UNAIR dan HPI Perkuat Kapasitas Pemandu Wisata, Sejarah Surabaya Jadi Daya Tarik Wisatawan

Para dosen FIB UNAIR saat menggelar pelatihan penyusunan narasi sejarah bagi para pemandu wisata bekerjasama dengan HPI Surabaya di Surabaya, Sabtu (24/10/2026). (foto: dokumen Purnawan Basundoro)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Penguatan pengetahuan sejarah menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kualitas pariwisata Kota Surabaya. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) berkolaborasi dengan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Cabang Surabaya dan Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga serta Pariwisata (Disporapar) Kota Surabaya menggelar pelatihan penyusunan narasi sejarah bagi para pemandu wisata.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berlangsung pada Sabtu (24/10/2026), tersebut bertujuan memperkuat kapasitas para pemandu wisata dalam menyampaikan kisah sejarah Kota Surabaya secara akurat, akademis, sekaligus menarik bagi wisatawan.

Ketua pengabdian kepada masyarakat, Prof. Dr. Purnawan Basundoro, M.Hum., mengatakan, perguruan tinggi harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, termasuk melalui penguatan pengetahuan sejarah yang dapat mendukung pengembangan sektor pariwisata.

“Kegiatan ini merupakan upaya untuk menambah pengetahuan bagi para pemandu wisata agar narasi sejarah yang disampaikan kepada para wisatawan bersifat akademis namun disampaikan dengan menarik.”

Menurut Purnawan, kegiatan bertema Pelatihan Menyusun Narasi Sejarah untuk Pemandu Wisata di Kota Surabaya tersebut diharapkan turut mendorong peningkatan kunjungan wisatawan ke Kota Pahlawan.

Surabaya selama ini memiliki daya tarik sejarah yang kuat bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Karena itu, kemampuan pemandu wisata dalam mengemas cerita sejarah menjadi bagian penting dalam memberikan pengalaman wisata yang lebih bermakna.

Surabaya dikenal sebagai kota bersejarah dengan perjalanan panjang yang mencakup berbagai periode, mulai dari masa Hindu-Buddha, perkembangan Islam, kolonialisme Belanda dan pendudukan Jepang, hingga era kemerdekaan Indonesia. Berdasarkan penetapan hari jadinya, Kota Surabaya memperingati hari lahir setiap 31 Mei, dengan tanggal 31 Mei 1293 sebagai tanggal yang secara resmi digunakan.

Jejak sejarah tersebut tersebar di berbagai sudut kota, mulai dari kawasan Kota Lama Surabaya di wilayah Krembangan, Jalan Tunjungan, kawasan Ampel, Pecinan, hingga berbagai bangunan bersejarah, museum, dan situs cagar budaya.

Sejumlah kawasan tersebut telah berkembang menjadi destinasi wisata yang diandalkan untuk memperkenalkan identitas dan perjalanan sejarah Surabaya kepada masyarakat luas.

Namun, keberadaan bangunan bersejarah saja tidak cukup untuk menghadirkan pengalaman wisata yang berkesan. Dibutuhkan pemandu wisata yang mampu menjelaskan latar belakang, konteks, dan nilai penting setiap tempat dengan bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami.

Dalam konteks inilah peningkatan kapasitas pengetahuan sejarah bagi pramuwisata menjadi penting. Narasi yang disampaikan tidak hanya dituntut menarik dan atraktif, tetapi juga perlu memiliki landasan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kepala Bidang Pariwisata Disporapar Kota Surabaya, Farah Andita Ramdhani, S.Hum., menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai, kolaborasi antara UNAIR dan HPI Surabaya menjadi langkah penting untuk meningkatkan kepercayaan diri para pemandu wisata dalam menjelaskan sejarah kota.

“Kegiatan ini merupakan kegiatan pertama yang melibatkan Universitas Airlangga dengan HPI Surabaya. Ini merupakan kegiatan penting untuk membekali para pemandu wisata sehingga menjadi lebih percaya diri dalam menjelaskan sejarah Kota Surabaya.”

