tidak hanya sisi jarak tempuh tetapi juga kondisi warganya yang lansia dan berkebutuhan khusus memerlukan pelayanan khusus dengan biaya yang sangat wajar bahkan fantastis khususnya bagi warga yang belum mampu dan lansia serta berkebutuhan khusus. Mengapa demikian, jumlah para lansia dan warga kurang mampu serta berkebutuhan khusus pun tergolong cukup banyak. Di satu keberadaan lansia ini berkat keberhasilan angka harapan hidup yang meningkat. Patut untuk mereka mendapatkan fasilitas biaya cuma-cuma.
Sejalan dengan kebijakan yang sangat futuristik dan apresiatif tersebut, kegiatan kunjungan ke Pulau Onrust dalam Tajuk Dari Batavia ke Baitullah sendiri telah membuka mata bagi warga kebanyakan seperti penulis yang belum berkesempatan untuk berkunjung ke wilayah Jakarta dengan melewati perairan untuk mencapai gugusan pulau-pulau yang masuk ke dalam wilayah administratif Kota Jakarta Utara.
Bisa dibayangkan, Jakarta yang kini warganya berjumlah hampir 12 juta jiwa (sensus Dukcapil 2025) sementara UN DESA PBB sendiri menghitung secara fungsional warga Jabodetabek itu mencapai 42 juta jiwa, maka kebutuhan pelayanan transportasi lintas matra sebagai transportasi publik sangatlah penting dan strategik. Ketersediaan transportasi yang memadai akan memberikan akses bagi warga untuk mendapatkan transfer informasi penting bagi warga Jakarta bahkan wilayah sekitarnya.
Satu aspek yang penting dari informasi di atas adalah aspek keadilan di dalam memberikan akses bagi semua kalangan untuk mengetahui adat dan budaya serta kearifan lokal setempat yang menjadikan wilayah kota Jakarta menjadi tuan rumah yang nyaman dan berkualitas bagi warganya dan pendatang. Setiap warga akan mendapatkan informasi seluas-luasnya. Sesuai tingkatannya warga tersebut diharapkan dapat mengelola informasi tersebut sebagai suatu kekuatan pengembangan pembangunan sumber daya manusia yang lintas sektor.
Bagaimana tidak, ketika seorang warga yang terbiasa tinggal di wilayah yang jauh dari pantai dapat mengetahui karakter warga pesisir sementara warga tersebut hanya berkutat/berusaha di wilayah non/jauh dari perairan. Sehingga kesempatan untuk melakukan kunjungan ke suatu wilayah melalui perairan akan membuka wawasan baru baik terkait semangat maupun produktivitas warga terkait.
Kunjungan ke Pulau Onrust, sebuah pulau yang merupakan bahagian dari gugusan kepulauan Seribu Jakarta Utara seakan membongkar peradaban nusantara yang dipenuhi berbagai perjalanan sejarah besar dari para pendahulu dan pendiri bangsa. Warga dan pendiri bangsa tersebut telah menjadikan kota Jakarta ini sebagai kota yang menjadi pusat interaksi berbagai bangsa. Bahkan kota Jakarta pun menjadi lintas pelayaran dan pusat perdagangan rempah-rempah bagi para saudagar-saudagar nusantara dan saudagar asing dari manca negara yang berdatangan dengan kapal layar guna mengangkut komoditi rempah-rempah Indonesia ke berbagai benua melalui perairan laut Jakarta.
Dalam perjalanan sejarah pun mencatat bahwa terdapat perkembangan yang memilukan ketika kota Jakarta (Batavia ketika itu) menjadi saksi terjadinya peristiwa berdarah yang dipicu oleh tindakan sewenang-wenang para penguasa/pedagang asing yang secara licik berkolaborasi dengan kekuatan bersenjata dari kalangan militer bangsanya untuk menguasai Batavia.
Seiring dengan itu, penjajah pun menjalankan politik pecah belah antara satu pemuka suku dengan suku lainnya. Banyak pula mereka yang terjebak dan diiming-imingi dengan kekuasaan dan keuntungan materi, maka wilayah nusantara menjadi terjajah dan berada dibawah kekuasaan penjajah hampir di semua aspek kehidupan, politik, ekonomi perdagangan dan teknik serta kebutuhan suatu umat beragama, antara lain kegiatan ibadah haji ke tanah suci (Makkah-Madinah di Arab Saudi) bagi yang mampu.
Dampak penjajahan pun terasa di dalam aspek sosial keagamaan di atas ketika penjajah mengekang pergerakan komunitas umat Islam Nusantara. Awalnya ketika kegiatan berhaji dari Nusantara ke Baitullah ini terendus oleh pihak penjajah sebagai suatu kegiatan yang bersifat strategis keumatan, maka pihak penjajah melakukan kontrol dan pengaturan super ketat terkait karantina warga muslim nusantara yang akan berhaji ke Baitullah dengan mengharuskan semua calon haji nusantara dikarantina dan di-screening terlebih dahulu di Pulau Onrust ini.
Hal tersebut terungkap dengan adanya kegiatan ekskavasi atas benda-benda purbakala (arkeologi) yang dengan jelas menggambarkan tata kelola administrasi pengelolaan kegiatan haji waktu itu di wilayah nusantara. Bayangkan betapa beratnya warga muslim itu untuk berhaji. Kegiatan berhaji ketika itu masih mengandalkan moda transportasi kapal laut/ kapal layar yang bisa memakan waktu hingga 4-6 bulan perjalanan pulang pergi dari Nusantara ke Baitullah dan kembali ke Nusantara.
Sungguh kegiatan arkeologi di Pulau Onrust ini membuka tabir mengenai riwayat dan proses perjalanan yang tidak mudah bahkan sangat sulit bagi para calon haji untuk berhaji ke tanah suci. Hal itu tidak saja akibat dari sisi dunia transportasi kemaritiman tempo dulu tetapi juga terkait administrasi dan malpraktik atas pengelolaan haji di masa itu, termasuk adanya pengekangan terhadap upaya-upaya tersebarnya semangat untuk merebut kemerdekaan oleh bangsa Indonesia yang semakin mengakumulasi/memuncak di kalangan pimpinan raja-raja nusantara kala itu dan jejaring kerja mereka yang berada di luar negeri.
Hal di atas terungkap dari bukti kesejarahan sebagaimana yang termaktub dalam dokumen arsip terkait adanya peran saudagar nusantara yang telah menjalin erat dengan para saudagar di wilayah Pasifik Ocenia hingga Semenanjung Arab dan Eropa kala itu.
Bukti arsip yang menyatakan adanya dukungan para saudagar nusantara dan juga pimpinan wilayah di mana mereka berada terhadap upaya membuka jalur dan komoditi yang diblokade. Para saudagar tersebut berupaya terlepas dari blokade perdagangan komoditi Indonesia dari tangan para penjajah dan sekutunya sehingga hal itu memperkuat sikap dan perjuangan fisik bahkan diplomasi para pendiri bangsa Indonesia bersama para saudagar nusantara yang akhirnya perjuangan tersebut mencapai titik kulminasi, yakni pencapaian kemerdekaan bangsa Indonesia di tanggal 17 Agustus 1945.
Sungguh sangat luar biasa kunjungan penulis dalam Tajuk Dari Batavia ke Baitullah ini. Perjalanan ini telah mengingatkan dan menyadarkan penulis serta membawa harapan kepada semua warga Jakarta dan Indonesia untuk memanfaatkan konektivitas transportasi laut guna mengambil manfaat seraya memaknai peninggalan arkeologi di Pulau Onrust ini yang mengandung keterkaitan yang sangat kuat dengan perjuangan bangsa Indonesia. Warga dan saudagar di nusantara maupun dari luar nusantara telah turut melahirkan cikal bakal tata kelola pembangunan daerah dan nasional berbagai bidang kehidupan. Untuk itu selayaknya pengelolaan wilayah perkotaan, perdagangan komoditi, termasuk transportasi hingga pelayanan haji yang menjadi lebih baik dan beradab ke depannya.
Dengan segala kerendahan hati, penulis bisa katakan acara kunjungan arkeologi bersejarah ke Pulau Onrust ini sebagai perjalanan yang sangat heroik. Kegiatan ini dirintis dan dipersiapkan secara apik oleh pemda DKI Jakarta berkolaborasi dengan komunitas budaya dapat dijadikan sebagai suatu model dan paket kunjungan wisata arkeologi bersejarah yang dapat meningkatkan rasa penghargaan kita terhadap upaya perbaikan tata kelola pada kualitas pelayanan publik termasuk haji agar semakin membaik dan beradab tidak seperti di era kolonialisme.
Begitupun terkait perdagangan komoditi nusantara yang seharus semakin dapat mewujudkan kesejahteraan warga dan bisa menjadi obyek wisata maritim bersejarah yang membuka wawasan serta ekspektasi kita sebagai bangsa maritim yang besar dengan warisan peninggalan bersejarah seperti pembuatan Kapal-Kapal Laut besar di zaman raja-raja Nusantara tempo dulu seperti pembangunan kapal Phinisi dan kini berkembang menjadi pembuatan kapal bermesin oleh PT PAL serta dapat memperkuat rasa nasionalisme sekaligus penghormatan atas pengorbanan para para pahlawan dan pendiri bangsa Indonesia termasuk para saudagar nusantara dan jejaring.
Hal di atas patut dicontoh oleh generasi saat ini dan ke depan sehingga sejarah panjang Bangsa Indonesia yang tergambar dari jejak arkeoolog di Pulau Onrust dan arsip statis bersejarah yang kini tersimpan di ANRI menjadi aset bagi pembangunan manusia Indonesia ke depan.
Sejalan dengan itu pun, perkembangan dan pembangunan konektivitas lintas matra selayaknya semakin menjadi prioritas dan didukung oleh para pemangku kebijakan sebagai suatu amanah untuk terus berbuat yang terbaik bagi bangsa di segala bidang sesuai kemampuannya.
Semoga Bangsa Indonesia menjadi lebih baik dan lebih bermartabat di berbagai bidang. (*)
MOEHAMMAD AMAR MA’RUF
Penulis Buku Katulistiwa








