
MALANG, CAKRAWARTA.com – Bagi sebagian orang, kota Malang meninggalkan kesan. Umumnya mereka terkesan dengan kesejukannya, makanan dan keramahan orangnya. Meski berbeda dengan Yogyakarta, kota ini adalah pusat pendidikan, industri jasa dan wisata yang sangat mumpuni di Jawa Timur.
Hari ini, (1/4/2026) adalah hari jadi kota Malang ke-112. Malang punya sejarah panjang sejak abad ke 8, berakar dari Kerajaan Kanjuruhan. Wilayah ini berkembang pesat pada masa kolonial Belanda dan resmi menjadi Kotapraja (Gemeente) pada April 1914, lepas dari Kabupaten Malang.
Sebenarnya lanskap tata kota Malang hampir sama dengan Bandung karena diarsiteki oleh orang yang sama yaitu Herman Thomas Carsten. Mula-mula ia merancang kota Malang pada tahun 1930 sampai tahun 1935. Konsep yang mirip, diterapkan saat merancang kota Bandung pada tahun 1940-1041. Hasilnya memang serupa tapi tak sepenuhnya sama, yaitu berkonsep garden city (kota taman) yang memadukan arsitektur Barat dengan karakteristik lokal, menghasilkan suasana sejuk, rapi, dan ruang terbuka yang melimpah.
Selain itu, kota Malang yang terkenal dengan kata mbois (keren) dan bahasa walikan ini, punya banyak hal. Kuliner misalnya. Malang identik dengan bakso Malangnya. Sama dengan pedagang jamu dari kota Solo, pedagang bakso asal Malang, tersebar di seluruh pelosok tanah air.
Namun ada satu kuliner yang juga terkenal dan lekat diingatan karena identik dengan kota Malang yaitu Rawon. Ada Rawon Brintik yang tercatat sebagai rawon tertua karena bediri sejak tahun 1942, ada Rawon Djenggot yang berdiri sejak tahun 1970 dan terkenal dengan potongan dagingnya yang cukup besar, Rawon Tessy yang gampang ditemui para pelancong karena ada di Stasiun Malang Baru, Rawon Rampal dan Rawon Nguling.
Namun ada satu rawon yang cukup legendaris dan sampai kini dicari oleh banyak orang karena kenikmatan rasanya yaitu Rawon Mak Cem di jl Yulius Usman nomor 52 Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Saat itu, warung didominasi warna putih dan biru.

Warung Soto dan Rawon yang berdiri sejak tahun 1954 ini didirikan oleh Kiroman dan Mak Cem ini telah lama menjadi jujugan (tujuan) setelah para pekerja mendapat gaji, atau para pensiunan yang mentraktir para cucu mereka setelah menerima uang pensiun.
Hidangan yang disediakan sebenarnya mirip dengan warung lainnya namun cara Mak Cem mengolahnya sangat istimewa. Ada soto dan rawon lalu ada kare ayam, ayam goreng dan panggang, nasi sop, nasi gule serta nasi campur. Yang cukup menyenangkan, warung menyediakan lauk tambahan seperi sate jerohan, tempe, empal dan lain-lain yang disediakan permeja sehingga tamu warung bisa mengambil sesuai selera. Harganyapun sesuai dengan rasa yang kita dapat yaitu sekitar 20 ribu rupiah ke atas.
“Saya sering ke sini bersama almarhum ayah sehabis mengambil pensiun, “ kata Hesti asli Malang yang saat ditemui, Rabu (1/4/2026) bersama sanak saudara dari Surabaya. Menurut Hesti, setelah Mak Cem wafat tahun 80-an, warung itu masih diteruskan oleh juru masaknya namun saat sang juru masak meninggal beberapa tahun lalu, sempat diteruskan oleh sang anak.

Namun kemudian, warung itu berpindah kepemilikan ke orang lain namun tidak meninggalkan rasa otentiknya. Nama warungpun dipertahankan yaitu Warung Kiroman Mak Cem (sejak 1954) dengan dominasi warna kuning.
“Bagian eksterior warung yang dulu dominan warkna biru, dipoles menjadi warna kuning. Lalu ada kanopi untuk pengunjung yang tidak kebagian makan di dalam warung, sehingga bisa menampung banyak orang “ kata Hesti. Menurut Hesti, sang anak juru masak warung Mak Cem tidak lagi bergabung di warung jl Julius Usman namun mendirikan warung serupa yang dinamai warung soto dan rawon Kiroman Umi Jazilah di jl Nusa Kambangan. “Rasanya hampir sama,” kata Hesti yang sangat paham lika liku warung Mak Cem karena merupakan langganan sejak puluhan tahun lalu.
Minuman yang tersedia di warung Kiroman juga nikmat dan otentik antara lain es beras kencur, es dawet, es soda gembira, teh, kopi dan jeruk hangat. Warung ini buka mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB.(*)
Kontributor: Indah W
Editor: Abdel Rafi