Farah juga menyampaikan terima kasih kepada Program Studi Ilmu Sejarah UNAIR yang telah mengundang Cak dan Ning Surabaya untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Sebagai duta wisata Kota Surabaya, Cak dan Ning dinilai perlu memiliki pemahaman yang baik mengenai sejarah kota. Pengetahuan tersebut menjadi bekal penting ketika mereka memperkenalkan berbagai destinasi dan identitas Surabaya kepada masyarakat maupun wisatawan.

Lima Dosen Paparkan Sejarah Kawasan Ikonik Surabaya

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 60 peserta dan melibatkan seluruh dosen Program Studi Ilmu Sejarah FIB UNAIR. Acara ini juga dihadiri Wakil Dekan I FIB UNAIR, Prof. Dr. Sarkawi B. Husain, M.Hum.

Dalam sambutannya, Sarkawi menekankan pentingnya keberlanjutan kerja sama antara Fakultas Ilmu Budaya UNAIR dan Disporapar Kota Surabaya. Menurut dia, kolaborasi tersebut merupakan bentuk kemitraan yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.

Materi pelatihan disampaikan oleh lima dosen Program Studi Ilmu Sejarah dengan fokus pada sejumlah kawasan yang memiliki nilai penting dalam perjalanan sejarah Surabaya.

Pada sesi pertama, Prof. Dr. Purnawan Basundoro, M.Hum., memaparkan perkembangan kawasan Eropa yang kini dikenal sebagai Kota Lama Surabaya. Materi berikutnya disampaikan Dr. Shinta Devi ISR, M.Hum., yang membahas perkembangan kawasan Pecinan Surabaya.

Sementara itu, Dr. Samidi, M.Hum., menguraikan sejarah kawasan Tugu Pahlawan. Sesi pertama dipandu Dr. Gayung Kasuma, M.Hum., sebagai moderator.

Pada sesi kedua, pembahasan berlanjut dengan mengangkat sejarah kawasan Tunjungan dan Ampel. Edy Budi Santoso, S.S., M.A., menyampaikan materi mengenai perkembangan kawasan Tunjungan, sedangkan Arya Wanda Wirayuda, S.Hum., M.A., memaparkan sejarah kawasan Ampel. Sesi tersebut dipandu Drs. Muryadi, M.Si.

Melalui pemaparan tersebut, para peserta memperoleh tambahan pengetahuan mengenai perkembangan kawasan bersejarah Surabaya, termasuk konteks sejarah yang dapat digunakan untuk memperkaya narasi saat mendampingi wisatawan.

Kegiatan berlangsung hingga pukul 14.30 WIB.

Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini juga menjadi bagian dari implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-11 tentang kota dan komunitas yang berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities).

Sejarah kawasan dan bangunan bersejarah merupakan bagian dari warisan budaya yang menyimpan memori kolektif masyarakat. Pengetahuan tersebut perlu terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya agar identitas dan perjalanan sejarah kota tidak terputus oleh perubahan zaman.

Pemandu wisata lokal memiliki peran strategis dalam proses pewarisan tersebut. Melalui penjelasan yang akurat, komunikatif, dan menarik, mereka dapat membantu wisatawan memahami bahwa kawasan bersejarah bukan sekadar tempat untuk dikunjungi, melainkan ruang yang merekam perjalanan sosial, budaya, ekonomi, dan politik masyarakat Surabaya.

Penguatan kapasitas pramuwisata diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengalaman wisata sekaligus memperluas apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya kota.

Pada saat yang sama, pengembangan pariwisata berbasis sejarah dan cagar budaya juga berpotensi membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi kreatif lokal. Dengan demikian, upaya merawat memori kolektif Surabaya tidak hanya berkaitan dengan pelestarian masa lalu, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi membangun masa depan kota yang berkelanjutan.(*)

Kontributor: Abdel Rafi 

Editor: Umar Faruq