
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Upaya memperkuat kualitas pendidikan vokasi di sektor energi baru terbarukan terus didorong. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) menjadi tuan rumah pelatihan bagi para dosen politeknik dari berbagai daerah, dalam program Training of Trainers (ToT) Teaching Methodology and Gender.
Kegiatan yang berlangsung sejak Senin (4/5/2026) dan akan berakhir pada Jumat (8/5/2026) ini, merupakan bagian dari program Renewable Energy Skill Development (RESD), hasil kerja sama Pemerintah Swiss dan Indonesia. Tidak sekadar peningkatan keterampilan teknis, program ini juga menekankan pentingnya pendekatan pedagogi yang inklusif dan responsif terhadap isu gender.
Sebanyak 20 dosen dari 10 politeknik penerima hibah ambil bagian dalam pelatihan yang berlangsung selama lima hari tersebut. Mereka dibekali pemahaman tentang prinsip pembelajaran orang dewasa (andragogi), sekaligus keterampilan merancang metode ajar yang partisipatif dan kontekstual dengan kebutuhan industri.
Direktur PENS Arif Irwansyah dalam keterangan yang diterima redaksi media ini, Selasa (5/5/2026) menegaskan bahwa penguatan kapasitas dosen merupakan kunci dalam membangun pendidikan vokasi yang relevan.
“Transformasi energi membutuhkan SDM yang tidak hanya terampil, tetapi juga adaptif terhadap perubahan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Team Leader RESD Dian Elvira Rosa. Ia menekankan bahwa pengembangan teknologi energi terbarukan harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pengajar.
“Tanpa pengajar yang kompeten dan inklusif, transfer pengetahuan tidak akan optimal,” katanya.
Sementara itu, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Beny Bandanadjaja, menyoroti peran strategis politeknik dalam menyiapkan tenaga kerja terampil yang mampu menjawab tantangan global. Ia menekankan pentingnya pembelajaran yang tidak hanya berbasis kompetensi, tetapi juga berkeadilan.
Dalam pelatihan ini, peserta juga mendapat pendampingan dari pakar pendidikan vokasi internasional, Sophie Murat dan Daniel Pellaux dari Swiss Federal Institute for Vocational Education and Training (EHB). Keduanya berbagi praktik terbaik dalam pengembangan pembelajaran berbasis kompetensi yang telah diterapkan di berbagai negara.
Selain pelatihan, program RESD juga mencakup dukungan infrastruktur berupa hibah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bagi sejumlah politeknik.
Program ini telah memasuki tahap kedua pada 2026, menandai keberlanjutan kerja sama kedua negara dalam mendorong transisi energi.
Melalui kombinasi penguatan fasilitas dan peningkatan kapasitas pengajar, diharapkan pendidikan vokasi di Indonesia mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga peka terhadap dinamika sosial, termasuk kesetaraan gender.
Sebagai tuan rumah, PENS menempatkan diri tidak sekadar sebagai penyelenggara, melainkan juga sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran yang terus berbenah. Dari Surabaya, upaya menyiapkan pengajar vokasi yang adaptif dan inklusif itu kini mulai digerakkan untuk menyambut tantangan besar transisi energi di masa depan.(*)
Kontributor: Firman
Editor: Abdel Rafi








