Monday, April 13, 2026
spot_img
HomePolitikaMenjaga “Ruh” NU di Era Digital, PWNU Jatim Dorong Aswaja Center Jadi...

Menjaga “Ruh” NU di Era Digital, PWNU Jatim Dorong Aswaja Center Jadi Lembaga atau Badan Khusus

Suasana pembahasan di Muskerwil PWNU Jatim yang berlangsung selama dua hari di Tuban, Sabtu-Minggu (11-12/4/2026). (foto: PWNU Jatim untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Di tengah derasnya arus informasi digital yang kian tak terbendung, kegelisahan itu muncul dari tubuh Nahdlatul Ulama (NU) sendiri. Bukan soal politik, melainkan tentang “ruh” organisasi yaitu paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang dikhawatirkan kian menjauh dari generasi mudanya.

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengusulkan langkah strategis yakni melembagakan Aswaja Center sebagai badan khusus dalam struktur resmi NU. Usulan ini akan dibawa ke Konferensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Nasional (Munas) menjelang Muktamar Ke-35 NU pada Agustus 2026.

“Pelembagaan Aswaja Center sudah disepakati dalam sidang pleno Muskerwil PWNU Jatim di Tuban, 11–12 April 2026,” ujar MZ Muhaimin, delegasi Aswaja Center, di Surabaya, Senin (13/4/2026).

Musyawarah kerja wilayah tersebut dibuka oleh Rais Syuriah PBNU Prof. Mohammad Nuh dan ditutup Rais Aam PBNU KH Miftakhul Achyar. Dalam forum itu, gagasan penguatan Aswaja tidak hanya mengemuka sebagai program, tetapi juga sebagai kebutuhan mendesak organisasi.

Menurut Muhaimin, langkah berikutnya adalah memastikan Aswaja Center memiliki legitimasi formal dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU atau melalui Peraturan Perkumpulan (Perkum) PBNU.

“Perlu ada pasal khusus yang mengatur Aswaja Center sebagai lembaga atau badan khusus. Ini harus dikawal saat Konbes dan Munas,” katanya.

Gagasan ini bukan tanpa pijakan. Dalam sidang komisi program, Muhaimin bahkan memutar rekaman pleno Muktamar ke-34 NU di Lampung yang telah menerima aspirasi serupa. Saat itu, forum muktamar menyepakati agar pembahasan dilanjutkan di tingkat Konbes.

Di Jawa Timur, embrio Aswaja Center sebenarnya telah tumbuh sejak 2011. Lembaga ini hadir di banyak cabang (PCNU), bahkan hingga tingkat kecamatan (MWCNU). Di luar Jawa Timur, inisiatif serupa juga mulai berkembang, seperti di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Namun, bagi PWNU Jatim, persoalannya kini bukan lagi sekadar keberadaan, melainkan penguatan fungsi di tengah perubahan zaman.

Wakil Sekretaris PWNU Jatim, Dr. KH. Wafiul Ahdi, menilai era digital telah menghadirkan tantangan baru berupa “perang ideologi” yang semakin terbuka. “Survei menunjukkan banyak generasi Z di lingkungan NU belum memahami Aswaja An-Nahdliyah secara mendalam. Ini mengkhawatirkan,” ujarnya.

Ia menekankan, pelembagaan Aswaja Center penting untuk memperkuat fungsi kaderisasi, literasi, hingga advokasi pemahaman keislaman khas NU. “Aswaja adalah ruh NU. Jika generasi mudanya tidak lagi memahami, maka yang terancam bukan hanya organisasi, tetapi juga kesinambungan tradisi keilmuan itu sendiri,” kata Wafiul.

Dalam tradisi NU, Aswaja An-Nahdliyah berakar pada ajaran teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah, mengikuti empat mazhab fikih (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali), serta bertumpu pada tradisi tasawuf Imam Al-Ghazali dan Imam Junaid Al-Baghdadi.

Selain isu Aswaja Center, Muskerwil PWNU Jatim juga merumuskan sejumlah rekomendasi strategis lain. Di antaranya penguatan tiga pilar pemberdayaan ekonomi mulai dari UMKM, hilirisasi pertanian dan perhutanan sosial, serta filantropi berbasis zakat, infak, dan sedekah, hingga pengembangan layanan kesehatan berbasis jamaah melalui rumah sakit dan klinik NU.

Namun, di antara berbagai agenda itu, satu pesan tampak menonjol bahwa menjaga Aswaja bukan sekadar mempertahankan identitas, melainkan memastikan arah NU tetap tegak di tengah perubahan zaman yang kian cepat.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular