Jelang Muktamar NU 2026, Nama Asrorun Ni’am Menguat! Cak Dar: NU Butuh Nakhoda Muda yang Paham Kitab dan Zaman

Prof. Dr. KH. M. Asrorun Ni’am Sholeh, Katib Syuriyah PBNU 2021-2026.

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang rencananya akan digelar pada 1-5 Agustus 2026 mendatang, dinamika bursa calon Ketua Umum PBNU mulai menghangat. Salah satu nama yang kian menguat adalah Prof. Dr. KH. M. Asrorun Ni’am Sholeh, yang dinilai merepresentasikan figur muda, intelektual, sekaligus visioner.

Tokoh senior NU Jawa Timur, Sudarsono Rahman –yang akrab disapa Cak Dar- menilai kemunculan nama Asrorun Ni’am bukan tanpa alasan. Menurut dia, warga NU saat ini membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya menguasai khazanah keilmuan klasik, tetapi juga mampu menjawab tantangan zaman.

“NU butuh nakhoda yang paham kitab kuning sekaligus paham tantangan zaman. Gus Ni’am punya dua-duanya,” ujar Cak Dar, Selasa (5/5/2026).

Asrorun Ni’am dikenal memiliki latar belakang pesantren yang kuat, sekaligus rekam jejak akademik mumpuni sebagai Guru Besar Ilmu Fikih di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di internal NU, ia pernah menjabat Katib Syuriah PBNU selama dua periode dan kini dipercaya sebagai Pelaksana Tugas Rais Syuriah PCNU Jakarta Pusat.

Penugasan di ibu kota itu dinilai sebagai bentuk kepercayaan organisasi atas kapasitasnya dalam mengonsolidasikan ulama dan warga NU di wilayah strategis.

Di luar struktur NU, Asrorun Ni’am juga memiliki pengalaman birokrasi. Ia pernah menjabat Deputi Bidang Kepemudaan di Kementerian Pemuda dan Olahraga, serta Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Dalam kapasitas tersebut, ia dikenal sebagai salah satu perancang kebijakan perlindungan anak dan penguatan keluarga berbasis nilai keagamaan.

Pria yang juga merupakan Waketum DPP Barikade Gus Dur itu menilai, kombinasi pengalaman pesantren, akademik, dan birokrasi menjadikan Asrorun Ni’am sebagai sosok “lengkap” untuk memimpin organisasi sebesar NU di tengah perubahan global yang cepat.

“Beliau itu ‘NU banget’, tapi juga nyambung dengan anak muda. Bisa bicara ushul fiqh di pesantren, sekaligus memahami isu seperti artificial intelligence atau akal imitasi (AI, red.) di forum internasional,” kata Ketua PW IPNU Jatim periode 1988-1992 itu.

Seiring menguatnya dukungan dari kalangan pengurus wilayah, cabang, akademisi, hingga generasi muda NU, sejumlah gagasan yang diusung Asrorun Ni’am mulai mendapat perhatian. Di antaranya transformasi digital organisasi, penguatan peran pesantren dan keluarga, serta peningkatan kiprah NU di level global.

Meski demikian, Asrorun Ni’am disebut tidak ingin tergesa-gesa merespons dinamika pencalonan. Ia menekankan pentingnya proses spiritual dan kolektif dalam setiap langkah.

“Ketua Umum PBNU itu bukan soal popularitas, tetapi soal khidmat. Prinsipnya istikharah, musyawarah, baru harakah,” ujar Cak Dar menirukan pandangan Asrorun Ni’am.

Dengan waktu muktamar yang semakin dekat, peta dukungan diperkirakan akan terus bergerak. Nama Asrorun Ni’am kini menjadi salah satu yang paling diperbincangkan, di tengah harapan munculnya pemimpin muda yang mampu menjaga tradisi sekaligus membawa NU menatap masa depan.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi