Anak Diare Jangan Dipuasakan, UNAIR Bekali Kader PKK Sidotopo Wetan Cegah Stunting

Tim Pengmas UNAIR dan ibu-ibu kader PKK berfoto bersama seusai acara pembekalan mengenai pentingnya penanganan diare pada anak di Kantor Kelurahan Sidotopo Wetan, Surabaya, Sabtu (31/10/2026). (foto: Laura N Y)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Ketika anak terserang diare, sebagian orang tua mungkin berpikir bahwa menghentikan sementara pemberian makanan dapat membantu mempercepat pemulihan. Padahal, anggapan tersebut justru bisa menjadi awal persoalan baru. Di tengah tubuh yang sedang melawan infeksi, anak membutuhkan asupan energi dan zat gizi yang cukup agar tidak kehilangan berat badan dan terhindar dari gangguan pertumbuhan.

Pesan itulah yang ingin disampaikan Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Airlangga (UNAIR) kepada para kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Kelurahan Sidotopo Wetan, Surabaya, pada Sabtu (31/10/2026) lalu.

Melalui pelatihan pencegahan dan tata laksana gizi anak saat diare, tim pengabdian UNAIR mengajak para kader memahami bahwa penanganan diare tidak cukup hanya dengan menghentikan gejala buang air besar. Pemenuhan kebutuhan gizi selama sakit hingga masa pemulihan juga menjadi bagian penting untuk mencegah penurunan status gizi yang dapat berujung pada stunting.

Salah satu pesan utama dalam kegiatan tersebut dirangkum dalam kalimat sederhana, tetapi penting: “Anak Diare, Tetap Makan!”

Dietisien Rumah Sakit Universitas Airlangga, Niko Rahardi, S.Gz., menjelaskan bahwa memuasakan anak ketika mengalami diare merupakan kekeliruan yang justru dapat memperburuk kondisi gizinya.

Menurut dia, tubuh anak yang sedang mengalami infeksi membutuhkan energi tambahan untuk melawan penyakit sekaligus mempertahankan fungsi tubuh.

“Saat diare, tubuh anak ibarat medan perang yang membutuhkan energi ekstra untuk melawan infeksi. Karena itu, ASI harus terus diberikan, penanganan oralit dan Zinc 10 hari wajib dijalankan, serta asupan protein hewani seperti telur dan ikan harus tetap masuk untuk mempercepat pemulihan sel usus,” terang Niko di hadapan peserta.

Dietisien Rumah Sakit Universitas Airlangga, Niko Rahardi saat menyampaikan materi tentang gizi pada kader PKK di Kantor Kelurahan Sidotopo Wetan, Surabaya, Sabtu (31/10/2026). (foto: Laura N Y)

Penjelasan tersebut menjadi pengingat bahwa diare bukan sekadar persoalan frekuensi buang air besar. Jika berlangsung berulang dan tidak ditangani dengan baik, diare dapat mengganggu penyerapan zat gizi, menyebabkan kehilangan cairan dan nutrisi, serta memperburuk kondisi pertumbuhan anak.

Karena itu, orang tua perlu memastikan anak tetap memperoleh asupan makanan sesuai kebutuhan dan kondisi toleransinya selama sakit. Pemberian ASI, oralit, dan zinc menjadi bagian dari penanganan yang perlu diperhatikan.

Edukasi tidak berhenti pada penanganan ketika anak masih mengalami diare. Niko juga memperkenalkan strategi pemulihan gizi setelah gejala penyakit mereda melalui pendekatan yang disebut “Aturan Emas +1 Porsi”.

Prinsipnya, setelah diare berhenti, anak perlu mendapatkan satu porsi makanan tambahan padat kalori dan protein setiap hari selama 14 hari atau dua pekan penuh.

Langkah tersebut ditujukan untuk membantu mengembalikan berat badan dan massa tubuh yang mungkin menurun selama anak mengalami sakit.

Pesan ini penting karena berakhirnya diare belum tentu berarti kondisi gizi anak telah sepenuhnya pulih. Anak tetap membutuhkan perhatian terhadap pola makan dan pemantauan pertumbuhan setelah melewati masa sakit.

Melalui pemahaman tersebut, kader PKK diharapkan dapat menjadi perpanjangan tangan edukasi kesehatan di lingkungan keluarga. Mereka tidak hanya membantu menyampaikan informasi, tetapi juga mendorong perubahan kebiasaan pemberian makan anak yang lebih tepat.

Kader PKK Jadi Penghubung Pengetahuan Kesehatan

Kegiatan yang berlangsung di Kelurahan Sidotopo Wetan itu dihadiri perwakilan kelurahan, Ibu Lurah, tim kelompok kerja (Pokja), serta ibu-ibu anggota TP PKK. Dari pihak UNAIR, tim pengabdian terdiri atas Anisa Lailatul Fitria selaku ketua tim, Laura Navika Yamani sebagai anggota dosen, serta tiga mahasiswa, yakni Aishka Vairana Putri Aditya, Indira Dwi Intan Putri, dan Fatimah Z.

