
MOROWALI, CAKRAWARTA.com – Potensi rempah lokal yang selama ini belum sepenuhnya memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat desa mulai menemukan jalan baru. Melalui inovasi pengolahan pangan, warga Desa Bahoea Reko-Reko, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, memperkenalkan sejumlah produk unggulan berbahan rempah lokal yang kini mulai diarahkan untuk menembus pasar lebih luas.
Upaya tersebut mendapat dukungan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Kawasan Transmigrasi Bungku Universitas Airlangga (UNAIR) melalui kegiatan Community Product Trial yang digelar di Aula Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kabupaten Morowali, Jumat (30/10/2026).
Kegiatan ini mempertemukan kelompok masyarakat pengolah rempah dengan jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), instansi teknis, serta masyarakat umum. Bukan sekadar memperkenalkan produk, kegiatan tersebut menjadi ruang pengujian pasar sekaligus penjajakan dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis potensi lokal.
Tiga produk unggulan Kelompok Cahaya Rempah Morowali menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Ketiganya adalah Seraikita, minuman herbal instan berbahan serai yang praktis diseduh; Serulengku, serundeng berbahan lengkuas yang dikembangkan sebagai inovasi pangan pendamping lauk; serta rempah kering premium berupa produk simplisia rempah yang diproses secara higienis.
Kehadiran produk-produk tersebut memperlihatkan bagaimana komoditas yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dapat diolah menjadi produk bernilai tambah melalui kreativitas, pendampingan, dan penguatan kapasitas masyarakat.
Dalam wawancara seusai kegiatan, narasumber sekaligus anggota tim Raffi Ariansyah, didampingi Ketua Tim Ekspedisi Patriot Kawasan Transmigrasi Bungku, Siti Rahayu Nadhiroh, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendorong potensi ekonomi masyarakat desa agar tidak berhenti pada produksi bahan mentah.
Pendampingan yang dilakukan Tim Ekspedisi Patriot UNAIR dirancang secara bertahap dan terintegrasi. Prosesnya dimulai dari pemetaan potensi desa melalui diskusi kelompok terarah (focus group discussion/FGD), edukasi gizi masyarakat, hingga pelatihan standardisasi proses produksi yang higienis melalui penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB).
Pendampingan tersebut kemudian diperluas melalui fasilitasi promosi dan pengujian produk di tingkat kabupaten. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya dibekali kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga diperkenalkan pada aspek kualitas, legalitas, pengemasan, dan peluang pemasaran.
Jembatan Inovasi Warga dan Kebijakan Pemerintah
Salah satu aspek penting dari kegiatan Community Product Trial ini adalah keterlibatan lintas OPD Kabupaten Morowali. Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi produk UMKM Desa Bahoea Reko-Reko untuk memperoleh dukungan yang lebih konkret, terutama dalam pengurusan perizinan, sertifikasi halal, standardisasi kemasan, dan perluasan jaringan pemasaran.
Dalam sesi pengujian organoleptik atau penilaian produk berdasarkan karakteristik sensori, seperti rasa, aroma, dan penampilan, jajaran OPD yang hadir memberikan apresiasi terhadap upaya pendampingan yang dilakukan Tim Ekspedisi Patriot.
Keterlibatan pemerintah daerah juga membuka peluang penguatan koordinasi antar sektor. Dukungan sektor perizinan dan perdagangan diperlukan untuk membantu produk memenuhi persyaratan usaha dan standar pasar. Sementara itu, sektor pemberdayaan masyarakat dan transmigrasi memiliki peran strategis dalam memperkuat kapasitas kelompok pengolah serta memperluas jejaring ekonomi masyarakat desa.
Bappelitbangda Morowali juga menyambut positif pendekatan pendampingan berbasis riset dan edukasi yang dilakukan Tim Ekspedisi Patriot. Model tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu pendekatan pembangunan desa yang bertumpu pada kedaulatan pangan dan optimalisasi sumber daya lokal.
Lebih jauh, kolaborasi ini memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi kawasan transmigrasi membutuhkan keterhubungan antara masyarakat sebagai pelaku utama, perguruan tinggi sebagai pendamping berbasis keilmuan, dan pemerintah sebagai fasilitator kebijakan.
Dari Potensi Lokal Menuju Kemandirian Ekonomi Desa
Pengembangan produk rempah Bahoea Reko-Reko juga memiliki dimensi sosial yang lebih luas. Program ini diarahkan untuk mendukung pencapaian sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) Desa.
Pada aspek pengentasan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi (SDGs 1 dan 8), pengolahan rempah diharapkan mampu meningkatkan nilai jual komoditas lokal sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Dari sisi kesehatan dan kesejahteraan (SDGs 3), inovasi pangan berbahan rempah membuka peluang diversifikasi produk pangan dan herbal lokal. Sementara itu, aspek kesetaraan gender (SDGs 5) diwujudkan melalui pelibatan dan pemberdayaan masyarakat sebagai aktor utama dalam kegiatan ekonomi produktif.
Bagi Tim Ekspedisi Patriot UNAIR yang beranggotakan Dr. Siti Rahayu Nadhiroh, S.KM., M.Kes.; Faraiesa Nurahadiyatika, S.Gz.; Aghnia Ilmi Imani, S.Gz.; Apt. Abd. Rohman Addakhil, S.Farm.; Narendrani Sasmitaning Edhi, S.Farm dan Muchammad Raffi’ Ariansyah, S.IP., keberhasilan pengembangan potensi desa tidak semata-mata diukur dari lahirnya produk baru. Lebih penting dari itu adalah bagaimana inovasi tersebut dapat berlanjut menjadi aktivitas ekonomi yang berkelanjutan, memiliki legalitas, memenuhi standar kualitas, dan mampu menjangkau pasar.
Kegiatan di Bappelitbangda Morowali ini sekaligus menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat. Riset dan pendampingan tidak berhenti sebagai rekomendasi, tetapi diterjemahkan menjadi inovasi yang dapat diuji, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara langsung yang artinya memberikan dampak nyata di masyarakat.(*)
Kontributor: Abdel Rafi
Editor: Umar Faruq








