Tinggalkan Pola Organisasi Konvensional, ISMI Jatim Siapkan Sistem Digital dan Budaya Egaliter

Momen silaturahmi pengurus, anggota dan simpatisan ISMI Jatim di Kampoeng Steak, Jalan Raya Ponti Nomor 9, Sidoarjo, Selasa (3/11/2026). (foto: Zubaid H)

SIDOARJO, CAKRAWARTA.com – Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Jawa Timur mulai menyiapkan arah baru organisasi dengan menempatkan penguatan sistem, digitalisasi, dan kolaborasi sebagai fondasi utama. Di bawah kepemimpinan Ketua ISMI Jawa Timur yang baru, Mangesti Waluyo Sedjati, organisasi ini diarahkan untuk tidak sekadar menjadi wadah silaturahmi para pengusaha Muslim, tetapi juga berkembang menjadi ekosistem bisnis yang terintegrasi dan berdaya saing hingga tingkat internasional.

Mengusung semangat “ISMI Bangkit dari Jawa Timur”, Mangesti menekankan pentingnya membangun sistem organisasi yang mampu menghubungkan seluruh unsur dan potensi yang dimiliki ISMI. Salah satu langkah strategis yang disiapkan adalah pengembangan platform digital sebagai pusat integrasi data dan komunikasi antar anggota.

Melalui platform tersebut, ISMI Jatim diharapkan memiliki basis data yang jelas mengenai jumlah anggota, bidang usaha yang digeluti, potensi bisnis, hingga peluang kerja sama yang dapat dikembangkan bersama.

“Biar sistem yang berjalan. Kita akan membangun sistem itu, salah satunya platform digital yang dapat menyatukan semua unsur dan potensi di tubuh ISMI,” demikian gagasan Mangesti mengenai arah pengembangan organisasi ke depan.

Menurutnya, keberadaan basis data yang terintegrasi akan memudahkan organisasi memetakan kekuatan ekonomi anggotanya. Dengan demikian, potensi yang selama ini tersebar di berbagai sektor usaha dapat diidentifikasi dan dihubungkan menjadi peluang kolaborasi konkret.

Pendekatan tersebut sekaligus menjadi pijakan untuk membangun organisasi yang lebih efektif. Mangesti menegaskan, program kerja ISMI harus disusun secara realistis, dapat dicapai, memiliki ukuran keberhasilan yang jelas, serta mudah dilaksanakan.

Baginya, organisasi tidak cukup hanya memiliki banyak agenda dan rencana besar. Setiap program harus mempunyai sasaran yang terukur agar manfaatnya benar-benar dirasakan anggota.

“Program kerja organisasi harus achievable dan terukur, mudah dilaksanakan,” tegasnya.

Transformasi organisasi tersebut tidak berhenti pada pembenahan administrasi dan penguatan komunikasi internal. Mangesti juga menempatkan perluasan jejaring sebagai salah satu orientasi penting ISMI Jawa Timur.

Ia menginginkan ISMI Jatim mampu berkembang melampaui batas-batas regional, memperluas jangkauan kolaborasi ke tingkat nasional, sekaligus membuka peluang hubungan bisnis di tingkat internasional.

“ISMI Jatim harus go nasional, go internasional,” menjadi salah satu penekanan arah kepemimpinannya.

Gagasan tersebut memiliki relevansi dengan potensi ekonomi Jawa Timur yang ditopang oleh beragam sektor usaha, mulai dari perdagangan, industri, jasa, kuliner, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah.

Dengan pemetaan anggota dan bidang usaha secara lebih sistematis, ISMI diharapkan dapat menjadi penghubung antara pelaku usaha, mempertemukan kebutuhan dan kapasitas bisnis, serta mendorong terbentuknya kemitraan yang saling menguntungkan.

Dalam kerangka ini, platform digital bukan sekadar perangkat teknologi, melainkan instrumen untuk membangun ekosistem ekonomi yang lebih terhubung.

Selain digitalisasi dan perluasan jaringan bisnis, ada satu gagasan lain yang ingin dikembangkan Mangesti dalam tubuh ISMI Jawa Timur, yakni membangun budaya organisasi yang egaliter dan terbuka.

Ia menginginkan hubungan antarpengurus maupun antaranggota berlangsung lebih cair, tanpa sekat hierarki yang berlebihan. Untuk mendukung suasana tersebut, diperkenalkan pula sapaan khusus “CAK-NING” sebagai identitas interaksi kekeluargaan di lingkungan ISMI Jatim.

Sapaan ini diharapkan dapat menciptakan kedekatan, mengurangi rasa sungkan, serta mempermudah komunikasi dan kolaborasi antar anggotanya.

Dalam pandangan tersebut, setiap anggota memiliki posisi yang setara sebagai bagian dari keluarga besar ISMI. Perbedaan jabatan struktural tidak seharusnya menjadi penghalang untuk berkomunikasi, bertukar gagasan, ataupun membangun kerja sama bisnis.

Budaya egaliter ini menjadi penting karena kolaborasi membutuhkan keterbukaan. Potensi anggota akan lebih mudah dipertemukan ketika setiap orang merasa memiliki ruang yang sama untuk berkontribusi.

Silaturahmi sebagai Ruang Menghidupkan Kolaborasi

Semangat membangun kebersamaan tersebut juga tercermin dalam kegiatan makan siang dan silaturahmi keluarga besar ISMI Jawa Timur yang berlangsung pada Selasa (3/11/2026) di outlet baru Kampoeng Steak, Jalan Raya Ponti Nomor 9, Sidoarjo.

Momen diskusi informal ISMI Jatim di Kampoeng Steak, Sidoarjo, Selasa (3/11/2026). (foto: Zubaid)

Kegiatan tersebut merupakan undangan Jonet, pemilik Kampoeng Steak, yang sekaligus menjadi kesempatan bagi keluarga besar ISMI untuk mencicipi menu di outlet barunya.

Lebih dari sekadar pertemuan informal, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana jaringan persaudaraan dan dukungan terhadap usaha sesama anggota dapat menjadi bagian dari praktik kolaborasi ekonomi di lingkungan organisasi.

Dukungan terhadap usaha anggota merupakan salah satu bentuk konkret bagaimana jejaring organisasi dapat memberikan manfaat langsung. Interaksi yang terbangun dalam suasana kekeluargaan juga membuka ruang bagi pertukaran informasi, gagasan, dan peluang kerja sama.

Dengan arah baru yang mulai diperkenalkan, ISMI Jawa Timur dihadapkan pada agenda penting: mengubah potensi besar yang tersebar di antara para anggotanya menjadi kekuatan ekonomi yang terorganisasi.

Digitalisasi, program kerja yang terukur, jejaring bisnis nasional dan internasional, serta budaya organisasi yang egaliter menjadi empat fondasi yang ingin diperkuat.

Karena itu, semangat “ISMI Bangkit dari Jawa Timur” bukan hanya tentang membesarkan organisasi secara struktural. Lebih dari itu, tantangannya adalah bagaimana menjadikan ISMI sebagai ruang bersama yang mampu menghubungkan kekuatan para saudagar Muslim, menciptakan peluang usaha, dan menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih luas.(*)

Kontributor: M. Syahril dan Zubaid H.

Editor: Abdel Rafi dan Umar Faruq