
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Sebuah restoran atau kafe yang baik tidak hanya dinilai dari kelezatan makanan, desain interior, maupun harga yang ditawarkan. Ada hal lain yang tidak kalah penting, yakni bagaimana pengelola memahami, mendengarkan, dan menghargai kebutuhan setiap pelanggan.
Hal itulah yang menarik dari perkembangan Borre Cafe, salah satu destinasi kuliner di kawasan Jalan Raya Dharmahusada Indah No 4/A-8 Mojo, Gubeng, Surabaya. Setelah sekitar empat tahun beroperasi, kafe ini melakukan sejumlah pembaruan, mulai dari penataan interior hingga peningkatan fasilitas untuk memberikan pengalaman yang lebih nyaman bagi pengunjung.
Salah satu pembaruan yang patut mendapat perhatian adalah tersedianya musala yang dilengkapi tempat wudhu terpisah dari toilet.
Bagi sebagian pelanggan muslim, fasilitas tersebut bukan sekadar pelengkap sebuah tempat usaha. Keberadaan ruang ibadah yang layak, bersih, dan mudah diakses merupakan bagian penting dari kenyamanan ketika menghabiskan waktu di luar rumah, termasuk saat menikmati makanan bersama keluarga, bertemu teman, maupun melakukan aktivitas pekerjaan.
Kehadiran fasilitas ini sekaligus memperlihatkan pentingnya mendengarkan aspirasi pelanggan. Sebab, dalam bisnis kuliner yang semakin kompetitif, memahami kebutuhan konsumen merupakan bagian dari upaya membangun kepercayaan dan loyalitas.
Perkembangan Borre Cafe menarik dilihat dari bagaimana sebuah usaha kuliner tidak berhenti pada penyediaan makanan dan minuman, tetapi juga memperhatikan pengalaman pengunjung secara menyeluruh.
Pembenahan interior dan penambahan fasilitas menjadi bagian dari upaya menghadirkan suasana yang lebih nyaman. Sementara itu, keberadaan musala dengan tempat wudhu terpisah memberikan nilai tambah bagi pelanggan yang membutuhkan fasilitas ibadah.
Dalam konteks masyarakat perkotaan seperti Surabaya, kebutuhan terhadap tempat kuliner yang mampu mengakomodasi beragam aktivitas dan kebutuhan pengunjung semakin relevan.
Pengunjung tidak selalu datang hanya untuk makan. Ada yang ingin bekerja, mengadakan pertemuan, berkumpul bersama keluarga, atau menghabiskan waktu bersama komunitas.
Karena itu, perhatian terhadap fasilitas pendukung menjadi salah satu faktor yang dapat membedakan sebuah kafe dari tempat kuliner lainnya.
Keramahan yang Dimulai dari Area Parkir
Menariknya, pengalaman positif pelanggan di Borre Cafe bahkan dimulai sebelum mereka memasuki area restoran.
Salah seorang pengunjung bernama Bustomi mengaku terkesan dengan sikap petugas parkir yang tetap menyambutnya dengan senyum, sopan, dan ramah meskipun datang menggunakan sepeda motor dengan penampilan sederhana.
Ia menceritakan bahwa keramahan petugas parkir itu memberikan kesan tersendiri. Baginya, pelayanan seharusnya tidak membedakan pelanggan berdasarkan penampilan ataupun kendaraan yang digunakan.
“Resto baru, pak parkirnya ramah, sopan dan senyum,” ujarnya, Minggu (8/11/2026).
Pengalaman sederhana itu menjadi gambaran bahwa kualitas pelayanan sebuah bisnis tidak hanya ditentukan oleh staf yang berhadapan langsung dengan pelanggan di dalam restoran. Petugas parkir pun memiliki peran penting dalam membangun kesan pertama.
Apresiasi serupa juga disampaikan pelanggan lainnya yang menilai staf Borre Cafe ramah, informatif, responsif, dan sigap membantu kebutuhan pengunjung.
Bagi bisnis jasa, keramahan seperti ini sering kali menjadi pengalaman yang membuat pelanggan ingin kembali.
Tentu saja, pengalaman bersantap tetap menjadi bagian utama yang ditawarkan Borre Cafe.
Dari sisi menu, kafe ini menyediakan pilihan hidangan yang cukup beragam, mulai dari Western, Italia, Jepang, hingga Nusantara.
Sejumlah menu yang mendapat respons positif dari pelanggan antara lain Gyudon, Salmon Teriyaki, Yakiniku Beef, Caesar Salad, Chicken Salad, Pizza, dan Spaghetti Mushroom Alfredo.
Untuk hidangan penutup, French Toast dan Creme Brulee juga menjadi beberapa pilihan yang menarik perhatian pengunjung.

Salah seorang pelanggan secara khusus merekomendasikan Spaghetti Mushroom Alfredo karena cita rasanya yang dinilai lezat. Sementara Yakiniku Beef dengan harga terjangkau mendapat apresiasi karena porsinya dinilai memuaskan.
Pilihan minuman juga cukup bervariasi, mulai dari Americano, Earl Grey Tea, Butterscotch Latte, hingga Ginger Alaska.
Berdasarkan pengalaman sejumlah pengunjung, anggaran sekitar Rp50.000 hingga Rp80.000 per orang dapat menjadi gambaran untuk menikmati hidangan di tempat ini, bergantung pada pilihan makanan dan minuman.
Menariknya, ulasan pelanggan juga memperlihatkan pengalaman yang beragam. Ada yang memberikan apresiasi tinggi terhadap Creme Brulee, sementara pengunjung lainnya memiliki catatan mengenai tekstur karamel pada hidangan penutup tersebut.
Masukan semacam ini menjadi bagian dari dinamika pengalaman konsumen yang dapat dimanfaatkan pengelola untuk terus meningkatkan kualitas produk.
Bukan Sekadar Tempat Nongkrong
Dari sisi suasana, Borre Cafe menawarkan area indoor dan outdoor dengan penataan interior yang estetik. Pengunjung dapat memilih tempat duduk sesuai kebutuhan, mulai dari sofa hingga meja makan reguler.
Area yang luas juga memberikan keleluasaan bagi pelanggan yang datang bersama keluarga maupun rombongan.
Bagi pekerja profesional, mahasiswa, dan komunitas, fasilitas yang tersedia turut mendukung aktivitas work from cafe (WFC).
WiFi gratis, ruangan berpendingin udara, serta ketersediaan stopkontak di sejumlah meja menjadi fasilitas yang mendapat apresiasi pelanggan. Beberapa pengunjung menilai suasana tempatnya cukup mendukung untuk bekerja menggunakan laptop, mengerjakan tugas, maupun sekadar berbincang santai.

Borre Cafe juga memiliki ruang yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, seperti meeting, gathering perusahaan, pertemuan komunitas, hingga acara lainnya.
Dari sisi kenyamanan keluarga, sejumlah pengunjung memberikan apresiasi terhadap ketersediaan kursi, pilihan menu yang beragam, suasana ramah anak, serta musik yang tidak terlalu keras sehingga percakapan tetap nyaman.
Kebersihan toilet dan luasnya area parkir untuk kendaraan roda dua maupun roda empat juga menjadi beberapa aspek yang disebut positif dalam ulasan pelanggan.
Meski memperoleh banyak respons positif, pengalaman pelanggan tidak selalu seragam.
Beberapa pengunjung memberikan catatan mengenai suhu pendingin ruangan yang dirasakan kurang optimal di sejumlah area. Ada pula masukan terkait beberapa menu yang belum sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi.
Namun, justru keterbukaan terhadap kritik dan evaluasi menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis kuliner.
Setiap ulasan pelanggan dapat menjadi sumber informasi untuk mengetahui bagian mana yang sudah berjalan baik dan bagian mana yang masih perlu ditingkatkan.
Dalam persaingan bisnis F&B, keunggulan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang memiliki tempat paling besar, menu paling banyak, atau interior paling menarik. Kemampuan membangun hubungan dengan pelanggan melalui pelayanan dan perhatian terhadap kebutuhan mereka juga memiliki arti penting.
Menghargai Pelanggan adalah Investasi Jangka Panjang
Kisah perkembangan Borre Cafe memberikan gambaran bahwa bisnis kuliner memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar transaksi antara penjual dan pembeli.
Pelanggan datang membawa kebutuhan dan ekspektasi yang berbeda. Ada yang mencari makanan berkualitas, tempat nyaman untuk bekerja, ruang berkumpul bersama keluarga, fasilitas pertemuan, hingga tempat untuk menunaikan ibadah.

Ketika kebutuhan tersebut diperhatikan, sebuah kafe tidak lagi hanya menjadi tempat membeli makanan dan minuman, tetapi juga ruang publik yang memberikan pengalaman bagi masyarakat.
Pembaruan fasilitas, termasuk kehadiran musala dengan tempat wudhu terpisah dari toilet, menjadi salah satu contoh perhatian terhadap kebutuhan pengunjung.
Pelanggan mungkin datang karena tertarik dengan menu makanan atau desain interior. Namun, pengalaman merasa dihargai, dilayani dengan ramah, dan diperhatikan kebutuhannya dapat menjadi alasan tersendiri untuk kembali. Dan dalam bisnis kuliner, perhatian terhadap hal-hal yang tampak sederhana itulah yang terkadang justru meninggalkan kesan paling mendalam.(*)
Kontributor: Abdel Rafi
Editor: Umar Faruq








