Bukan Sekadar Ngopi, Diskusi Kopi Jadi Ruang Nugas Anak Muda Surabaya

Suasana di bagian dalam saat anak-anak muda Surabaya hangout bersama teman mereka di Diskusi Kopi Surabaya, Kamis (30/72026) malam. (foto: Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Bagi sebagian anak muda, kedai kopi bukan lagi sekadar tempat menikmati secangkir kopi. Laptop, colokan listrik, koneksi internet, suasana nyaman, hingga jam operasional menjadi pertimbangan ketika memilih tempat untuk mengerjakan tugas, bekerja dari kafe (work from cafe/WFC), atau sekadar bertemu teman alias hangout.

Suasana itu coba ditawarkan “Diskusi Kopi: Bakery & Eatery” di Jalan Prof. DR. Moestopo Nomor 4, Surabaya. Lokasinya berada tidak jauh dari Universitas Airlangga Kampus A dan B, serta berseberangan dengan Rumah Sakit Husada Utama. Kedai ini juga berada di sekitar Fakultas Ketahanan Pangan Unesa, SMAN 4 Surabaya, PDAM, dan RS Dr. Soetomo.

Kedekatan dengan kawasan kampus dan sejumlah fasilitas publik membuat “Diskusi Kopi” menjadi salah satu pilihan bagi pengunjung yang membutuhkan tempat untuk mengerjakan tugas, bekerja menggunakan laptop, maupun menghabiskan waktu bersama teman.

Sejumlah pengunjung menilai lokasi strategis dan suasana nyaman menjadi daya tarik utama. Laura, dosen muda Universitas Airlangga, menyebut lokasi “Diskusi Kopi” strategis dengan suasana yang terasa “hommy”. Jam operasional yang dimulai sejak pagi juga dinilai mendukung kebutuhan pengunjung.

Suasana Minggu (16/8/2026) pagi di bagian dalam Diskusi Kopi. (foto: Cakrawarta)

Bagi pengunjung yang datang untuk bekerja atau mengerjakan tugas, fasilitas menjadi bagian penting. “Diskusi Kopi” menyediakan cukup banyak colokan listrik yang memungkinkan pengunjung menggunakan perangkat elektronik dalam waktu relatif lama. Toilet juga dinilai bersih, sementara musala dilengkapi pendingin udara.

“Tempatnya cozy, dingin dan enak buat WFC-an, all menu are recommended!” ujar Bunga Salwa, salah seorang pengunjung.

Pengunjung lain menilai kedai tersebut tidak hanya nyaman untuk bekerja, tetapi juga cocok untuk bersantai hingga malam.

“Kopi enak. Makanannya makanan Indonesia level hotel tapi harga kafe. Enak buat WFH atau sekadar nongkrong sore sampai malam,” kata seorang pengunjung.

Selain fasilitas kerja, suasana kedai menjadi bagian lain yang mendapat perhatian. “Diskusi Kopi” menyediakan area dalam ruangan dan area luar di bagian belakang. Area luar tersebut memang terbatas, tetapi tetap dapat digunakan untuk bersantai. Sementara area depan yang berada di sisi jalan raya dinilai menarik untuk menikmati suasana pada pagi, sore, maupun malam hari.

Minuman Licimin dan Nasi Campur Paru, salah satu menu favorit pengunjung di Diskusi Kopi sebagaimana ia pesan pada Minggu (16/8/2026) pagi. (foto: Cakrawarta)

Konsep kedai juga diperkuat dengan keberadaan buku dan informasi bacaan yang dapat dinikmati pengunjung. Pengelola bahkan berencana menyediakan buku yang dapat dibeli.

Dari sisi menu, pilihan makanan dan minuman menjadi bagian yang membuat pengunjung tidak hanya datang untuk bekerja atau nongkrong. Salah satu pengunjung menyebut Yakult Liciminnya dan Mie Yamin Suramadu sebagai menu favorit.

Kombinasi antara makanan, minuman, fasilitas dan suasana membuat fungsi kedai berkembang menjadi ruang aktivitas. Pengunjung bisa datang untuk mengerjakan tugas kuliah, membuka laptop untuk bekerja, membaca, atau bertemu teman tanpa harus meninggalkan kebutuhan untuk makan dan minum.

Anak muda Surabaya saat nugas di Diskusi Kopi’ Surabaya, Senin (13/7/2026). (foto: Cakrawarta)

Konsep tersebut juga terlihat dari jam operasional “Diskusi Kopi”. Pengelola sebelumnya menerapkan konsep buka 24 jam. Namun, setelah mengevaluasi pola kunjungan, jam operasional kemudian disesuaikan.

Pemilik “Diskusi Kopi”, Dimas, mengatakan pada hari kerja, Senin-Jumat, kedai kini buka mulai pukul 07.00 hingga 01.00 WIB. Sementara pada akhir pekan, Sabtu-Minggu, kedai beroperasi mulai pukul 06.00 hingga 02.00 WIB.

“Setelah dievaluasi dalam waktu-waktu terbaik maka kami buka tutup weekdays (Senin-Jumat) pukul 07.00-01.00 WIB. Sementara weekend (Sabtu-Minggu) buka tutupnya jam 06.00-02.00 WIB,” ujar Dimas.

Dengan demikian, konsep awal buka 24 jam tidak lagi diterapkan. Evaluasi tersebut dilakukan untuk menyesuaikan jam operasional dengan waktu yang dinilai paling efektif berdasarkan pola kunjungan.

Meski begitu, perubahan jam operasional sempat menjadi perhatian sebagian pengunjung. M. Iqbal, misalnya, mengaku menyukai suasana “Diskusi Kopi” yang nyaman, tetapi mempertanyakan pengalaman ketika diminta keluar sekitar pukul 01.00.

Tommy, salah satu pengunjung tetap Diskusi Kopi suka menikmati suasana di kafe ini dengan membaca buku yang tersedia di kafe ini, Minggu (16/8/2026). (foto: Cakrawarta)

“Iya tempatnya enak, cozy, tapi kalau memang open 24 jam kenapa jam 1 dini hari saya diminta keluar?” ujarnya.

Bagi anak muda dan mahasiswa di Surabaya, keberadaan ruang seperti “Diskusi Kopi” menunjukkan perubahan fungsi kedai kopi. Tempat ngopi kini tidak hanya menjadi ruang konsumsi, tetapi juga ruang produktivitas, pertemuan, dan interaksi sosial.

Di tengah aktivitas kampus dan ritme kerja yang semakin fleksibel, kedai yang menyediakan tempat nyaman, colokan, makanan, minuman, serta ruang untuk duduk berlama-lama memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar tempat membeli kopi.

“Diskusi Kopi” mencoba mengambil ruang tersebut yakni menjadi tempat untuk menyelesaikan tugas, bekerja dari kafe, membaca, atau sekadar nongkrong bersama teman dan tentunya, dengan suasana yang dirancang agar pengunjung bisa melakukan lebih dari satu aktivitas dalam satu kunjungan.(*)

Kontributor: Abdel Rafi 

Editor: Umar Faruq