Pidato Fiskal Prabowo, Viva Yoga Mauladi: Harapan Baru Transmigrasi Nelayan!

Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi. (foto: Ardi W)

JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi, menilai pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal 2027 menjadi penegasan arah pembangunan yang berpihak pada kesejahteraan rakyat, terutama masyarakat pesisir dan kawasan transmigrasi.

Pidato itu disampaikan Presiden dalam rapat paripurna di Gedung Nusantara, Kompleks MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Menurut Viva Yoga, gagasan yang disampaikan Presiden tidak boleh berhenti sebagai narasi kebijakan, melainkan harus diwujudkan melalui program nyata di lapangan.

“Presiden berkomitmen mewujudkan cita-cita bangsa, yakni masyarakat yang berdaulat, adil, dan makmur. Karena itu pembangunan harus benar-benar dirasakan rakyat,” kata Viva Yoga.

Ia menilai penekanan Presiden terhadap Pasal 33 UUD 1945 menunjukkan pemerintah ingin menjadikan ekonomi nasional sebagai instrumen pemerataan kesejahteraan. Salah satu sektor yang mendapat perhatian ialah kehidupan nelayan.

Dalam pidatonya, Presiden menyinggung pentingnya meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui dukungan sarana melaut yang memadai. Pemerintah juga berencana membangun 5.000 desa nelayan di berbagai wilayah Indonesia.

Bagi Viva Yoga, arah kebijakan tersebut sejalan dengan program yang sedang dijalankan Kementerian Transmigrasi. Ia menyebut kawasan transmigrasi seperti Barelang di Kepulauan Riau dan Pasangkayu di Sulawesi Barat mulai diarahkan menjadi pusat pemberdayaan nelayan transmigran.

“Kami ingin transmigran di kawasan pesisir berkembang menjadi nelayan yang tangguh dan mandiri,” ujarnya.

Di kawasan transmigrasi Barelang, kata dia, kementerian telah memberikan pelatihan kepada 50 peserta transmigrasi lokal yang berasal dari Batam, Rempang, dan Galang. Selain pelatihan, pemerintah juga menyalurkan 16 kapal berukuran 5 GT kepada 16 kelompok usaha bersama (KUB).

Menurut Viva Yoga, bantuan tersebut diharapkan mampu meningkatkan hasil tangkapan sekaligus memperbaiki taraf hidup masyarakat nelayan.

Ia juga mendorong kawasan Barelang tidak hanya berkembang sebagai kampung nelayan tradisional, tetapi menjadi sentra ekonomi perikanan modern. Viva Yoga bahkan membandingkannya dengan pasar ikan terkenal di Asia seperti Jagalchi di Busan, Noryangjin di Seoul, dan Toyosu di Jepang.

Menurut dia, pengembangan kawasan terpadu akan menjawab persoalan klasik yang selama ini dihadapi nelayan, mulai dari keterbatasan pasokan es hingga minimnya fasilitas penyimpanan dingin (cold storage).

“Kalau ekosistem perikanannya dibangun secara menyeluruh, hasil tangkapan nelayan bisa memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi,” katanya.

Selain sektor perikanan, Viva Yoga menyinggung keberhasilan kawasan transmigrasi berbasis perkebunan sawit di Kuamang Kuning, Kabupaten Bungo, Jambi. Di kawasan itu, warga transmigrasi disebut mampu membangun kemandirian ekonomi melalui perkebunan kelapa sawit.

Ia mencontohkan Desa Karya Harapan Mukti yang dihuni sekitar 1.000 kepala keluarga, mayoritas bekerja sebagai petani sawit. Dari lahan seluas dua hektar, pendapatan warga disebut dapat mencapai sekitar Rp 15 juta setiap panen.

Menurut Viva Yoga, kondisi tersebut menunjukkan transmigrasi bukan lagi sekadar program perpindahan penduduk, melainkan instrumen pembangunan ekonomi yang mampu menciptakan pusat-pusat kesejahteraan baru di daerah.

“Transmigrasi bukan hanya memindahkan orang, tetapi membuka jalan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Viva Yoga.(*)

Kontributor: Ardi W

Editor: Abdel Rafi