Acara diawali dengan sambutan Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UNAIR, Anisa Lailatul Fitria, S.Gz., M.Sc. Selain merupakan dosen Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR, Anisa juga menjadi peneliti di Kelompok Studi Viral Diarrhea, Lembaga Penyakit Tropis (LPT) UNAIR.

Kegiatan kemudian dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua TP PKK Kelurahan Sidotopo Wetan, Ny. Latifah.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta tidak hanya mendengarkan paparan materi, tetapi juga memperoleh pengetahuan praktis yang dapat diterapkan ketika menghadapi persoalan kesehatan anak di lingkungan keluarga.

Salah seorang peserta, Bu Juleni dari Pokja 3 TP PKK Kelurahan Sidotopo Wetan, mengaku mendapatkan manfaat langsung dari kegiatan tersebut.

“Saya berharap kegiatan ini dapat terus dilakukan. Saya merasa kegiatan ini sangat penting, terutama untuk diterapkan di rumah dalam pemberian makan anak-anak saat diare,” ujar Bu Juleni.

Ia juga menilai kehadiran praktisi gizi secara langsung sangat dibutuhkan oleh para kader PKK. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai teori, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Apresiasi serupa disampaikan Ketua TP PKK Kelurahan Sidotopo Wetan, Sri Winarti, S.Sos., yang akrab disapa Ibu Wiwin. Ia menyambut baik kontribusi akademisi dan praktisi UNAIR dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk tim pengabdian Universitas Airlangga atas ilmu yang diberikan. Semoga kegiatan ini bisa terus berlanjut dan dimanfaatkan oleh kader-kader PKK di Kelurahan Sidotopo Wetan,” ungkapnya.

Ibu Wiwin berharap sinergi dan kerja sama antara TP PKK Kelurahan Sidotopo Wetan dan Universitas Airlangga dapat terus terjalin erat pada masa mendatang.

Cegah Stunting Dimulai dari Keluarga

Penguatan pengetahuan kader PKK mengenai penanganan diare dan pemenuhan gizi anak merupakan bagian dari upaya pencegahan masalah gizi sejak dini. Sebab, pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan makanan sehari-hari, tetapi juga bagaimana keluarga menjaga kondisi kesehatan anak ketika terserang penyakit.

Diare yang berulang dapat meningkatkan risiko gangguan gizi. Sebaliknya, penanganan yang tepat, pemberian makanan yang sesuai, serta pemantauan pertumbuhan secara berkala dapat membantu menjaga status gizi anak.

Ketua Tim Pengmas UNAIR, Anisa Lailatul Fitria, saat memberikan sambutan dalam program Pengmas bersama ibu-ibu kader PKK di Kantor Kelurahan Sidotopo Wetan, Surabaya, Sabtu (31/10/2026). (foto: Laura N Y)

Atas dasar itu, kegiatan pengabdian UNAIR tersebut juga mengintegrasikan edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), higiene, sanitasi, konsumsi gizi seimbang, serta pentingnya deteksi dini masalah gizi melalui pemantauan pertumbuhan anak.

Program ini sekaligus mendukung pencapaian sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Kontribusi terhadap SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) diwujudkan melalui promosi kesehatan, pencegahan diare, dan peningkatan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan melalui kolaborasi dengan puskesmas, pemerintah desa, serta kader kesehatan.

Sementara itu, SDG 2 (Tanpa Kelaparan) didukung melalui edukasi perbaikan gizi dan pencegahan malnutrisi. Adapun kontribusi terhadap SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) dilakukan dengan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya air bersih dan sanitasi untuk mencegah penularan penyakit diare.

Kegiatan ini didanai melalui Program Kemitraan Masyarakat Desa Binaan Universitas Airlangga Tahun 2026. Program tersebut menjadi bagian dari komitmen UNAIR dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat sekaligus meningkatkan derajat kesehatan secara berkelanjutan.

Karena itu, pesan “Anak Diare, Tetap Makan!” bukan sekadar slogan dalam sebuah pelatihan. Pesan tersebut mengingatkan bahwa upaya mencegah stunting juga dimulai dari keputusan-keputusan sederhana di rumah mulai dari tidak menghentikan asupan makanan anak ketika sakit, memastikan penanganan diare yang tepat, hingga memberikan perhatian pada pemulihan gizinya setelah sembuh.

Dari pengetahuan yang dibagikan tim Pengmas UNAIR kepada kader PKK, perubahan perilaku diharapkan dapat menjangkau lebih banyak keluarga. Hal tersebut menjadi penting karena, menjaga pertumbuhan anak bukan hanya pekerjaan tenaga kesehatan, melainkan tanggung jawab bersama yang dimulai dari lingkungan terdekat yaitu keluarga.(*)

Kontributor: Laura Navika Y

Editor: Abdel Rafi