
TANGERANG SELATAN, CAKRAWARTA.com – Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Asrorun Ni’am Sholeh mengingatkan agar perbedaan pandangan menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama tidak berkembang menjadi perpecahan. Perbedaan, menurut dia, harus dikelola melalui musyawarah dan kebijaksanaan untuk menemukan titik temu.
“Setajam apa pun perbedaan, selama tidak memilih jalan perpecahan dan memisahkan diri, selalu ada jalan keluar. Solusi memang tidak selalu ideal bagi semua pihak, tetapi di situlah pentingnya mencari titik temu,” kata Ni’am di Tangerang Selatan, Rabu (15/7/2026) dini hari.
Pernyataan itu disampaikan Ni’am dalam kegiatan istighotsah dan nonton bersama yang digelar Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU) di Graha Aswaja PCNU Kota Tangerang Selatan.
Ni’am, yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat MA IPNU, mengatakan, perbedaan pandangan merupakan keniscayaan dalam sebuah organisasi. Tradisi NU, kata dia, menyediakan ruang untuk menyelesaikan perbedaan selama para pihak tetap mengedepankan persaudaraan dan kemaslahatan bersama.
Menurut Ni’am, persoalan organisasi tidak selalu dapat dilihat secara hitam-putih. Dalam satu persoalan, masing-masing pihak dapat memiliki sudut pandang yang dianggap benar berdasarkan konteks dan pertimbangannya.
Karena itu, ia meminta kader NU tidak melihat perbedaan sebagai ancaman terhadap organisasi.
“Perbedaan perspektif bukan ancaman, melainkan kekayaan yang harus dikelola menjadi energi persatuan,” ujarnya.
Ni’am juga menyinggung proses penetapan tuan rumah Muktamar NU sebagai salah satu contoh pengambilan keputusan melalui musyawarah.
Menurut dia, forum saat itu mempercayakan proses pengambilan keputusan kepada tujuh unsur pimpinan organisasi, yakni Rais Aam PBNU, Ketua Umum PBNU, Bendahara Umum, Ketua Steering Committee (SC), Ketua Organizing Committee (OC), Sekretaris SC, dan Sekretaris OC.
Mekanisme tersebut, menurut Ni’am, menunjukkan bahwa pengambilan keputusan organisasi tidak selalu harus diselesaikan melalui pemungutan suara. Dalam situasi tertentu, musyawarah untuk menemukan jalan tengah dinilai lebih mampu menjaga kebersamaan.
“Kalau hanya menggunakan hitung-hitungan suara, hasilnya sebenarnya sudah bisa diprediksi. Namun, yang dipilih bukan voting, melainkan mencari jalan keluar yang dapat diterima semua pihak. Di situlah letak hikmah dalam bermusyawarah,” kata dia.
Ni’am berpandangan, mekanisme pengambilan keputusan dalam organisasi merupakan wilayah ijtihad yang dapat disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan.
Pilihan menggunakan mekanisme ahlul halli wal aqdi, sistem perwakilan, ataupun mekanisme lainnya, kata dia, harus diletakkan dalam kerangka kepentingan organisasi dan kemaslahatan bersama.
“Semua merupakan ruang ijtihad yang harus disesuaikan dengan kebutuhan organisasi dan kemaslahatan bersama,” ujarnya.
Kontestasi Bukan Pertarungan
Menjelang Muktamar NU, Ni’am mengajak kader memandang kontestasi organisasi sebagai fastabiqul khairat atau berlomba dalam kebaikan. Kontestasi, menurut dia, tidak semestinya berubah menjadi pertarungan antar kelompok untuk saling menyingkirkan.
Ia mengatakan, kemenangan dalam organisasi tidak cukup dimaknai sebagai keberhasilan individu atau kelompok memperoleh posisi. Nilai persaudaraan, musyawarah, dan akhlak berorganisasi justru harus tetap menjadi pijakan utama.
“Yang kita perjuangkan adalah kemenangan ukhuwah, kemenangan musyawarah, kemenangan akhlak dalam berorganisasi, serta kemenangan nilai-nilai yang diajarkan para pendiri Nahdlatul Ulama,” kata Ni’am.
Menurut dia, seluruh elemen NU harus kembali berada dalam satu barisan setelah proses musyawarah dan kontestasi organisasi berakhir. Perbedaan pilihan tidak boleh menghambat pengabdian kepada organisasi dan umat.
“Pada akhirnya, kita akan tetap bersama. Kontestasi hanyalah bagian dari ikhtiar organisasi. Setelah keputusan diambil, kita kembali mengabdi untuk kemaslahatan umat dan menjaga persatuan Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
Ni’am menambahkan, persatuan menjadi modal penting bagi NU untuk melanjutkan khidmah dan menjaga kesinambungan perjuangan para pendiri organisasi.
Ia berharap Muktamar NU tidak semata-mata menjadi arena pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum untuk memperkuat kembali tradisi musyawarah dan persaudaraan di tengah perbedaan.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi








