Ketika Touring Menjadi Ibadah, PUNGRIDE Ansor Madiun Tarik Perhatian Generasi Muda

Pengurus, kader dan simpatisan PC GP Ansor-Banser Kabupaten Madiun berdoa sebelum memulai PUNGRIDE, Minggu (3/5/2026). (foto: Mukani)

MADIUN, CAKRAWARTA.com – Minggu (3/5/2026) pagi, deru ratusan sepeda motor mengalun di jalur selatan Kabupaten Madiun. Sekilas, iring-iringan tersebut tampak seperti konvoi komunitas otomotif pada umumnya. Namun, bagi para peserta, perjalanan itu adalah bentuk lain dari ibadah, ziarah yang dikemas dalam bahasa anak muda.

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Madiun menggelar kegiatan bertajuk “PUNGRIDE” dalam rangka menyambut hari lahir (Harlah) ke-92. Ratusan kader Ansor dan Banser dari berbagai kecamatan ambil bagian, menjadikan jalanan bukan sekadar lintasan, melainkan ruang refleksi spiritual.

Rute perjalanan dimulai dari Banjarsari, melintasi Sewulan, Wungu, hingga kawasan perbukitan Kare, dan berakhir di Desa Ampel, Kecamatan Mejayan. Di sepanjang jalur itu, peserta diajak menapaki jejak kewalian yaitu menghidupkan kembali ingatan tentang perjuangan dakwah para ulama yang pernah mengakar di wilayah tersebut.

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Madiun, Ali Makhrus, mengatakan bahwa PUNGRIDE dirancang sebagai pendekatan baru untuk menjangkau generasi muda tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan.

Pilgrimage adalah ziarah napak tilas perjuangan ulama. Fun menghadirkan kegembiraan, gathering mempererat silaturahmi, dan ride menanamkan budaya tertib serta santun di jalan,” ujarnya.

Menurut Makhrus, pendekatan ini menjadi jembatan antara dunia anak muda dan tradisi spiritual. Hobi touring yang identik dengan kebebasan di jalan raya, diolah menjadi medium pembelajaran nilai dan penguatan karakter.

“Kami ingin menunjukkan bahwa hobi tidak harus jauh dari nilai ibadah. Di sini, anak muda bisa menikmati perjalanan sekaligus mendekatkan diri pada tradisi dan spiritualitas,” katanya.

Daya tarik kegiatan ini, kata dia, terletak pada kemampuannya menggabungkan ekspresi kekinian dengan akar budaya keislaman yang kuat. Ansor, menurutnya, perlu hadir sebagai ruang yang relevan bagi generasi muda sehingga tidak hanya normatif, tetapi juga adaptif.

Koordinator panitia lokal, Mohammad Fahmi Hakim Aunillah, menyebut suasana perjalanan terasa berbeda karena nuansa spiritual tetap terjaga di tengah dinamika touring.

“Di sela deru mesin, kami tetap melantunkan doa dan shalawat. Setiap titik yang kami lalui menjadi pengingat akan kecintaan kepada ulama,” ujarnya.

Ia menambahkan, kebersamaan dalam satu barisan juga mencerminkan soliditas Ansor-Banser di Kabupaten Madiun dalam menjaga tradisi dan nilai keagamaan di tengah perubahan zaman.

Puncak kegiatan berlangsung khidmat saat seluruh peserta melantunkan shalawat Nabi. Acara kemudian ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh Ali Makhrus, yang diserahkan kepada Ketua MWCNU Mejayan, Kiai Mangli Habibi.

Di tengah arus modernitas yang kerap menjauhkan generasi muda dari akar tradisinya, PUNGRIDE dari Ansor Madiun ini menjadi penanda bahwa jalan pulang itu tetap ada bahkan bisa ditempuh di atas roda, dengan mesin yang menderu dan doa yang tak pernah putus.(*)

Kontributor: Mukani

Editor: Abdel Rafi