
“Setiap fungsi dalam perkembangan budaya anak muncul dua kali: pertama, di tingkat sosial, dan kemudian, di tingkat individu; pertama-tama antar-manusia [interpsikologis] dan kemudian di dalam diri anak[intrapsikologis]… Semua fungsi mental yang lebih tinggi berasal dari hubungan nyata antar-individu.” -L.S. Vygotsky(1896-1934), Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes (1978).
Hari kedua setelah menghadiri 39 Tahun Perkumpulan Orang Gorontalo Rantau, Lamahu, di hotel Ambara Jakarta, tepat 3 Oktober 2026 silam, penulis diajak Sekretaris Lamahu Sulut, Aan Reidy Pateda SE.Ak. ke mall Kokas kawasan Kuningan.
Sehabis menyantap makanan Thailand dengan menu seharga 1.865 Baht Thailand (THB), kami berkeliling seputar lantai satu dan menemukan lapak “Festival Buku Literasi”. Sembari memilih buku-buku diskon hingga 70%, penulis mengambil sejumlah buku dan dua di antaranya diulas, di luar buku fiksi bentuk drama, selanjutnya.
Buku, seperti kehidupan dalam bentuk lain menurut pengarangnya, selalu menjadi incaran penulis di setiap perjalanan kemanapun.
Penulis tak tahu, apakah memang mengidap “booksmaniac” atau dalam versi lain mirip tokoh John Charless Gilkey dalam The Man Who Loved Books Too Much: The True Story of a Thief, a Detective, and a World of Literary Obsession (2009) dari jurnalis Allison Hoover Bartlett.
Dari kedua buku non fiksi dan satunya fiksi drama yang dibeli di toko buku Komunitas Salihara, resensi singkatnya ini ditulis sebagai salah satu tips bagaimana menghidupkan literasi pengetahuan.
Buku pertama yang memikat, karya sosiolog asal Amerika Serikat, Phil Zuckerman, Masyarakat Tanpa Tuhan (2018). Edisi bahasa Inggrisnya adalah Society Without God: What the Least Religious Nations Can Tell Us About Contentment (2008). Penulis kelahiran 1969 ini aktif mempublikasikan kajian sosiologi sekuler sejak akhir dekade 1990-an hingga kini. Karyanya adir bukan sebagai prasangka teologis melainkan murni riset dan survei lapangan yang mendalam di Denmark dan Swedia.
Melalui pengamatan empiris dan wawancara mendalam, Zuckerman membedah fenomena unik masyarakat dengan tingkat religiusitas paling rendah di dunia. Namun, dari risetnya, masyarakat yang diwawancarai justru mampu membangun tatanan sosial yang stabil, penuh ketenangan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kesejahteraan bersama.
Riset ini memberikan perspektif baru bahwa keteraturan moral serta solidaritas organik dapat tumbuh mekar di atas tanah sekularisme yang matang. Berikut wawancara Phil dengan beberapa narasumber.
Phil Zuckerman: “Jadi Anda tidak percaya pada kehidupan setelah kematian?”
Lars: “Tidak… Saya tidak tahu. Saya tahu—bagi saya—ketika semuanya selesai, ya selesai.”
Phil Zuckerman: “Tetapi jika Anda berpikir ‘ketika selesai, ya selesai,’ lalu apa artinya semua ini? Apa makna hidup?”
Lars (asal Denmark): “Makna hidup? Saya memiliki waktu saya di bumi dan adalah kewajiban saya untuk menjalankannya sebaik mungkin. Saya berusaha menjadi ayah yang baik… Saya memiliki tahun-tahun yang indah.
Lainnya, “Tentu saja karena tradisi… Harus menjadi pernikahan yang sesungguhnya, Anda tahu, dengan gaun putih di gereja tua ini. Itu sudah menjadi norma. Itulah yang biasa kami lakukan.”
Lebih lanjut, Ketika ditanya apakah percaya pada Tuhan atau keilahian Yesus: “Oh ya, saya seorang Kristen, bisa dikatakan begitu.”
“Tidak, tidak ada hal konyol seperti itu.”
Karya kedua, Pikiran dalam Masyarakat (2026) dimana terbitan dalam bahasa Inggrisnya berjudul Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes (1978) dan membawa kita menyelami pemikiran tajam dari L.S. Vygotsky.
Psikolog berkebangsaan Soviet ini lahir pada 17 November 1896 dan wafat dalam usia muda pada 11 Juni 1934. Dalam usia pendek itu, Vygotsky punya masa aktif intelektual yang sangat padat sepanjang dekade 1920-an hingga awal 1930-an.
Tinjauan psikologis dalam buku ini meletakkan pondasi penting mengenai bagaimana proses kognitif, kesadaran, dan bahasa manusia terbentuk melalui interaksi sosiokultural.
Vygotsky menegaskan bahwa pikiran individu bukanlah entitas yang terisolasi. Bahkan pikiran itu sendiri merupakan hasil bentukan konstruksi sosial, di mana kebudayaan dan instrumen simbolik berperan sebagai jembatan utama dalam pematangan fungsi psikologis tingkat tinggi.
Pelengkap dari perburuan literasi ini hadir dari ranah fiksi drama berjudul Malam Kelima Belas: Drama Tiga Babak (2025). Naskah ini merupakan pemenang Sayembara Naskah Teater Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2024 yang ditulis oleh Angelina Enny, seorang sastrawan berbakat asal Lampung.
Mengambil latar sejarah yang pekat dan emosional, drama tiga babak ini menyuarakan tragedi kemanusiaan yang dialami oleh komunitas peranakan Cina sewaktu terperangkap dalam pusaran kekerasan politik 1965 dan 1998 di Indonesia. Lewat jalinan dialog yang puitis sekaligus getir, Angelina Enny berhasil merajut trauma sejarah, luka kolektif, serta pencarian identitas. Dari naskah yang memuat tiga tragedi sekaligus, dialog-dialognya menjadi sebuah bentangan panggung drama yang menggugat nurani dan mengabadikan ingatan zaman.
Demikian selintas deskripsi ole-ole literasi yang dibawa pulang ke kampung halaman dari ibukota negara, Jakarta, tumpah pedat.
Dan dari sudut Senen, tulis Chairil Anwar, “pilih kuda paling liar. Pacu laju. Tinggalkan kalau merayu.”
#coverlagu: Lagu “Damba Di Dada” yang dinyanyikan oleh Chrisye pertama kali dirilis pada tahun 1979. Lagu ini, lirik Junaedi Salat, merupakan salah satu trek dalam album solo studio keduanya bersama Jockie S. dengan label Musica Studios bertajuk Percik Pesona.
REINER EMYOT OINTOE
Fiksiwan








