
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Perkembangan teknologi digital tidak hanya mengubah cara kampanye politik, tetapi juga menggeser posisi pemilih dalam kontestasi elektoral. Pemilih kini tidak lagi sekadar menjadi objek, melainkan aktor aktif yang mampu memengaruhi pilihan orang lain.
Gagasan itu disampaikan Guru Besar Bidang Ilmu Perilaku Memilih, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (FISIP UNAIR), Prof. Dr. Drs. Muhammad Asfar, M.Si., dalam pidato pengukuhannya, hari ini, Kamis (9/4/2026), di Aula Garuda Mukti, Gedung Kantor Manajemen UNAIR, Kampus MERR-C, Surabaya.
Dalam pidato ilmiahnya, Asfar memperkenalkan konsep voters engineering atau rekayasa pemilih, sebuah pendekatan yang menempatkan pemilih sebagai pusat sekaligus penggerak dalam proses politik.
Ia mengawali paparannya dengan analogi seorang dokter yang mendiagnosis pasien sekaligus merancang prognosis. Menurut dia, pendekatan serupa dapat digunakan dalam politik untuk membaca peluang kemenangan kandidat, bahkan sebelum hari pemungutan suara.
Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang politik, Asfar menilai pendekatan konvensional tidak lagi memadai untuk menjelaskan dinamika politik di era digital.
Selama ini, kajian politik elektoral bertumpu pada tiga bidang utama, yakni perilaku memilih, komunikasi politik, dan pemasaran politik. Namun, ketiganya kerap berjalan terpisah sehingga belum mampu menjawab kompleksitas perubahan perilaku pemilih saat ini.
Melalui voters engineering, ketiga pendekatan tersebut dipadukan dalam satu kerangka analitis. Pendekatan ini tidak hanya menjelaskan mengapa dan bagaimana pemilih berubah, tetapi juga bagaimana perubahan tersebut dapat dirancang, dipercepat, dan direproduksi.
Perbedaan mendasar dengan pendekatan lama terletak pada posisi pemilih. Jika sebelumnya pemilih dipandang sebagai objek pasif, kini pemilih diposisikan sebagai subjek aktif yang memiliki peran strategis dalam membentuk opini publik.
“Pemilih menjadi aktor yang menyebarkan pesan, memperkuat narasi, menularkan keyakinan, dan pada titik tertentu menjadi mesin pengaruh bagi pemilih lain,” ujar Asfar.
Konsep ini juga menyoroti perilaku sukarela pemilih, mulai dari memilih, membela, hingga mempromosikan kandidat, bahkan tanpa dorongan langsung dari tim kampanye.
Dalam penerapannya, Asfar memperkenalkan konsep political marketplace platform, yakni platform yang memungkinkan kandidat memetakan pemilih berdasarkan kategori seperti pemilih kuat (strong voters), pemilih mengambang (swing voters), hingga afiliasi politik di suatu wilayah.
Pemetaan tersebut dinilai dapat membuat strategi kampanye menjadi lebih terarah dan efektif.
Meski demikian, Asfar mengingatkan bahwa digitalisasi politik juga membawa tantangan serius, termasuk potensi penyebaran propaganda dan informasi keliru yang dipicu oleh sistem algoritma.
“Yang dipertaruhkan bukan hanya pilihan elektoral, melainkan juga nalar dan kualitas publik. Kemampuan warga membedakan antara fakta dan rekayasa, antara argumen dan manipulasi,” kata dia.(*)
Kontributor: Abdel Rafi
Editor: Umar Faruq



