
BANYUWANGI, CAKRAWARTA.com – Sains tidak seharusnya berhenti di laboratorium atau ruang kuliah. Ketika pengetahuan ilmiah bertemu dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat, sains dapat menjadi instrumen penting untuk menjaga kesehatan keluarga, meningkatkan kualitas gizi, sekaligus memperkuat kemandirian pangan. Semangat inilah yang dibawa Universitas Airlangga (UNAIR) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) kolaboratif di Komunitas Rumah Bambu, Kampung Barata, Banyuwangi, pada Jumat (16/10/2026).
Melalui pendekatan lintas disiplin, tim akademisi UNAIR menghubungkan pengetahuan fisika, kesehatan, farmasi, kedokteran, kesehatan masyarakat, kedokteran hewan, hingga ilmu perikanan dalam satu agenda pemberdayaan masyarakat. Program tersebut diarahkan untuk memperluas pemahaman warga mengenai pemeliharaan kesehatan, penggunaan obat tradisional secara aman, pencegahan penyakit yang bersumber dari hewan, serta pemanfaatan sumber daya perikanan lokal secara berkelanjutan.
Pendekatan ini menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai penerima informasi, melainkan sebagai bagian penting dari upaya membangun lingkungan yang lebih sehat dan mandiri. Pengetahuan ilmiah diperkenalkan melalui materi edukatif dan keterampilan praktis yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari.
Dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR, Prof. Dr. Suryani Dyah Astuti mengangkat keterkaitan prinsip-prinsip fisika dengan kesehatan masyarakat. Selain menjelaskan perspektif keilmuan tersebut, ia membagikan keterampilan pijat tradisional yang aman dan aplikatif untuk mendukung pemeliharaan kesehatan mandiri.
Materi tersebut memperlihatkan bagaimana pendekatan sains dapat diperkenalkan melalui persoalan yang dekat dengan pengalaman masyarakat. Namun, praktik kesehatan mandiri tetap perlu memperhatikan kondisi individu dan tidak menggantikan pemeriksaan maupun penanganan tenaga medis ketika keluhan membutuhkan pertolongan profesional.
Aspek kesehatan masyarakat juga mencakup pemahaman mengenai keamanan obat dan bahan tradisional. Mahardian Rahmadi, Ph.D., Apt., dari Fakultas Farmasi UNAIR, memberikan edukasi mengenai risiko pengelolaan jamu yang tidak tepat, terutama ketika produk tradisional dikonsumsi bersamaan atau dicampur dengan obat-obatan lain tanpa konsultasi tenaga kesehatan.
Penggunaan jamu yang telah menjadi bagian dari kebiasaan sebagian masyarakat memerlukan pemahaman yang memadai mengenai bahan, dosis, mutu, dan kemungkinan interaksinya dengan obat lain. Anggapan bahwa bahan alami selalu aman dapat menimbulkan risiko apabila penggunaannya tidak disertai informasi yang benar.
Karena itu, literasi kefarmasian menjadi salah satu unsur penting dalam pemberdayaan masyarakat. Warga diharapkan semakin cermat dalam memilih dan menggunakan produk tradisional, serta tidak mengabaikan petunjuk medis ketika menjalani pengobatan.
Edukasi tersebut sekaligus menegaskan bahwa kemandirian kesehatan bukan berarti mengandalkan pengobatan sendiri tanpa batas, melainkan kemampuan mengambil keputusan yang lebih tepat berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di luar aspek kesehatan, kegiatan Pengmas UNAIR turut menyoroti hubungan antara sumber daya lokal, pemenuhan gizi, dan ketahanan ekonomi keluarga.
Kusetiawan Tri Pursetyo, S.Pi., M.Vet., Ph.D., dan Prayogo, S.Pi., M.P., dari Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) UNAIR, memaparkan pemanfaatan serta optimalisasi potensi sumber daya perikanan daerah.
Potensi perikanan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan pangan, tetapi juga peluang untuk meningkatkan nilai guna hasil tangkapan atau produksi lokal. Pengelolaan yang berkelanjutan dapat membantu masyarakat mempertahankan sumber penghidupan sekaligus memperkuat akses keluarga terhadap pangan bergizi.
Dalam konteks tersebut, kedaulatan pangan di tingkat komunitas membutuhkan lebih dari sekadar ketersediaan bahan pangan. Masyarakat juga perlu memiliki pengetahuan dan kapasitas untuk mengelola sumber daya yang tersedia, menjaga keberlanjutannya, serta memanfaatkannya bagi kebutuhan keluarga dan perekonomian lokal.
Pendekatan ini menjadi relevan bagi upaya pemberdayaan masyarakat karena potensi daerah dapat memberikan manfaat lebih besar apabila didukung pengetahuan, keterampilan, dan pengelolaan yang tepat.
Dimensi kesehatan lainnya adalah kewaspadaan terhadap zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular antara hewan dan manusia. Persoalan ini penting diperhatikan di lingkungan masyarakat yang memiliki interaksi erat dengan ternak maupun hewan di sekitarnya.
Drh. Epy Muhammad Luqman, M.Si., PAVet., dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR, memberikan pemahaman mengenai kewaspadaan terhadap penyakit yang bersumber dari hewan. Edukasi tersebut memperluas perspektif kesehatan masyarakat dengan menekankan bahwa kondisi kesehatan manusia juga berkaitan dengan lingkungan dan kesehatan hewan.
Pencegahan penyakit zoonosis memerlukan pengetahuan mengenai risiko penularan, kebersihan lingkungan, penanganan hewan, serta langkah yang tepat ketika ditemukan gejala atau kondisi yang mencurigakan. Pemahaman tersebut dapat membantu masyarakat membangun kebiasaan yang lebih aman dalam berinteraksi dengan hewan.
Pendekatan ini sejalan dengan pentingnya keterhubungan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Dengan pemahaman yang memadai, masyarakat diharapkan mampu mengenali risiko lebih dini dan mencari bantuan profesional ketika diperlukan.
Kolaborasi Akademisi untuk Pemberdayaan Masyarakat
Kegiatan di Komunitas Rumah Bambu tersebut juga melibatkan akademisi dari berbagai fakultas di lingkungan UNAIR. Hadir Dr. Abdullah Machin, dr., Sp.N(K), dari Fakultas Kedokteran (FK); Dr. Muhammad Atoillah Isfandiari, dr., M.Kes., dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM); serta Dr. Andra Rizqiawan, drh., M.Si., dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH). Kegiatan ini juga dihadiri Dr. Ika Atma Kurniawanti dari Fakultas Vokasi (FV) UNAIR.
Keterlibatan para akademisi tersebut memperlihatkan upaya menghubungkan beragam keahlian untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih menyeluruh. Persoalan kesehatan, keamanan pengobatan, penyakit yang bersumber dari hewan, dan pemanfaatan pangan lokal tidak berdiri sendiri. Seluruhnya saling berkaitan dalam menentukan kualitas hidup masyarakat.
Melalui kegiatan ini, UNAIR berharap pengetahuan yang dibagikan dapat mendukung peningkatan kapasitas warga Komunitas Rumah Bambu, Kampung Barata, dalam menjaga kesehatan, mengelola potensi perikanan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko penyakit di lingkungan sekitar.(*)
Editor: Umar Faruq








