Monday, April 13, 2026
spot_img
HomeSosokRaih Gelar Doktor dari UNAIR, Tom Liwafa Ingin Ubah Riset Jadi Gerakan...

Raih Gelar Doktor dari UNAIR, Tom Liwafa Ingin Ubah Riset Jadi Gerakan Publik

Anggota DPR RI, Tom Liwafa menyalami Rektor UNAIR Mohammad Madyan dalam momen wisuda dirinya di Airlangga Convention Center, Kampus C-MERR, Surabaya, Sabtu (11/4/2026). (foto: UNAIR untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Di tengah padatnya ritme kerja parlemen, Arizal Tom Liwafa menuntaskan satu fase penting dalam hidupnya yakni meraih gelar doktor di bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) dari Universitas Airlangga (UNAIR). Namun, bagi anggota DPR RI yang akrab disapa Tom Liwafa itu, capaian akademik ini bukanlah garis akhir, melainkan titik tolak untuk memperluas dampak.

Alih-alih berhenti pada seremoni akademik, Tom -sapaan akrabnya- memilih menempatkan gelar doktor sebagai instrumen untuk memperkuat kualitas pengambilan kebijakan. Ia menilai, pengalaman intelektual di bangku pascasarjana telah mengasah ketajaman berpikir sekaligus memperkaya perspektif dalam merumuskan gagasan di ruang publik.

“Kuliah ini mengajarkan kita menjadi lebih bijaksana, terutama dalam menyusun argumentasi dan kebijakan,” ujarnya saat ditemui seusai wisuda ke-261 UNAIR pada Sabtu (11/4/2026).

Langkah melanjutkan studi ke jenjang doktoral, diakuinya, bukan tanpa pertimbangan. Di tengah tuntutan politik yang dinamis, ia melihat kebutuhan akan landasan akademik yang kokoh sebagai hal mendesak. Pilihannya jatuh pada UNAIR, yang dinilainya memiliki tradisi akademik kuat serta jejaring luas lintas sektor.

Menurut dia, lingkungan kampus memberikan ruang dialektika yang berbeda dari arena politik. Di sanalah, gagasan diuji secara ilmiah, bukan sekadar retorika. Pengalaman itu pula yang kemudian ia bawa kembali ke Senayan, menjadi bekal dalam menyusun kebijakan yang lebih terukur dan berbasis riset.

Tak berhenti di situ, Tom juga menyiapkan langkah lanjutan. Disertasinya yang mengangkat konsep Innovation Aesthetic for Sustainability Competence Advantage akan diolah menjadi buku populer agar dapat diakses publik lebih luas.

Baginya, riset tidak boleh berhenti sebagai dokumen akademik yang tersimpan di rak perpustakaan. Ia ingin hasil kajiannya menjangkau masyarakat, menjadi referensi praktis, sekaligus mendorong literasi inovasi di berbagai sektor.

“Ilmu itu harus punya dampak. Kalau hanya berhenti di kampus, kita kehilangan makna dari proses panjang itu,” katanya.

Ia pun mendorong generasi muda untuk tidak mengabaikan pendidikan akademik, termasuk bagi mereka yang bercita-cita terjun ke dunia politik. Menurut dia, kompetisi masa depan menuntut lebih dari sekadar popularitas, tetapi ia membutuhkan kapasitas intelektual yang teruji.

Dalam lanskap politik yang kian kompleks, langkah Tom Liwafa menghadirkan pesan lain yaitu politik dan akademik bukan dua dunia yang saling menjauh, melainkan dapat saling menguatkan. Dan dari ruang kuliah, sebuah gagasan bisa tumbuh lalu menjelma kebijakan yang menyentuh kehidupan banyak orang. Semoga. (*)

Kontributor: Khefti

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular