
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Sukses di usia muda bukan semata-mata tentang memiliki kekayaan, jabatan, popularitas, atau penampilan menarik. Ada modal yang jauh lebih mendasar untuk meraih kesuksesan sekaligus memberikan manfaat bagi sesama, yakni iman, ilmu, amal, dan akhlak.
Pesan tersebut disampaikan pendakwah muda Ustadz Syam El Marussy atau yang dikenal sebagai Ustadz Syam dalam Majelis Subuh GenZI (MSG) episode ke-30 di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Minggu (8/11/2026) pagi.
Di hadapan sekitar 1.000 peserta Generasi Z Islami (GenZI) dan GenZIta (GenZI Wanita), Ustadz Syam mengangkat tema “GenZI, Berkarya untuk Negeri”. Ia mengajak generasi muda Islam untuk membangun kesuksesan sejak dini dengan menjadikan kebermanfaatan bagi orang lain sebagai ukuran utama.
Mengawali ceramahnya, dai yang dikenal melalui dakwah di stasiun televisi Trans TV tersebut membagikan pengalaman perjalanan kariernya. Ia mengaku sudah mendapat kesempatan berceramah di televisi ketika berusia 19 tahun. Namun, perjalanan menuju kesempatan itu tidak selalu berjalan mulus.
“Ada yang mau sukses sebelum usia 30 tahun? Saya bisa ceramah di stasiun televisi (Trans TV) pada usia 19 tahun dan sampai usia 34 tahun sekarang. Awalnya, usia 18 tahun sudah dipanggil stasiun televisi itu tapi gagal, karena diusir satpam karena pakai sandal,” katanya.
Kisah tersebut menjadi pengantar bagi Ustadz Syam untuk menjelaskan bahwa kesuksesan tidak datang begitu saja. Selain kesempatan dan kerja keras, seseorang membutuhkan fondasi nilai yang kuat agar keberhasilan yang diraih tidak kehilangan makna.
Mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, ia menegaskan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain.
“Kata Nabi, Khoirunnas Anfauhum Linnas, artinya sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Jadi, ukuran sukses atau mulia itu bukan jabatan, kekayaan, kecantikan atau ketampanan, dan keturunan, tapi ukurannya bisa bermanfaat untuk orang lain,” katanya.
Untuk memudahkan generasi muda memahami empat modal kesuksesan tersebut, Ustadz Syam menggunakan analogi sebuah pohon yang terdiri atas akar, batang, daun, dan buah.
Menurut dia, akar menggambarkan iman, batang melambangkan ilmu, daun merepresentasikan amal, sedangkan buah menjadi simbol akhlak. Keempat unsur tersebut saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan.
“Kalau punya iman, ilmu, amal, dan akhlak, pasti bermanfaat bagi orang lain,” katanya.
Pertama, iman menjadi fondasi utama agar seseorang tidak kehilangan arah dalam mengejar kesuksesan. Menurut Ustadz Syam, kekayaan tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan karena ada orang beriman yang kaya seperti Nabi Sulaiman dan Dzulqarnain. Sebaliknya, ada pula sosok yang kaya tetapi tidak beriman, seperti Raja Namrud dan Qorun.
“Jadi, kaya itu bukan membuat kita dikagumi, karena ada yang lebih kaya dari kita, apakah beriman atau tidak,” katanya.
Ia menjelaskan, keimanan membuat seseorang mempertimbangkan setiap tindakan berdasarkan nilai kebaikan, pahala, dosa, serta keyakinan terhadap kehidupan setelah kematian.
“Kalau ukurannya kaya, maka orang akan bisa menghalalkan segala cara dengan mencuri, korupsi, suap, dan cara-cara jahat lainnya, padahal Nabi Sulaiman lebih kaya dan punya iman. Jadi, modalnya iman, bukan kaya,” katanya.
Kedua, ilmu menjadi modal penting untuk menghasilkan karya yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ustadz Syam mencontohkan inovasi aplikasi HaloBaz yang dikembangkan anak-anak muda di lingkungan Baznas Jawa Timur sebagai salah satu bentuk pemanfaatan ilmu dan kreativitas.
Di era digital, menurut dia, generasi muda juga memiliki peluang luas untuk berdakwah dan menyebarkan pengetahuan agama melalui berbagai platform media sosial.
“Dengan ilmu, orang bisa sukses, karena ada karya untuk orang lain, seperti Baznas Jatim yang punya aplikasi HaloBaz dari karya anak-anak muda yang ada di sana. Atau, GenZI/GenZIta juga bisa dakwah dengan enak di era digital dengan share clipper tentang ilmu agama dari penceramah yang diminati,” katanya.
Ketiga, ilmu harus diwujudkan melalui amal agar tidak berhenti sebagai pengetahuan semata. Ilmu yang dimiliki seseorang perlu diterapkan dan disebarkan dengan cara yang benar sehingga menghasilkan dampak positif bagi orang lain.
“Kalau ilmu yang buruk akan mencelakai orang lain, seperti penyadapan. Tapi, kalau ilmu yang baik dan disebarkan, maka akan memberi efek pada orang yang menjadi lebih baik,” katanya.
Keempat, akhlak menjadi modal yang tidak kalah penting. Menurut Ustadz Syam, akhlak menentukan bagaimana seseorang menggunakan ilmu, memperlakukan orang lain, serta menghadapi berbagai ujian kehidupan.
“Dengan akhlak, ilmu yang dibagi adalah ilmu yang baik. Dengan akhlak juga, orang bisa menghadapi ujian dengan sabar. Nabi sendiri bisa sabar saat dilempari kotoran, karena akhlak menjadi tameng ujian. Bahkan, Nabi mengatakan orang paling dekat dengannya kelak adalah orang yang berakhlak dan sering bersholawat,” katanya.
Gen Z dan Tantangan Berkarya untuk Negeri
Pesan Ustadz Syam tersebut menjadi relevan di tengah perkembangan zaman yang membuka semakin banyak peluang sekaligus tantangan bagi generasi muda. Kemajuan teknologi dan ruang digital memungkinkan Gen Z menghasilkan karya, membangun jejaring, serta menyebarkan gagasan tanpa dibatasi ruang dan waktu.
Namun, kemampuan dan kreativitas tersebut perlu disertai landasan moral agar kemajuan yang dicapai tidak sekadar berorientasi pada pencapaian pribadi.
Melalui Majelis Subuh GenZI episode ke-30, pesan yang disampaikan Ustadz Syam menegaskan bahwa generasi muda tidak cukup hanya mengejar kesuksesan untuk dirinya sendiri. Mereka juga ditantang menghadirkan karya dan kontribusi yang membawa manfaat bagi masyarakat dan negeri.
Majelis ilmu tersebut diawali dengan Sholat Subuh berjamaah dan Khotmil Qur’an, sebelum dilanjutkan dengan tausiyah yang diikuti sekitar 1.000 peserta.
Empat modal yang disampaikan Ustadz Syam pada akhirnya bermuara pada satu pesan sederhana: kesuksesan sejati bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang mencapai cita-citanya, tetapi juga seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








