Al-Akbar Surabaya Jadi Magnet Wisata Religi Terbaik 2026, Tak Sekadar Ibadah tapi Ruang Hidup Warga Kota

Momen pengumuman resmi oleh panitia ajang “Surabaya Tourism Award 2026” yang diselenggarakan Pemkot Surabaya, Minggu (3/5/2026). (foto: BPP MAS untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya kembali menegaskan posisinya bukan sekadar rumah ibadah. Ikon kota ini dinobatkan sebagai “objek wisata religi dan budaya terbaik” dalam ajang Surabaya Tourism Award 2026 yang diumumkan Pemerintah Kota Surabaya, Minggu (3/5/2026).

Penghargaan tersebut menempatkan Al-Akbar di puncak kategori Culture and Religion Based Tourism, mengungguli Gereja Kepanjen Surabaya di posisi kedua dan Kelenteng Sanggar Agung di posisi ketiga.

Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Al-Akbar, Dr. KH. M. Sudjak, menegaskan bahwa penghargaan bukanlah tujuan utama. “Anugerah ini adalah apresiasi. Tujuan kami tetap satu: melayani masyarakat,” ujarnya di Surabaya, Selasa (5/5/2026).

Ajang STA 2026 sendiri merupakan kolaborasi Pemerintah Kota Surabaya bersama media dan perguruan tinggi untuk mengapresiasi 15 hotel dan 15 objek wisata terbaik dalam lima kategori utama, mulai dari wisata kampung hingga wisata belanja dan rekreasi.

Namun, capaian Al-Akbar dinilai menarik karena menunjukkan pergeseran wajah wisata religi di kota besar. Masjid ini tidak hanya menjadi destinasi ibadah, tetapi juga ruang sosial yang hidup dan inklusif.

Pengelola menyebutkan, penguatan dilakukan di tiga lini utama: pelayanan manajemen (idaroh), pemakmuran masjid (imarah), dan pemeliharaan fasilitas (riayah). Di dalam kompleks masjid, pengunjung menemukan standar kebersihan dan kenyamanan yang terjaga, mulai dari ruang shalat hingga fasilitas wudhu dan sanitasi.

Di luar bangunan utama, kawasan masjid dikembangkan menjadi ruang publik yang ramah keluarga dan anak muda. Taman-taman tertata, menara setinggi 99 meter menjadi daya tarik visual, serta fasilitas olahraga seperti lapangan mini turut melengkapi fungsi masjid sebagai pusat aktivitas warga.

Tak berhenti pada fungsi spiritual dan rekreasi, Al-Akbar juga mengembangkan sektor pendidikan dan ekonomi jamaah. Berbagai lembaga pendidikan formal dan nonformal berjalan berdampingan dengan program pemberdayaan sosial dan ekonomi.

“Masjid tidak hanya dimakmurkan jamaah, tetapi juga harus memakmurkan jamaah,” kata Sudjak didampingi Sekretaris BPP MAS, H. Helmy M Noor.

Pendekatan ini menjadikan Al-Akbar sebagai contoh integrasi antara fungsi ibadah, edukasi, dan pariwisata yang berkelanjutan. Di tengah tren urban tourism, model tersebut dinilai menjadi kunci mengapa masjid terbesar di Jawa Timur itu mampu menarik perhatian publik sekaligus meraih pengakuan resmi.

Bagi Surabaya, capaian ini bukan sekadar prestasi, melainkan sinyal bahwa wisata religi dapat berkembang sebagai wajah baru pariwisata kota yang lebih inklusif, edukatif, dan menyentuh kehidupan sehari-hari warga.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi