Mencari ‘Bulu Tangkis’ dalam Sains Indonesia

Momen obrolan santai tapi isi “daging” semua antara Wamendiktisaintek Stella Kristi dan host podcast Helmy Bicara, Helmy Yahya tentang sains dan masa depan sains di Indonesia. (foto: tangkapan layar)

Indonesia tidak kekurangan orang pintar dan sumber daya. Tantangannya adalah membangun ekosistem yang mampu mengubah potensi menjadi keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ada satu pertanyaan menarik yang patut direnungkan ketika berbicara tentang masa depan ilmu pengetahuan Indonesia yaitu, mengapa sebuah negara yang memiliki begitu banyak talenta, sumber daya alam, dan perguruan tinggi belum juga menemukan bidang sains dan teknologi yang menjadi keunggulan khasnya di tingkat dunia?

Pertanyaan itu mengemuka dalam percakapan Prof. Stella Kristi, ilmuwan kognitif yang kini mengemban tanggung jawab sebagai Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, dalam podcast Helmi Bicara yang dipandu Helmy Yahya.

Stella menggunakan perumpamaan yang sederhana, tetapi mengandung makna strategis. Indonesia, menurut dia, belum memiliki ‘bulu tangkis’ dalam bidang sains dan teknologi.

Bulu tangkis bukan sekadar olahraga yang populer di Indonesia. Ia telah menjadi identitas keunggulan nasional, bidang yang secara konsisten melahirkan atlet berprestasi dan menempatkan Indonesia dalam percakapan dunia. Pertanyaannya, mengapa keberhasilan serupa belum sepenuhnya terbangun dalam ekosistem ilmu pengetahuan?

Persoalannya tentu bukan karena Indonesia tidak memiliki orang pintar. Justru sebaliknya, potensi manusia Indonesia sangat besar. Namun, potensi individual tidak dengan sendirinya berubah menjadi kekuatan kolektif. Dibutuhkan sistem pendidikan, pendanaan penelitian, kelembagaan, kolaborasi, dan keberanian menentukan prioritas.

Di sinilah gagasan Stella menjadi relevan untuk dibicarakan lebih jauh.

Kecerdasan Bukan Sekadar Bawaan

Menariknya, perjalanan pemikiran Stella berangkat dari pertanyaan yang sangat mendasar dalam ilmu kognitif yaitu, bagaimana manusia memperoleh pengetahuan?

Di laboratoriumnya, ia bersama tim membandingkan kemampuan manusia, primata seperti simpanse dan orangutan, serta sistem artificial intelligence atau akal imitasi (AI). Ketiganya diberikan tugas atau eksperimen yang sebanding untuk melihat bagaimana masing-masing membangun pengetahuan.

Salah satu hal yang menarik adalah kemampuan manusia memahami sesuatu dari informasi yang relatif sedikit. Seorang anak berusia tiga tahun, misalnya, tidak perlu melihat ribuan jembatan untuk memahami kategori benda yang disebut jembatan. Sebaliknya, sistem AI sering kali membutuhkan kumpulan data dalam jumlah sangat besar untuk melakukan pengenalan yang sebanding.

Temuan tersebut memberikan pelajaran penting bahwa kecerdasan tidak identik dengan kemampuan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi. Ada kemampuan lain yang justru menentukan, yakni mengenali pola, membangun abstraksi, dan memahami hubungan antarinformasi.

Bahkan, sesuatu yang kerap dianggap sebagai kelemahan manusia, yakni lupa, dapat memiliki fungsi penting. Dengan melupakan sebagian detail, otak memiliki kesempatan untuk menangkap pola yang lebih besar.

Dalam konteks pendidikan, pemahaman ini seharusnya mengubah cara kita memandang proses belajar. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang mampu menghafal dan mengulang informasi. Yang lebih penting adalah membentuk kemampuan berpikir, mempertanyakan sesuatu, menghubungkan pengetahuan, dan mengambil keputusan.

Stella juga mengingatkan bahwa kecerdasan tidak semata-mata ditentukan faktor bawaan. Lingkungan keluarga, pengalaman pendidikan, dan kesempatan belajar memiliki peran besar dalam mengembangkan potensi seseorang.

Percakapan sederhana antara orang tua dan anak, misalnya, dapat menjadi sarana melatih penalaran. Pertanyaan tentang apa yang terjadi ketika air dalam cangkir dituangkan ke piring dapat mendorong anak memperkirakan, menjelaskan, dan menguji pemahamannya.

Namun, tanggung jawab tersebut tidak boleh dibebankan kepada keluarga semata. Tidak semua orang tua memiliki waktu, pendidikan, dan sumber daya yang sama. Sekolah dan negara harus memastikan setiap anak memperoleh lingkungan belajar yang bermutu.

