
BATU, CAKRAWARTA.com – Pondok pesantren tidak lagi cukup hanya dikenal sebagai lembaga pendidikan keagamaan di tingkat lokal. Di tengah perkembangan teknologi digital dan semakin terbukanya komunikasi lintas negara, pesantren memiliki peluang besar untuk memperkenalkan tradisi keilmuan Islam Indonesia sekaligus mengambil bagian dalam percakapan peradaban dunia.
Namun, peluang tersebut membutuhkan kemampuan untuk membangun identitas, mengelola komunikasi, dan memperkuat citra lembaga melalui ruang digital.
Gagasan itulah yang menjadi perhatian Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (FISIP UNAIR) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Pengembangan Diplomasi Pesantren Digital untuk Mendorong Internasionalisasi Pesantren” di Pondok Pesantren Raudhatul Ummah, Kota Batu, Sabtu (31/10/2026).
Kegiatan yang melibatkan dosen FISIP UNAIR dan asisten peneliti Cakra Studi Global Strategi (CSGS) tersebut merupakan bagian dari skema Program Kemitraan Masyarakat Desa Binaan Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) UNAIR 2026.
Pembina Yayasan Pondok Pesantren Raudhatul Ummah, Hirshi Anadza, yang juga merupakan alumni program sarjana dan magister Hubungan Internasional FISIP UNAIR, menilai pesantren dan internasionalisasi selama ini kerap dipandang sebagai dua hal yang berjauhan.
“Pesantren dan internasionalisasi memang terkesan sebagai hal yang jauh,” ujarnya.
Namun, menurut Hirshi, pesantren memiliki tanggung jawab untuk ikut berkontribusi dalam membangun peradaban dunia. Karena itu, pesantren tidak seharusnya memisahkan diri dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Namun, pesantren patut berpartisipasi dalam membangun peradaban dunia sehingga tidak bisa memisahkan diri dari ilmu pengetahuan dan teknologi,” tegasnya.
Senada dengan itu, Wakil Dekan Bidang Sumber Daya FISIP UNAIR, A. Safril Mubah, menekankan bahwa kemampuan digital menjadi kebutuhan penting bagi pesantren untuk memperluas peran dan jangkauan internasionalnya.

“Agar pesantren dapat berperan dalam internasionalisasi di era kontemporer, pesantren perlu dibekali kemampuan digitalisasi sebagai sarana diplomasi pesantren,” ujar Safril saat membuka kegiatan.
Persoalan internasionalisasi pesantren dibahas lebih jauh dalam sesi seminar yang menghadirkan Sarah Anabarja, dosen Departemen Hubungan Internasional FISIP UNAIR.
Dalam paparannya, Sarah menjelaskan bahwa diplomasi pada era digital tidak lagi menjadi wilayah eksklusif pemerintah. Aktor non negara, termasuk lembaga pendidikan dan komunitas masyarakat, kini memiliki ruang untuk membangun komunikasi serta memperkenalkan identitasnya kepada masyarakat internasional.
Dalam konteks tersebut, pesantren dan para santri juga memiliki peluang menjadi representasi masyarakat Indonesia di tingkat global.
“Dalam hal ini pondok pesantren dan santri pun dapat menjadi citizen diplomat yang membawa citra pesantren dan santri ke ranah internasional,” jelasnya.
Pandangan tersebut menempatkan pesantren bukan sekadar sebagai institusi pendidikan keagamaan, melainkan juga sebagai aktor masyarakat yang memiliki potensi diplomasi melalui pertukaran pengetahuan, komunikasi lintas budaya, dan pengenalan tradisi Islam Indonesia.
Untuk mewujudkan peluang tersebut, pesantren perlu memiliki kemampuan menyampaikan identitas kelembagaan secara tepat, mengelola informasi, serta membangun komunikasi yang dapat dipahami calon mitra dari berbagai negara.
Canva dan Instagram Jadi Instrumen Branding Pesantren
Penguatan diplomasi digital kemudian diterjemahkan ke dalam keterampilan praktis melalui lokakarya branding digital yang dibawakan Fiona Xaveria Yuniardi, asisten peneliti CSGS.
Dalam sesi tersebut, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan Canva untuk mengembangkan desain visual serta Google Workspace untuk mendukung pengelolaan pesan dan identitas digital. Optimalisasi media sosial, khususnya Instagram, juga menjadi perhatian utama.
Fiona menjelaskan bahwa branding merupakan salah satu aspek penting yang sering kali belum mendapatkan perhatian memadai dalam pengelolaan komunikasi lembaga pendidikan.
“Branding kerap kali terlewatkan, padahal branding memiliki pengaruh kuat dalam membangun citra pondok pesantren kepada publik. Untuk itu, harus dimulai secara internal dengan membangun desain identitas pondok pesantren,” jelasnya.
Menurut Fiona, membangun citra digital tidak cukup hanya dengan mengunggah informasi secara rutin. Pesantren juga perlu memperhatikan konsistensi desain, kejelasan informasi, serta kesesuaian setiap konten dengan karakter dan identitas lembaga.
Melalui penguasaan keterampilan tersebut, pengelola pesantren diharapkan mampu membangun komunikasi digital yang lebih profesional, terarah, dan mudah dikenali publik.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi dan praktik. Salah seorang peserta, Arafi, aktif mengajukan pertanyaan mengenai pengembangan desain menggunakan Canva. Sementara itu, Ustaz Wandi Anwas menunjukkan ketertarikan terhadap penguatan branding pesantren melalui media sosial.
Pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan tersebut dinilai dapat menjadi bekal untuk mengembangkan komunikasi dan memperkuat citra Pondok Pesantren Raudhatul Ummah ke depan.
Internasionalisasi pesantren pada dasarnya tidak harus selalu diawali dengan kunjungan ke luar negeri atau kerja sama formal dengan lembaga pendidikan asing. Langkah awalnya dapat dimulai dari kemampuan pesantren memperkenalkan identitas, tradisi keilmuan, dan aktivitas pendidikannya melalui ruang digital.
Dengan strategi komunikasi yang tepat, situs web dan media sosial dapat menjadi jendela bagi masyarakat internasional untuk mengenal kehidupan pesantren Indonesia, termasuk nilai-nilai keislaman, pendidikan, dan tradisi toleransi yang dikembangkan di dalamnya.
Upaya tersebut sekaligus memiliki keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Melalui peningkatan kapasitas digital dan perluasan jejaring komunikasi lintas negara, pesantren diharapkan memiliki kesempatan lebih besar untuk berkontribusi dalam pengembangan pendidikan dan kemitraan global.
Diplomasi digital bukan sekadar persoalan bagaimana pesantren tampil di internet. Lebih dari itu, digitalisasi menjadi sarana untuk memperluas pengaruh, memperkenalkan khazanah keilmuan Islam Indonesia, dan membawa pesantren mengambil bagian dalam percakapan peradaban dunia tanpa harus kehilangan identitas serta jati dirinya.(*)
Kontributor: Banyu Bening W
Editor: Abdel Rafi