Karena itu, persoalan kualitas pendidikan Indonesia tidak cukup dijelaskan melalui satu faktor, termasuk stunting. Korelasi tidak otomatis menunjukkan hubungan sebab-akibat. Correlation is not Causation, tegas Stella menanggapi pernyataan host Helmy Yahya. Persoalan capaian belajar harus dibaca melalui berbagai faktor, terutama kualitas pengajaran, kapasitas guru, dan sistem pendidikan secara keseluruhan.

Dari Laboratorium Menuju Kebijakan Publik

Perjalanan akademik Stella memperlihatkan bahwa membangun ilmu pengetahuan membutuhkan lingkungan yang memungkinkan seseorang berkembang. Setelah menempuh pendidikan doktoral di Northwestern University dan menjalani riset pasca doktoral di University of British Columbia, ia berkarier di Swarthmore College, Amerika Serikat, hingga memperoleh posisi profesor dengan status tenure.

Pada 2016, ia memilih bergabung dengan Tsinghua University di Beijing. Keputusan itu bukan semata-mata pertimbangan finansial atau fasilitas penelitian. Ia melihat pusat gravitasi sains dunia sedang bergerak ke Tiongkok.

Pengalaman tersebut memberinya perspektif tentang bagaimana negara membangun kekuatan ilmu pengetahuan melalui investasi, perekrutan talenta, dan penentuan bidang-bidang prioritas.

Ketika kemudian memilih memasuki pemerintahan, Stella menyebut satu pertimbangan yang lebih personal yaitu meaning alias makna.

Ia meninggalkan lingkungan akademik yang telah memberinya posisi mapan untuk memasuki dunia kebijakan publik yang jauh lebih kompleks. Bahkan, keputusan tersebut membawa konsekuensi terhadap kehidupan keluarganya yang harus menjalani hubungan jarak jauh.

Pilihan itu menarik karena memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak harus berhenti di laboratorium atau ruang publikasi akademik. Pengetahuan juga harus menemukan jalan menuju perubahan kehidupan masyarakat.

Akan tetapi, membawa tradisi ilmiah ke dalam birokrasi bukan pekerjaan mudah. Dunia penelitian mengenal pengujian hipotesis, evaluasi, dan keterbukaan terhadap temuan baru. Sementara itu, birokrasi sering kali berhadapan dengan prosedur, koordinasi kelembagaan, dan resistansi terhadap perubahan.

Di sinilah tantangan kebijakan sains Indonesia sesungguhnya berada: bagaimana membangun pemerintahan yang tidak hanya mengalokasikan anggaran penelitian, tetapi juga menciptakan sistem yang memungkinkan penelitian menghasilkan perubahan nyata.

Anggaran Penting, Ekosistem Lebih Menentukan

Salah satu persoalan yang disoroti Stella adalah tata kelola pendanaan penelitian. Menurut keterangannya dalam wawancara, kementerian berhasil memperoleh tambahan pendanaan riset sebesar Rp800 miliar dari LPDP pada 2025 melalui pengajuan proposal yang disusun bersama.

Ia juga mengungkapkan perubahan kebijakan yang memungkinkan sebagian dana hibah, hingga 25% menurut penjelasannya, dialokasikan sebagai honorarium peneliti.

Dua hal tersebut memperlihatkan bahwa persoalan penelitian bukan hanya berapa besar uang yang tersedia, melainkan bagaimana sistem pendanaan dirancang agar peneliti memiliki insentif dan kesempatan untuk menghasilkan karya terbaik.

Selama ini, diskusi mengenai kemajuan riset kerap terjebak pada besaran anggaran. Padahal, tambahan anggaran tidak otomatis menghasilkan inovasi jika mekanisme pendanaan tidak kompetitif, birokrasi terlalu rumit, dan hasil penelitian tidak memiliki jalur menuju pemanfaatan.

Gagasan pendanaan berorientasi kebutuhan atau demand-oriented menjadi menarik untuk dipertimbangkan. Pemerintah dan industri terlebih dahulu mengidentifikasi persoalan yang membutuhkan jawaban ilmiah. Peneliti kemudian berkompetisi menawarkan solusi berdasarkan kualitas gagasan dan metodologi.

Ketahanan energi, pengembangan etanol, dan pengolahan sampah menjadi energi merupakan beberapa contoh persoalan yang dapat menjadi prioritas penelitian.

Pendekatan tersebut bukan berarti penelitian fundamental harus ditinggalkan. Justru penelitian dasar tetap diperlukan sebagai fondasi inovasi jangka panjang. Yang perlu dibangun adalah keseimbangan antara kebebasan akademik, kebutuhan masyarakat, dan agenda strategis negara.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah keberanian mengevaluasi sistem. Pengalaman Amerika Serikat dan Tiongkok, sebagaimana diceritakan Stella, memperlihatkan bahwa sistem akademik dan pendanaan penelitian dapat terus disesuaikan untuk meningkatkan produktivitas.

Indonesia tidak harus menyalin seluruh model negara lain. Namun, kita perlu memiliki keberanian untuk mengakui ketika sebuah mekanisme tidak lagi efektif.

Rumput Laut dan Peluang Menemukan Keunggulan

Pertanyaan tentang ‘bulu tangkis’ dalam sains Indonesia menjadi semakin konkret ketika Stella berbicara mengenai rumput laut.

Indonesia memiliki potensi besar dalam produksi rumput laut tropis. Namun, pemanfaatannya masih banyak bertumpu pada bahan mentah dan pasar karagenan.

Padahal, komoditas tersebut menyimpan peluang pengembangan yang lebih luas. Stella melihat kemungkinan pemanfaatan rumput laut sebagai bahan baku energi terbarukan, termasuk biofuel dan sustainable aviation fuel atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Potensi ini tentu tidak otomatis menjadi kenyataan. Teknologi yang tersedia masih menghadapi persoalan keekonomian dan perlu dikembangkan agar dapat dikomersialkan.

Karena itu, penelitian genomik, pengembangan varietas, budidaya, serta teknologi pengolahan menjadi bagian penting dari rantai inovasi. Dalam wawancara tersebut, Stella juga menyampaikan upaya membangun kolaborasi penelitian dengan Universitas Mataram dan Beijing Genomics Institute.

Gagasan ini menarik bukan semata-mata karena rumput laut dapat menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi. Lebih jauh, ia menunjukkan bagaimana kekayaan alam Indonesia dapat menjadi dasar pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki karakter nasional.

Inilah yang semestinya menjadi orientasi kebijakan sains: tidak sekadar menghasilkan publikasi atau memperbanyak paten, tetapi membangun keunggulan yang berangkat dari persoalan dan potensi Indonesia sendiri.

Tentu, pemilihan rumput laut sebagai salah satu bidang prioritas harus didukung kajian ilmiah, pengujian teknologi, perhitungan keekonomian, dan keberlanjutan lingkungan. Tidak semua potensi sumber daya alam otomatis layak menjadi industri masa depan.

Namun, sebuah negara tidak akan menemukan keunggulan strategis jika tidak berani memilih, menguji, dan berinvestasi secara konsisten.

Mengubah Cara Berpikir tentang Masa Depan

Dari penelitian tentang otak manusia hingga gagasan mengenai strategi sains nasional, ada satu benang merah dalam pemikiran Stella bahwa kemampuan memilah informasi, mengenali pola, dan memahami persoalan secara menyeluruh.

Indonesia sesungguhnya menghadapi persoalan serupa.

Kita memiliki banyak informasi, data, perguruan tinggi, peneliti, dan sumber daya alam. Namun, semua itu belum tentu menghasilkan keputusan strategis apabila tidak diolah menjadi pengetahuan dan pemahaman yang utuh.

Negara membutuhkan lebih dari sekadar orang pintar. Negara membutuhkan sistem yang memungkinkan orang-orang pintar bekerja, berkolaborasi, berkompetisi secara sehat, dan menghasilkan inovasi.

Kunjungan Stella ke 78 perguruan tinggi di 30 provinsi, sebagaimana disampaikannya dalam wawancara, juga memberikan pesan penting bahwa kebijakan tidak cukup disusun dari balik meja kementerian. Pemerintah perlu mendengar pengalaman perguruan tinggi dan memahami persoalan yang berbeda-beda di setiap daerah.

Karenanya, mencari ‘bulu tangkis’ dalam sains Indonesia bukan sekadar mencari satu komoditas unggulan atau teknologi yang dapat dibanggakan. Ini adalah pekerjaan membangun ekosistem pengetahuan.

Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu berpikir, bukan sekadar menghafal. Perguruan tinggi harus menjadi ruang produksi pengetahuan yang relevan. Peneliti membutuhkan sistem pendanaan yang adil dan kompetitif. Pemerintah harus berani menentukan prioritas sekaligus terbuka terhadap evaluasi.

Sebab, kemajuan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang dimilikinya, melainkan oleh kemampuannya mengubah pengetahuan menjadi keputusan dan keputusan menjadi perubahan.

Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang masih harus dibuktikan adalah keberanian membangun sistem yang membuat potensi itu tumbuh menjadi keunggulan.

Dan mungkin, di situlah pencarian ‘bulu tangkis’ dalam sains Indonesia sesungguhnya bermula.(*)

Kontributor: Abdel Rafi

Editor: Umar Faruq